Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kontrak Perjuangan


__ADS_3

"Oke, terima kasih." Lusy beranjak berdiri dari duduknya. "Andai saja kalian berusaha lebih keras di masa audisi, mungkin kalian dapat merebut gelar juara pertama tadi malam. Dan kalian tidak akan bertemu denganku," ucap wanita berparas cantik itu.


"Penampilan kalian menurutku mendekati sempurna, layaknya band yang memang sudah lama menjajal berbagai macam panggung. Tapi aksi kalian yang mengatasnamakan Palestina, sangat konyol. Kalian memang dibebaskan untuk berekspresi. Tapi jika kalian mengatasnamakan penderitaan orang lain untuk memenangkan lomba, itu sangat tidak bermoral!" lanjut Lusy dengan ketus.


Mendengar hal itu Nara langsung berdiri dari duduknya.


"Nona Lusy. Maaf, apa yang Anda pikirkan itu salah. Kami memang benar-benar turut prihatin atas kejadian yang menimpa mereka. Bukan sebagai topeng untuk memenangkan perlombaan ini." Nara interupsi, menolak keras ucapan Lusy.


Lusy yang mendapat perlawanan dari Nara, merasa senang karena ucapannya ternyata berhasil memancing respon salah satu personil D'Justice.


"Duduklah, Nara," sahut Lusy yang tidak ingin memperkeruh masalah.

__ADS_1


"Kalian tahu, saat ini banyak sekali orang-orang yang mengatasnamakan rakyat Palestina hanya untuk memenangkan maksud—tujuan mereka. Padahal, mereka sama sekali tidak peduli dengan penderitaan yang ada di sana. Aku berkata demikian karena di saat kalian memasuki dunia entertain nanti, akan lebih banyak lagi hujatan, cacian bahkan hinaan yang menyayat hati. Aku harap kalian mempersiapkan diri." Lusy menyilangkan kedua tangannya di dada, menuturkan maksud akan ucapannya tadi.


"Di sini, ada empat buah map yang harus kalian tanda-tangani." Ia menunjukkan map lalu memberikan kepada keempat personil D'Justice. "Aku tidak memaksa kalian untuk menuruti semua instruksiku. Tapi jika kalian sudah menandatangi kontrak di lembar terakhir, mau tidak mau, sanggup tidak sanggup, kalian harus mematuhi apa yang diperintahkan oleh pihak management." Lusy menjelaskan.


Keempat personil D'Justice mendengarkan.


"Baiklah, hari ini akan kita mulai pelajaran mendasar tentang dunia entertain. Jika setelahnya ada yang tidak baik menurut pandangan kalian, kalian bisa segera keluar dari ruangan ini dan membatalkan kontrak."


Lusy dengan tegas berucap kepada keempat personil D'Justice. Sontak saja hal itu membuat keempatnya gugup bukan main.


Nara menggerutu karena kurang menyukai sikap manajernya.

__ADS_1


Lusy lalu memberikan teori-teori mendasar tentang dunia musik dan entertain. Bagaimana sikap mereka terhadap penggemar dan juga khalayak ramai di kehidupan pribadi maupun sosial. Pelajaran mendasar itu memakan waktu sekitar sepuluh jam. Hari itu mereka habiskan untuk belajar teori.


Bagaimanapun sebelum terjun ke suatu bidang, harus mempelajari teori mendasarnya terlebih dahulu. Setelah teori dikuasai, barulah praktek dilakukan. Itu adalah sikap terbaik untuk kemajuan diri sendiri. Jangan sampai merasa menyesal karena sudah lama berkecimpung, tapi tidak tahu teknik-teknik apa saja yang harus dilakukan untuk menaklukan bidang tersebut.


"Semangat!" Ken menyemangati personilnya.


Nara dan kawan-kawan terlihat bersemangat mengikuti pelajaran di hari pertama mereka setelah kontrak. Tampak keempatnya sangat antusias dan menikmati pelajaran ini. Tentunya setelah bersusah payah melewati berbagai aral dan rintangan yang menghadang. Dan ketahuilah jika HASIL TIDAK AKAN PERNAH MENGKHIANATI PERJUANGAN.


Aku pasti bisa melewati semua ini. Aku telah bersusah payah menggapai mimpiku. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja.


Nara bertekad di dalam hatinya.

__ADS_1


Ibu, akan kutunjukan jika aku mampu membahagiakanmu, walaupun tanpa ayah.


Nara mempunyai cita-cita mulia terlepas dari perbuatannya. Karena Nara amat menyayangi sang ibu. Masa-masa muda ini ia habiskan untuk menggapai mimpi, tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal jera. Dialah Nara Shimura, seorang pemuda dengan ciri khas unik berupa mata birunya yang menawan hati.


__ADS_2