
Sore harinya, selepas gladi resik di aula konser Yokohama...
Nara duduk di tangga yang ada di samping panggung pertunjukan. Ia meneguk minuman isotonik sambil meredakan rasa lelah, sehabis melakukan gladi resik bersama personil D'Justice. Ken dan Sai pun datang mendekatinya. Sedang Cherry dan Gabril sedang mengobrol di pelataran alat musik.
"Nara." Ken dan Sai duduk di depan Nara.
"Hari ini kau terlihat kurang bersemangat. Ada apa?" tanya Ken yang ingin tahu.
Nara hanya diam.
"Mungkin karena Shena yang tidak membalas pesannya, Ken." Sai menjawab.
"Begitu ternyata." Ken memahami. "Nara, kau harus bersabar. Malam ini konser terakhir kita. Besok pagi kita bisa pulang ke Tokyo." Ken mencoba menenangkan kegelisahan hati temannya.
"Hah." Nara pun mengembuskan napasnya. "Aku khawatir pada Shena, Ken. Terlebih Hima tidak menjawab telepon dariku." Nara menceritakan.
__ADS_1
"Hima?" Sai terkejut.
"Ya, kekasihmu. Aku ingin menanyakan langsung kabar Shena padanya. Tapi teleponku juga tidak diangkat." Nara gusar.
"Hima bilang padaku jika dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Maklumi saja, Nara." Sai menceritakan.
"Aku curiga kepada kekasihmu Sai." Nara menuturkan.
"Curiga maksudmu?" Sai ingin memperjelas.
"Semalam yang aku memintamu untuk meneleponnya, dia bilang Shena sudah tidur. Tapi tadi pagi ponselnya tidak aktif. Dan siangnya dia bilang sedang di kantor. Aku khawatir terjadi sesuatu pada Shena." Nara mengungkapkan kekhawatirannya.
"Ya, aku pikir juga begitu. Tapi apakah tidak ada jadwal tambahan, Ken?" tanya Sai kepada Ken.
"Nanti akan kutanyakan kepada manajer Hata. Jika setelah konser tidak ada jadwal, kita bisa kembali ke Tokyo segera. Tapi untuk sementara, fokuslah ke konser hari ini. Kita mendapat jam manggung paling akhir, jadi beristirahat saja dulu. Jam sembilan kita berkumpul lagi di sini." Ken berpesan kepada keduanya.
__ADS_1
"He-em. Baiklah." Baik Nara maupun Sai mengiyakan perkataan kaptennya.
Ken menyadari jika Nara sedang mencemaskan keadaan Shena, terlebih Shena pernah mengalami koma beberapa hari waktu itu. Namun, ia juga harus menyelesaikan pekerjaannya malam ini. Yang mana band-nya mendapat jadwal terakhir konser, sekitar pukul sebelas malam. Ia lalu meminta kepada personilnya untuk beristirahat di ruang khusus yang ada di belakang panggung.
Ken juga menghampiri Cherry agar sang kekasih bisa segera beristirahat. Namun entah mengapa, hari ini ia mempunyai firasat yang tak enak tentang Shena.
Aku harap Shena baik-baik saja di sana.
Ken juga ikut mencemaskan keadaan Shena. Tapi ia masih menyembunyikannya agar tidak terlihat di hadapan personil lain. Ia tidak ingin memecah konsentrasi para personil yang akan melakukan pertunjukkan pukul sebelas malam nanti. Ia pun ikut beristirahat dan menyingkirkan pikiran buruknya.
Lain ketiga personil D'Justice, lain juga dengan Hima. Hima tampak kelabakan saat mendengar audio detak jantung milik Shena terdengar tidak normal. Ia sendirian di dalam ruangan dan harus menghadapi hal ini sendiri. Dan kini Shena sedang diperiksa oleh dokter yang berjaga.
Di rumah sakit...
Hima berdiri di sudut ruangan sambil memegangi ponselnya. Ia terpaku melihat banyaknya dokter yang tengah menangani keadaan Shena. Ternyata alat pendeteksi detak jantung itu memberi tanda jika Shena sedang berjuang melawan penyakitnya.
__ADS_1
Shena, kumohon sadarlah. Aku sungguh takut.
Hatinya tidak karuan saat seorang suster membawakan alat pacu jantung untuk Shena. Ia tak percaya jika akan melihat keadaan Shena sampai separah ini. Ia lantas banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan temannya.