
Beberapa hari kemudian, Jum'at pukul 11 malam waktu setempat…
Nara dapat kembali beraktivitas setelah melalui masa sulitnya. Selama dua hari dua malam, Sai dan Ken menginap di rumahnya. Selain mengerjakan tugas, mereka juga melakukan sesi latihan mandiri. Hanya bermodal gitar akustik, kursi kayu dan keyboard elektrik, ketiganya menambah sesi latihan ini.
"Baiklah, saatnya kita tidur. Besok jangan lupa bangunkan aku," pesan Nara sebelum ia tertidur.
"Ya, aku pun sudah lelah." Sai kemudian berbaring di kasur berbahan busa itu.
"Hn, baiklah." Ken juga ikut merebahkan tubuhnya.
Mereka akhirnya tertidur hanya dengan mengenakan celana boxer-nya saja. Mencoba melepas lelah setelah beraktivitas seharian ini.
Sementara itu...
Di sebuah rumah besar yang ada di Kota Tokyo, terlihat seorang pemuda tengah mencampur beberapa bahan uji cobanya. Dialah Yudo yang sedang meracik bahan-bahan kimia untuk diberikan kepada target sasarannya. Sambil memandangi foto seorang gadis, ia menjilat sebilah pisau yang tajam.
__ADS_1
"Shena ...."
Sosok gadis yang ada di dalam foto itu adalah Shena, sedang berfoto bersama dirinya saat SMA dulu.
"Tidak ada yang boleh mendapatkanmu. Aku pastikan itu!" ancamnya kepada foto yang ia pandangi.
Yudo berubah menjadi pria yang sangat dramatis, hiper obsesi dan memaksakan kehendaknya. Tapi terkadang, sifat halus dan lemah lembutnya itu muncul untuk mendapatkan keinginannya. Ya, Yudo berubah menjadi seorang psikopat sejak api cinta di dalam hatinya padam. Ia kehilangan akal sehatnya sendiri.
"Aku akan membuatmu kembali ke dalam pelukanku, Shena," ucapnya sambil mencium foto Shena yang ia pegang dengan tangan kirinya.
Yudo berubah drastis. Pemuda berambut sedikit ikal itu kini sudah menjadi seorang psikopat. Kehidupannya dipenuhi banyak formula hasil racikannya sendiri. Ia sangat gemar mencampur berbagai macam zat kimia untuk melancarkan aksinya.
Esok harinya...
Pagi ini perjuangan sang pemuda bermata biru dimulai. Hari ini akan diselenggarakan audisi band kampus di sebuah gedung kesenian Jepang. Nara dan kawan-kawan segera memulai perjalanan karir mereka menjadi band terkemuka di negeri sakura tersebut.
__ADS_1
Terdengar suara klakson mobil yang berbunyi berulang kali. Nara, Ken dan Sai yang masih tidur itupun terbangun saat menyadari bisingnya suara klakson.
"Berisik sekali."
Ia membangunkan Ken dan Sai bersamaan. Dengan segera ketiganya mencuci muka dan berganti pakaian untuk menemui si pemilik mobil.
Berulang kali klakson mobil itu berbunyi, padahal hari masih amatlah pagi. Ya, jam di dinding baru saja menunjukkan pukul 7.15 waktu setempat, tapi sang gadis yang mengenakan kaus putih berlambang timbangan hitam itu tidak henti-hentinya menekan klakson mobil, di depan jalan rumah Nara yang sempit.
"Iya, tunggu!" Terdengar teriakan dari seorang pemuda bermata biru yang tampak terburu-buru memasukkan gitarnya ke dalam sarung.
"Ken, kekasihmu galak sekali."
Sai menutup kedua telinganya saat Cherry terus mengklakson mereka. Dan Ken hanya dapat tersenyum tanpa menjawabnya. Tak lama kemudian, ketiganya pun keluar dari dalam rumah.
"Kalian duluan saja, aku mengunci pintu dulu," pinta Nara, Ken dan Sai pun segera masuk ke dalam mobil Cherry.
__ADS_1
"Aarrghh! Payah kunci ini!"
Nara tampak kesal saat mengunci pintu. Maklum saja, kunci terlalu banyak ditambah Cherry yang membuatnya gupek sehingga si bule Jepang ini kelabakan sendiri.