Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Penulis


__ADS_3

Jam makan siang...


Siang itu sangat terik, matahari seperti membakar kulit. Terlebih jika tidak memakai lotion pelindung. Benar-benar seperti terbakar bara api.


Tapi tidak begitu dengan Cherry, ia merasa sangat santai walaupun memakai pakaian yang bisa dibilang mini. Sambil menuruni mobilnya, ia membawa tas berisi laptop dengan hati-hati.


Langkah kakinya terdengar cepat memasuki sebuah kedai yang ber-AC. Ia memenuhi janjinya untuk bertemu dengan seseorang.


"Cherry!" teriak seorang gadis sambil melambaikan tangannya ke arah Cherry.


Seraya tersenyum, Cherry mendekati gadis yang memanggilnya. Sesampainya, ia pun segera duduk di kursi, di depan gadis itu.


"Kau sudah lama menunggu, ya?" tanya Cherry seraya menaruh tas ke atas meja.


Gadis yang terbalut baju terusan berwarna hitam tampak tersenyum mendengar pertanyaan dari Cherry. "Tidak, aku juga baru sampai sepuluh menit yang lalu, Cher," jawabnya seraya meneguk kembali jus jeruknya.


"Haaah, akhir-akhir ini aku sangat sibuk sekali, Shena. Ditambah aku mempunyai teman yang tak dapat diandalkan," gerutu Cherry lalu mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.

__ADS_1


Gadis itu memang benar adalah Shena. Ia membuat janji temu dengan Cherry untuk membahas sesuatu. Sebelumnya, mereka sudah lama berteman di dunia maya. Dan karena suatu hal, keduanya memutuskan untuk bertemu langsung dan saling berbagi ilmu.


"Bersabarlah, semua butuh proses," ucap Shena lalu menyerahkan notebook miliknya kepada Cherry.


"Ya, mau bagaimana lagi. Aku hanya berusaha, Shena. Akhir dari cerita ini, siapa yang tahu, kan? Hahaha."


Sang gadis berbando merah bergurau agar suasana tidak terlalu serius. Aura humoris pada Cherry akhirnya mampu membuat Shena tergelitik. Shena pun tersenyum menanggapinya.


"Baiklah, ini hasil tulisanku. Menurutmu, apakah karya tulis ini layak untuk diikutsertakan?" tanya Cherry kepada Shena.


"Hem, baiklah aku baca."


Shena mulai membaca cepat hasil karya tulis Cherry. Cherry pun ikut membaca karya tulis Shena. Ia lantas terkejut kala membaca sebuah pernyataan yang ada di dalam karya tulis milik temannya itu.


"Jadi kau menulis semua hal tentang mantan kekasihmu, Shena?" Cherry tak percaya saat membaca paragraf demi paragraf karya tulis yang Shena buat.


"Hem, iya. Apa ada yang aneh?" tanya Shena kemudian.

__ADS_1


"Eh, tidak. Hanya saja terlalu ... hahahaha." Cherry tertawa tanpa sebab.


Selama ini Cherry terkesan dingin kepada semua pria, hanya Ken seorang yang berhasil meluluh-lantakkan hatinya. Cherry pun belum mempunyai seorang mantan sehingga membuat dirinya agak kikuk saat membaca karya tulis Shena.


"Di persyaratan tidak ada pemberitahuan yang melarang author untuk menulis dengan tema ini, kan? Lagipula selain berpartisipasi dalam festival yang diadakan kaisar, aku ingin semua orang menyadari bahwa penyesalan itu akan selalu datang belakangan." Shena menuturkan.


"Hem, jadi begitu. Baiklah-baiklah. Bagaimana dengan karya tulisku yang mengambil tema tentang musik ini?" tanya Cherry lebih lanjut.


Shena terdiam sejenak lalu memperhatikan dengan saksama tulisan Cherry yang terkesan ambigu. "Sepertinya di bagian ini harus dijelaskan lebih rinci."


Shena menunjuk ke arah bait lagu. Ia memberikan saran kepada Cherry, Cherry pun ikut memperhatikan tulisannya.


"Oh, baiklah. Nanti akan aku perbaiki," sahut Cherry mengiyakan.


Tak lama, pelayan kedai datang membawakan menu pesanan untuk Cherry. "Maaf lama menunggu. Silakan dipilih pesanannya," ucap seorang pria memakai seragam serba putih dibalut celemek hitam.


Cherry membaca menu lalu memesan beberapa makanan dan minuman ringan. Keduanya meneruskan aktivitas sampai sore hari menjelang.

__ADS_1


__ADS_2