
Dua jam kemudian...
Matahari tampak tertutupi awan putih. Awal siang ini atmosfer sekitaran berubah kelam. Terlihat seorang pemuda berjaket hitam tengah berlari menyusuri koridor rumah sakit. Langkah kakinya begitu memburu, ia hampir-hampir saja menabrak penjenguk yang datang. Sedang ketiga temannya mengikuti dari belakang.
Ia tidak lagi memedulikan rasa lelah sehabis melakukan perjalanan jauh ke enam kota di Jepang. Ia juga tidak lagi peduli dengan keadaan sekitar. Terus saja berlari sekuat tenaga menuju suatu ruangan, tempat di mana gadis yang dicintainya berada.
Tatapan matanya nanar. Degup jantungnya pun melaju begitu cepat. Ia berulang kali melihat penunjuk arah di rumah sakit. Ia amat terburu-buru untuk menemui seseorang.
"Hima!"
Tak lama ia melihat dua orang yang dikenalnya, di depan sebuah ruangan rumah sakit. Dengan cepat ia pun berlari ke sana, mendekati kedua sosok itu. Napasnya tersengal, dadanya pun terasa sesak. Sedang ketiga temannya ikut mendekat.
"Hima, bagaimana keadaan Shena?"
Pemuda itu bernama Nara. Dadanya naik-turun saat bertanya kepada seorang wanita yang dikenalnya. Sedang wanita itu tampak diam sambil menangis.
"Hana, bagaimana keadaan Shena?" Ia pun bertanya kepada wanita lainnya. Namun, wanita itu juga tertunduk.
Pikirannya semakin menjadi-jadi saat keduanya tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Ia pun segera masuk ke dalam ruangan untuk melihat sendiri bagaimana keadaan sang gadis.
"Shena, aku pulang."
__ADS_1
Nara mendekati gadis yang sedang terbaring. Kedua temannya, Ken dan Sai pun mengikuti. Sedang satu teman lainnya duduk di luar bersama Hana dan Hima untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Shena, kenapa wajahmu ditutupi?"
Nara bingung, ia lalu membuka penutup wajah gadis itu. Sesaat kemudian ia tersadar.
"I-ini ... ini tidak mungkin." Ia melihat wajah gadis itu telah membeku. "Shena, bangun Shena." Nara meminta dengan suara yang lemah.
Kedua temannya pun terdiam, tidak bisa melakukan apa-apa.
"Ken, Shena baik-baik saja, bukan?" Nara berbalik, bertanya kepada Ken. Namun, Ken diam saja.
"Shena ...." Nara kembali menyapa seorang gadis yang terbujur kaku di hadapannya. "Shena, aku sudah pulang. Shena, bangunlah," pinta Nara lagi.
"Nara, ikhlaskan Shena. Dia sudah pergi." Ken berkata pelan.
Seketika itu Nara marah.
"Pergi?! Apa maksudmu, Ken?! Tidak! Shena masih di sini!" Nara menolak mentah-mentah.
"Nara, Shena sudah meninggal dunia. Kau harus tabah menghadapinya." Sai ikut menenangkan temannya.
__ADS_1
"Tidak. Tidak! Shena belum meninggal. Tidak!"
Nara menghempaskan tangan Ken dan Sai yang memeganginya. Ia kemudian mencari dokter agar memeriksa keadaan Shena kembali. Ia berlari dan terus berlari hingga bertemu dengan dokter yang menangani Shena. Namun, sang dokter mengabarkan sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Tidaaaak. Ini tidak mungkin. Tidak. TIDAAAAAKKKK!!!"
Ia berteriak saat mendapatkan kabar tentang keadaan Shena. Ia pun jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa amat sakit.
"Shena! Kau pasti baik-baik saja."
Ia kemudian bangkit lalu berlari menuju ruangan tempat sang gadis berada. Ia kembali masuk ke dalam ruangan dan terus-menerus memanggil nama Shena berulang kali. Sedang teman-temannya hanya bisa diam sambil menahan tangis. Nara kehilangan Shena untuk selama-lamanya.
"Shena ... kumohon bangunlah ...."
Bulir-bulir air mata itu jatuh membasahi pipinya. Nara menangis.
"Shena ...." Ia meminta Shena bangun.
"SHEENAAAAAAA!!!"
Kenyataan di depan matanya membuat ia terisak. Ia berteriak sekencang mungkin karena tidak tahu harus bagaimana. Pikirannya kosong, hati pun terasa amat perih. Ia tidak menyangka jika Shena akan pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Baik Ken, Cherry, Sai, Hima dan Hana pun tertunduk di tempatnya. Kabar yang tidak diinginkan ini mau tak mau harus diterima. Shena tidak dapat lagi berkumpul bersama mereka. Sang gadis telah kembali kepada pemilik aslinya.