
Sore hari, pukul 5 waktu setempat…
Shena memenuhi undangan Ryuuto untuk menonton konser bersama. Konser itu diadakan di dalam sebuah stadion sepak bola Jepang. Bertema outdoor, konser band kenamaan Inggris dibuka oleh para band lokal setempat. Ya, Coldplay hadir di tengah-tengah para pengunjung stadion yang menggemari musik beraliran rock alternative.
Di sana, di pintu gerbang stadion sepak bola, terlihat Shena yang mengenakan tengtop hitam dibalut sweter putih dan celana pensil birunya. Ia tampak menunggu kedatangan Hima, bersama Ryuuto yang mengenakan kaus putih dibalut kardigan biru dan jeans berwarna hitam. Keduanya tampak mengenakan sepatu kasual yang sama, berwarna hitam. Bak sudah janjian sebelumnya, menambah keserasian di antara mereka.
"Shena!" teriak gadis berkepang dua dari kejauhan.
Rupanya Hima terlebih dahulu melihat Shena bersama Ryuuto yang tengah menunggu kedatangan dirinya. Hima datang bersama sang kekasih lalu menghampiri keduanya.
"Maaf aku telat," sapa Hima saat tiba di hadapan Shena dan Ryuuto.
Gadis itu datang bersama kekasihnya yang memakai kacamata. Keduanya mengenakan couple t-shirt berwarna hitam dengan tulisan You and Me.
__ADS_1
"Kau memang selalu telat, Hima," celetuk Ryuuto tiba-tiba.
"Hei, tidak ada yang berbicara denganmu, Ryuuto." Hima lalu membuang pandangannya dari Ryuuto.
"Tak apa, Hima. Kami juga baru sampai," sahut Shena lalu melirik ke arah pacar Hima, ia seperti memberikan isyarat.
"Oh, baiklah. Eh, iya. Kenalkan dia Sai. Dia pacarku." Hima lalu memperkenalkan sang pacar kepada Shena dan Ryuuto.
"Sai, kenalkan mereka adalah teman sekantorku. Ini Shena," Hima menunjuk Shena, "dan ini lelaki labil," menunjuk ke arah Ryuuto.
"Ya, senang berkenalan denganmu, Sai."
Shena membalas jabatan tangan Sai dengan tersenyum. Begitu pun dengan Ryuuto, ia membalas jabatan tangan Sai. Tapi Ryuuto selalu saja bertingkah aneh saat berada di dekat Shena. Ada saja ulahnya yang membuat Hima kesal.
__ADS_1
"Sai, hati-hati dengan gadis berkepang dua ini. Jika kau tidak menurutinya, maka rambutmu lah yang akan dikepang olehnya," bisik Ryuuto kepada Sai.
Sontak saja hal itu membuat Hima geram, "Aaaarrgghh ... kau ini!” Hima mengepalkan kedua tangannya, pertanda kesal karena mendengar jelas bisikan Ryuuto kepada Sai.
"Eh, sudah-sudah." Shena berusaha menengahi. "Sebaiknya kita segera masuk, di dalam juga ada tempat untuk duduk. Nanti setelah band utama keluar, kita baru turun ke lapangan. Bagaimana?" Shena berusaha mengalihkan perhatian Hima agar tidak melanjutkan marahnya.
"Hah, baiklah. Aku setuju." Hima menghela napasnya lalu menyetujui saran dari Shena.
Baik Ryuuto maupun Sai mengikuti ke mana keinginan Shena dan Hima pergi. Mereka lalu mengumpulkan tiket dan kemudian masuk ke dalam arena stadion.
Hima tampak masuk terlebih dahulu bersama Sai, sedang Ryuuto berjaga di belakang Shena. Saat itu di dalam hatinya sungguh riang tiada terkira karena dapat berdekatan dengan sang pujaan hati. Namun, lain dengan Shena. Ia tampak memikirkan sesuatu.
Nara, entah mengapa aku jadi teringat denganmu, batin Shena saat memasuki stadion.
__ADS_1
Tidak dapat dipungkiri jika Shena masih saja memikirkan mantan kekasihnya, Nara. Semua kenangan indah yang telah terukir, tidak bisa begitu saja dilupakan olehnya. Bahkan saat ia sedang bersama pria lain, hati Shena masih tertuju kepada Nara. Seorang pria yang menolongnya saat masih berada di bangku SMA.