
Beberapa menit kemudian...
Entah bagaimana, Lusy tiba-tiba berubah sikapnya. Dalam balutan bikini yang ia pakai, ia membantu melepas satu per satu pakaian Nara untuk segera dicuci dan dikeringkan. Ia bersikap sangat keibuan, membuat Nara lupa jika dirinya tengah melakukan kesalahan besar.
"Nona, jangan!"
Sejenak Nara tersadar saat Lusy mulai menurunkan underwear putih miliknya. Ia mencoba melepaskan diri. Tapi, Lusy menahannya. Wanita itupun tersenyum saat melihat isi dari underwear Nara.
"Nara ...." Ia kemudian memegangnya.
"Nona, ahh!"
Nara pun menjerit saat miliknya dipegang lembut oleh Lusy. Ditambah posisi Lusy yang berjongkok di hadapannya, membuat khayalan Nara melayang jauh.
Air shower yang menghujani keduanya, menambah rasa dingin yang menusuk hingga ke kulit. Hasrat itupun muncul dan mulai mengendalikan pikiran.
"Nara, anggap saja hal ini sebagai tanda mutualisme di antara kita."
__ADS_1
Lusy menjulurkan lidahnya. Hasratnya timbul kala melihat sebatang daging berotot sedang menegang di hadapan kedua matanya. Lusy pun memulai permainannya.
"Nona!"
Nara memejamkan mata, sesaat setelah merasakan sesuatu bergerak-gerak pada ujung miliknya. Ia pasrah tiada berkutik. Terlebih melihat tubuh Lusy yang masih seperti remaja, membuatnya diliputi rasa penasaran yang begitu besar. Ditambah dinginnya pancuran air yang sengaja Lusy nyalakan, lengkap sudah.
Pemuda itu mulai menikmati setiap jilatan dari manajernya, namun juga terus berusaha memberontak karena khawatir tidak dapat mengendalikan diri. Namun, Lusy malah semakin menjadi-jadi. Tak lama dari itu, Nara menjerit di antara keheningan apartemen yang kedap suara. Tampak sesuatu melumuri wajah cantik Lusy.
"Hmm." Lusy menjilatinya.
Permainan sang manajer membuat Nara mengalami kekalahan. Ia pun tanpa sadar jika telah melupakan sesuatu hal yang penting. Nara lupa, ia benar-benar lupa saat tubuhnya beradu dalam nafsu. Dan untuk kesekian kalinya, ia mengingkari janji. Ia lagi-lagi mengkhianati hati.
Selepas bermain di dalam kamar mandi bersama Lusy, Nara dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis cantik. Gadis itu tampak berusia remaja. Mungkin hanya berbeda dua atau tiga tahun dengannya.
"Nara, kenalkan." Lusy yang masih terbalut handuk putih, mengenalkan Nara kepada seorang gadis berpakaian kucing hitam.
"Nona?"
__ADS_1
Ia tidak mengerti mengapa semua ini harus terjadi padanya. Nara merasa dihadiahi kenikmatan yang bertubi-tubi dari sang manajer.
"Kenalkan, dia Kumi. Dia adalah janjiku." Lusy memperkenalkan.
Nara menatap gadis cantik bertubuh sintal yang bagian dadanya terlihat besar. Gadis itu mengenakan pakaian kucing hitam yang terbuka pada bagian dada dan juga pahanya.
"Miaaawwww."
Gadis itu menyapa Nara bak seekor kucing betina. Nara yang sehabis mandi pun membuat hasrat gadis itu naik ke puncaknya. Belum lagi otot-otot Nara yang sudah terbentuk, hasrat Kumi semakin menjadi-jadi saja.
"Miaaaw!"
Kumi mendekati Nara, menjilati telinga Nara dengan lembutnya. Bak seekor kucing kepada majikannya. Nara pun tidak berkutik, ia mulai menikmati bagaimana dirinya sekarang. Ia benar-benar telah kehilangan kendali.
"Sssshhh. Teruskan ...."
Nara terlena dengan permainan yang Kumi berikan. Handuknya pun mulai terlepas dari pinggangnya.
__ADS_1
"Ah!" Nara memejamkan kedua matanya.
Malam ini Nara tidak peduli lagi sedang berada di mana. Hasratnya sudah naik ke ubun-ubun, sehingga tidak dapat lagi berpikiran jernih. Dan untuk yang kesekian kalinya, Nara melakukan hubungan itu lagi. Bersama Kumi dan juga Lusy. Ia telah melepas harga dirinya demi memenuhi nafsu semata.