
Di kantor Sony Music Entertainment Jepang...
Beberapa saat kemudian, Ken dan personil lainnya sampai di kantor label rekaman. Sedang Hima menunggu di lobi kantor karena tidak mempunyai kepentingan. Ia menunggu sambil membuka menu ponselnya.
"Eh, status Hana galau?"
Ia melihat status jejaring sosial milik Hana yang menyiratkan kegalauan. Ia pun mencari tahu lebih lanjut tentang hal ini. Ia segera mengechat Hana yang sedang bekerja di kedai milik Shena.
Keingintahuan Hima amat besar karena ia tidak menunggu Shena di detik-detik terakhirnya. Setelah ditetapkan Shena meninggal, ia juga belum sempat berbicara empat mata dengan Hana. Hana seperti menutup dirinya sehingga membuat Hima tidak enak hati jika banyak bertanya kepadanya. Dan siang ini ia berusaha mencari tahu tentang Hana kepada Ryuuto. Iapun chatting singkat dengan calon bosnya itu.
Lain Hima lain juga dengan ketiga personil D'Justice. Mereka kini duduk di ruangan Hata, yang mana Hata segera menyampaikan kabar perihal Nara.
"Pihak owner memintaku untuk memutus kontrak Nara." Hata segera masuk ke inti pembicaraan.
"Apa?!" Seketika Ken, Cherry dan Sai pun terkejut.
"Ya, aku sudah mendapat surat agar membatalkan kontraknya. Dan aku juga diminta agar Nara menandatangani surat ini." Hata memberikan selembar surat pernyataan kepada kapten band, Ken.
__ADS_1
Ken mengambilnya dan segera membaca isi surat pernyataan tersebut. "Manajer, apakah tidak ada cara lain? Nara amat dibutuhkan di band ini. Ini tidak mungkin." Ken keberatan.
Hata menghela napasnya, seperti beban berat tengah dipikul olehnya.
"Di dalam surat ini pihak Sony Music yang membatalkan kontrak dengan Nara. Tapi, kenapa Nara yang harus menandatangani surat pernyataan pengunduran diri dari D'Justice?" Ken terheran sendiri.
Sai pun ikut membaca surat tersebut.
"Benar, Manajer. Ini seperti permainan politik. Nara sedang terkena musibah dan kini berada di sel tahanan. Apakah tidak ada keringanan untuknya?" Sai ikut membela.
"Astaga ...."
Seketika Sai memegang kepalanya karena merasa pusing. Ia tidak menyangka jika Nara akan tertimpa hal ini.
Ya Tuhan, mengapa musibah datang bertubi-tubi padanya? Sebenarnya kesalahan apa yang telah dia perbuat sampai seperti ini?
Sai bertanya-tanya sendiri dalam hati.
__ADS_1
"Manajer, jika memang pihak owner yang menginginkan Nara keluar dari label rekaman, kenapa kita tidak coba meminta bantuan Gabril akan hal ini? Dia kan anak bungsu dari pemilik label rekaman, dia juga dekat dengan Nara. Mungkin Nara bisa mendapat dispensasi karenanya." Cherry ikut bicara.
"Benar. Kita bisa meminta bantuan Gabril, Manajer." Ken menyetujui.
"Hm..." Hata berpikir.
"Aku setuju, Manajer." Sai ikut menyetujui.
"Baiklah. Tidak ada salahnya dicoba. Kita coba saja dulu. Mungkin Cherry bisa membicarakan hal ini kepada gadis itu." Hata lalu memberikan nomor Gabril kepada Cherry.
Ketiga personil D'Justice memikirkan jalan keluar atas masalah yang menimpa temannya. Mereka berharap Gabril bisa meluluhkan hati Michael agar menarik kembali surat pemutusan kontrak terhadap Nara. Ketiganya tidak ingin Nara dideportasi dari pihak label rekaman. Bagaimanapun mereka telah berjuang bersama dari awal, tentunya sangat menyakitkan jika setelah dipuncak Nara harus disingkirkan.
Permasalahan yang menimpa Nara seperti berbuntut panjang. Sebagai teman terdekat Nara, Ken juga merasa sedikit heran dengan musibah beruntun ini. Dari kematian Rose, Rie, hingga Shena yang paling disayangi temannya. Nara pun harus mendekam di sel tahanan karena kejadian yang telah berlalu. Dan kini sang gitaris D'Justice harus menerima surat pembatalan kontrak dari pihak label rekaman. Sungguh tak bisa Ken bayangkan bagaimana perasaan Nara saat menerima musibah beruntun ini.
Aku masih berharap ada jalan keluar untuknya. Semoga saja Nara bisa melewatinya.
Ken berdoa dalam hati.
__ADS_1