
Sepuluh menit kemudian...
Nara baru saja selesai membalik ikan yang sedang dipanggang. Ia kemudian mendekati Shena yang tengah duduk bersama Cherry dan Hima. Malu-malu Nara duduk di depan Shena dengan menyilangkan kedua kakinya.
"Shena."
Entah mengapa Nara merasa malu sekali. Sang mantan pun melihat ke arahnya. Perbincangannya bersama Cherry dan Hima juga terhenti seketika.
"Nara?" Shena melihat ke arah Nara yang tertunduk malu di depannya.
Hima dan Cherry menyadari saat Ken dan Sai memberi kode agar segera pergi dari Shena. Keduanya pun lekas-lekas menjauh dan membiarkan Nara mengutarakan maksud tujuannya kepada sang mantan. Sweter lengan panjang cokelat muda tampak membalut tubuh Nara yang sempurna.
"Shena, aku ...."
Lidahnya berkeluh, seperti terikat tidak dapat bicara. Shena pun menyadarinya, ia segera mendekatkan diri kepada Nara.
"Nara, kau tak apa?" Shena memegang wajah Nara dengan lembut.
"Shena ...."
Nara kemudian mengeluarkan satu kotak merah dari saku celana panjang hitamnya. Ia berikan kotak itu kepada Shena sambil membukanya. Sontak Shena terkejut saat melihat apa isinya. Ia terlihat menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Nara?!" Shena tak menyangka.
"Shena, aku melamarmu malam ini. Sudikah kau menjadi tunanganku?" tanya Nara sambil mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Nara ...." Shena tidak bisa berkata apa-apa.
"Terima, Shena. Nara bersungguh-sungguh." Cherry sibuk sendiri.
"Sayang, habis ini kita, ya." Ken meledek Nara dengan bermesraan bersama Cherry.
Nara pun tersipu malu. Pipinya merah merona karena malu. Namun, Shena tidak perlu memperpanjang waktu lagi. Ia segera mengulurkan tangan kirinya kepada Nara. Dan alhasil, Nara riang seketika.
"Shena?!"
"Pakaikan saja di jariku," pinta Shena seraya tersenyum.
"Yeay!! Akhirnya!!" Hima dan Cherry bertepuk tangan dengan gembira.
"He-em."
"Hei! Apa-apaan kalian!" Cherry segera menarik Ken dari Sai. Sementara Hima terlihat terkekeh sendiri.
"Shena, terima kasih. Aku menyayangimu."
Kata itu akhirnya terucap dari bibir Nara. Ia kemudian memeluk Shena di depan teman-temannya. Shena pun membalas pelukan itu. Statusnya kini resmi berganti, dari mantan jadi tunangan.
Shena, terima kasih.
Nara benar-benar tak percaya jika malam ini Shena akan kembali ke pelukannya. Setelah apa yang dilalui, ia berharap dapat menjadi pelajaran untuk ke depannya.
__ADS_1
"Hei, sudah-sudah. Jangan lama-lama."
Pelukan itu akhirnya harus terhenti karena Sai menarik Nara dari Shena. Sai kemudian memberikan Nara gitar akustiknya agar menyanyikan sebuah lagu untuk Shena malam ini.
"Nyanyi saja dulu ya, pelukan bisa dilanjut lagi." Sai mencandai Nara.
"Hahahaha." Perkataan Sai pun mampu membuat yang lain tertawa.
Nara memasang wajah kesalnya kepada Sai. Tapi saat menoleh ke arah Shena, ia tersenyum kembali. Ia kemudian memetik gitarnya, menyenandungkan sebuah lagu untuk Shena. Lagu yang penuh dengan kisah mereka. Dan akhirnya, malam ini mereka habiskan waktu bersama, bercanda ria dengan penuh suka cita.
...
Kita menjalani kehidupan ini.
Berkelana sampai akhir dunia.
Mempercayaimu dalam mencari cahaya kebenaran,
dan sekarang aku bersamamu...
Kita menjalani kehidupan ini.
Berkelana sampai akhir dunia.
Menutup jalan untuk kembali.
__ADS_1
Dan terus berjalan selama-lamanya...