Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Tak Bermoral


__ADS_3

Sore harinya...


Nara mendapati kabar bahwa ayahnya telah kembali dari luar negeri. Segera saja ia menemui ayo yang tinggal di apartemen dengan menempuh jarak satu jam perjalanan menggunakan bus.


Ayahnya seorang eksekutif handal dalam bidang ekspor dan impor. Sehingga semua biaya hidup Nara masih ditanggung oleh ayahnya. Walaupun di hatinya membenci sang ayah, Nara berusaha menampikkan rasa benci itu demi kebutuhan hidup yang harus terpenuhi. Dan kini ia sudah tiba di depan apartemen ayahnya. Ia pun memencet bel apartemen itu.


"Siapa, ya?"


Shimura saat itu sedang bergumul bersama Rie di bawah selimut tebal berwarna putih. Ia merasa terusik dengan suara bel apartemennya yang berulang.


"Sebentar, Sayang. Aku lihat siapa yang datang. Tunggulah di sini."


Shimura segera bangkit dari atas tubuh Rie. Ia mengambil handuk bajunya lalu menuju pintu apartemen. Pintu apartemen yang terkunci itupun segera Shimura buka.


"Nara?!” Betapa terkejutnya ia saat mengetahui jika anak semata wayangnya yang datang.


"Ayah, aku datang menghampirimu. Apa kau sedang sibuk?" tanya Nara kepada ayahnya.

__ADS_1


Jantung Shimura berdegup kencang, keringat dingin mulai mengalir deras dari dahinya. Ia takut jika kebohongannya selama ini akan terbongkar. Terlebih sekarang ia sedang bersama dengan Rie, kekasih anaknya sendiri.


"Ayah, apa kau sakit?" tanya Nara, saat melihat raut wajah ayahnya yang tiba-tiba pucat.


Shimura tidak menyangka jika Nara lah yang datang. "Emmm, tidak Nara. Apa ayah melupakan sesuatu?" tanya Shimura lagi.


"Itu benar, Ayah. Kedatanganku kemari untuk meminta jatah bulanan yang sudah dua bulan tidak kau berikan. Bolehkah aku mendapatkannya?" tanya Nara dengan sopan.


"Astaga!"


Shimura memijat keningnya. Ia menyesal karena sampai lupa memenuhi kebutuhan putranya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan.


"Tak apa, Ayah. Aku tahu Ayah sibuk," balas Nara sambil tersenyum, menutupi kebencian di hatinya.


"Baiklah nanti ayah kirim, ya?" Shimura berniat untuk menutup pintu apartemennya.


"Ayah, apa aku tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam apartemenmu?" tanya Nara lagi.

__ADS_1


Sontak pertanyaan Nara membuat Shimura gugup seketika.


"Ayah, aku masuk saja, ya?" Nara berusaha masuk ke dalam apartemen ayahnya.


"Tunggu, Nara!" Shimura segera menahan tubuh Nara yang ingin masuk ke dalam apartemennya.


"Ayah, ada apa? Mengapa aku tidak boleh masuk?" tanya Nara lagi.


Shimura bingung bukan main, ia merasa amat cemas. Jika Nara masuk ke dalam apartemennya, perselingkuhannya akan segera diketahui oleh Nara. Karena setahu Nara selama ini, perceraian yang terjadi disebabkan oleh ibunya yang berselingkuh dan bermain di belakang ayahnya.


"Emmm, begini ... ayah ...."


Shimura berpikir keras, alasan apa yang akan ia berikan kepada sang anak yang sudah jauh-jauh datang menemuinya. Sementara Nara masih menunggu jawaban dari ayahnya.


Wajah gugup, lidah berkeluh dan detak jantung yang tidak stabil, membuat Shimura kelabakan atas kedatangan sang anak. Keringat dingin pun mulai membasahi dahinya. Ia terus saja mencari cara agar Nara segera pergi.


"Ayah, Ayah sedikit aneh. Ada apa sebenarnya, Yah?" tanya Nara seraya memandangi wajah ayahnya.

__ADS_1


"Nara, em ...."


Shimura menundukkan wajahnya sambil tetap memegang kedua pundak Nara. Menahan sang anak agar tidak memasuk ke dalam apartemennya itu.


__ADS_2