
Tokyo, pukul satu siang...
Nara dan Ken dalam perjalanan pulang. Sang pemuda bermata biru ini tampak mengendarai mobil barunya. Ia berniat mengantarkan Ken sampai di rumah.
"Ken, kemarin Shena bilang padaku jika Rie meninggal dunia. Aku tidak tahu bagaimana kejadiannya setelah malam itu. Bisakah kau ceritakan padaku?" tanya Nara sambil membelokkan setir mobilnya ke kanan.
"Kau benar-benar ingin tahu?" Ken memastikan.
"Ya, aku ingin tahu. Kemarin kau hanya mengabarkan tentang ayahku. Aku tidak mengerti mengapa baru sekarang mendengar kabar ini, padahal kejadiannya sudah hampir dua minggu yang lalu," lanjut Nara kemudian.
"Hah, ya. Aku memang sengaja tidak memberi tahumu karena khawatir kau akan kepikiran." Ken mengembuskan napasnya.
"Memangnya apa yang terjadi, Ken?" tanya Nara yang memberhentikan mobilnya saat tiba di perempatan lampu merah.
"Rie mati dalam keadaan mengenaskan, Nara," tutur Ken lagi.
__ADS_1
"Apa?!" Nara pun terkejut, ia lihat saksama wajah temannya.
"Ya. Dia mati dalam keadaan kedua tangan terikat ke belakang dan keluar banyak busa dari mulutnya. Ayahku menemukannya dalam keadaan sekarat. Dan..."
"Dan?"
"Rie tidak sempat tertolong walau sudah dilakukan tindakan pertolongan pertama. Jasadnya kemudian dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Dokter kemudian membenarkan jika dia dibunuh." Ken menceritakan.
"Astaga." Nara mengusap kepalanya, ia kemudian kembali melajukan mobilnya setelah lampu hijau.
Nara terus melajukan mobilnya sambil membayangkan betapa mengenaskan akhir hidup Rie. Ia tidak menyangka jika Yudo benar-benar membunuhnya.
Rie, semoga kau tenang di alam sana. Aku sudah memaafkan kesalahanmu. Nara berucap dalam hati.
"Nara, bukannya kau sudah tahu jika Shena dan Rie saudara satu ayah?" tanya Ken kepada temannya yang diam saja.
__ADS_1
"Hm, ya. Aku sudah tahu. Dan aku amat menyesal, Ken." Nara menoleh ke arah Ken.
"Sudahlah. Apa yang sudah terjadi tidak perlu disesali. Melangkah saja ke depan, hari masih panjang." Ken menguatkan.
"Ya, tapi ... terkadang aku kepikiran sendiri," kata Nara lagi.
"Jadikan pembelajaran saja untuk ke depannya. Kita tidak akan selamanya remaja, suatu saat pasti menua. Jadi manfaatkan waktu sebaiknya sebelum masa tua datang." Ken menepuk pundak Nara.
"He-em. Terima kasih, Ken." Nara mengangguk seraya tersenyum ke arah Ken.
Nara menyadari jika Ken begitu peduli terhadapnya. Ken bahkan siap berkorban untuk membantu Nara melawan orang-orang suruhan Yudo. Dan untung saja keduanya selamat walaupun harus menjalankan operasi.
Persahabatan yang erat ternyata bukan hanya terjadi pada keduanya. Kakek Nara dan Ken pun ternyata bersahabat sejak lama. Dan memang keinginan kakek merekalah yang menginginkan Nara dan Ken sampai sedekat ini. Layaknya saudara yang dilahirkan dari satu rahim yang sama.
Nara kemudian mengantarkan Ken sampai di depan rumahnya. Ia pun segera berpamitan untuk bersiap-siap. Personil D'Justice akan mempersiapkan diri dan segala keperluan untuk tur esok hari, yang mana membuat Shena harus ditinggalkan karena tidak bisa berpergian jauh. Namun, ada Hima yang menemani Shena di rumah. Sehingga Nara tidak terlalu khawatir untuk menjalankan turnya.
__ADS_1