Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Pria Buruk


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Pukul 11.30 malam, waktu Tokyo dan sekitarnya. Terlihat Ken yang tengah berdiri di depan mobilnya sambil terus menelepon sang teman, Nara Shimura.


"Ke mana dia?"


Setiap kali dihubungi, selalu saja sambungan telepon itu terputus sendiri. Ken bertambah geram kepada Nara, seseorang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.


Dalam keputusasaan, setelah mencari Nara ke berbagai tempat, tiba-tiba Sai menelepon. Dan dengan segera telepon itu diangkat olehnya.


"Sai?"


"Ken, di mana posisimu? Jasad nona Rose sedang diotopsi saat ini." Sai memberikan kabar.


"Sai, tetaplah di sana. Aku akan datang. Tapi sebelumnya aku akan membawa Nara bersamaku," jawab Ken dalam keadaan menahan emosi.


"Apa kau sudah mencari ke tempat karaoke yang berada di resort tertutup?" tanya Sai kembali.


"Resort? Di mana?" Ken berpikir.


"Yang ada di pantai timur. Mungkin saja dia ke sana." Sai memberi tahu Ken tentang perkiraannya.

__ADS_1


"Maksudmu, Zushi Mini Resort?" tanya Ken lagi.


"Ya, pesan terakhirnya dia akan berlibur ke sana. Tapi aku tidak—"


Belum sempat Sai meneruskan ucapannya, telepon itu diputus oleh Ken. Malam ini juga ia akan menyusul Nara. Yang mana nama temannya itu tertera dalam secarik kertas yang dituliskan Rose sebelum kematiannya.


"Sai?"


Cherry mencoba mendekati Sai yang tampak diam membisu, sambil menunggu hasil otopsi di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Tokyo. Cherry tampak cemas.


Sai berpikir sangat serius. Ia mempunyai firasat yang tidak enak tentang hal ini. Tapi, ia memilih untuk tetap menunggu hasil otopsi dari jasad Rose, sang promotor yang selama dua minggu ini telah bekerja keras untuk mensukseskan D'Justice.


Sementara itu...


Dalam balutan mini dresnya, kedua gadis itu meraba-raba dada sang pemuda yang tak lain adalah Nara.


"Hei, ayo minum lagi!"


Kumi mengajak temannya bersulang untuk kesekian kalinya. Ia tampak menikmati malam bersama sang vokalis yang sedang naik daun ini.


"Bersulang!" Teman Kumi itu mengangkat gelas wine-nya.

__ADS_1


Dialah Luna yang sedang duduk di pangkuan Nara sambil terus membenamkan wajah sang vokalis ke dadanya.


Ya, Nara sedang berpesta pora setelah menjalani tur yang melelahkan. Tampak dirinya hanya mengenakan celana levis hitamnya. Itu pun resetlingnya sudah terbuka sampai ke bawah, sehingga terlihatlah boxer hitam yang menutupi sesuatu.


"Nara, lain kali kita adakan pesta lagi, ya?" pinta Kumi sambil meneguk wine-nya.


"Nara, ayo mulai." Luna menggoda Nara sambil meraba wajah sang vokalis dengan jemari tangannya.


"Bagaimana kalau kita saja yang memulainya?" tanya Kumi kepada Luna.


Luna pun mengangguk, ia mulai beranjak dari pangkuan Nara lalu merebahkan punggung Nara ke sofa.


"Baiklah kita mulai."


Kumi mengambil posisi. Ia berjongkok di depan kedua betis Nara. Sedang Luna mengajak Nara berciuman dari samping. Mereka tidak lagi peduli dengan keadaan saat nafsu mulai memenuhi seluruh pikiran.


"Ini besar sekali." Kumi mulai menurunkan levis Nara.


"Nara, mainkan dadaku," pinta Luna kepada Nara.


Nara yang sudah mabuk hanya bisa mengikuti permainan kedua gadis cantik ini. Ia tampak menikmatinya.

__ADS_1


"Ssshh, ahh ...." Nara menikmati setiap sentuhan yang Kumi berikan padanya.


__ADS_2