Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Tak Berdaya


__ADS_3

Malam begitu dingin, butiran salju pun terus turun memenuhi seluruh kota di Jepang. Hari itu masih terbilang sangat malam, begitu gelap walaupun sudah terhitung memasuki fajar.


Spektrum warna langit perlahan berubah menjadi keunguan, yang mana merupakan spektrum warna tertinggi di antara warna yang lain. Ya, saat itu sudah melewati pukul dua pagi waktu Tokyo dan sekitarnya.


Pemuda bersweter orange itu mulai memasuki gedung tua yang ditunjukkan sebuah pesan pendek pada ponselnya. Begitu gelap dan hampir tidak ada pencahayaan di sana. Tetapi saat ia membuka pintu gudang tua tersebut, terlihatlah cahaya lampu yang cukup terang. Namun, hanya mampu menerangi sekitaran di mana lampu itu berada.


Gudang itu begitu luas, Nara pun berjalan menuju ke sumber cahaya. Ia berdiri tepat di titik tengah lingkaran cahaya lampu tersebut. Dan tak lama, sosok pemuda berjas putih datang bersama dua pengawalnya, dengan jarak sekitar sepuluh meter pandangan dari tempat di mana Nara berada.


"Selamat datang, Kawan." Sosok itu tersenyum sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


"Di mana Shena?!" tanya Nara yang tidak ingin berbasa-basi, sambil terus menatap ke arah pemuda itu.


"Hei, hei. Santailah sedikit."


Pemuda itu kemudian duduk di kursi yang disediakan oleh salah satu pengawalnya. Sedang pengawal yang lain membantunya menghidupkan sebatang rokok.


"Huuuuff..." Ia kemudian mengembuskan asap rokoknya ke depan, tampak sangat santai dengan menyilangkan kedua kakinya.

__ADS_1


"Jangan tergesa-gesa, Nara. Kau cicipilah dulu hidangan pembuka ini." Pemuda itu kemudian membisikkan sesuatu kepada salah seorang pengawalnya.


"Kau jangan main-main denganku, Yudo!" Nara kesal karena merasa diperlambat oleh Yudo.


Bisa saja Nara menyerang sosok pemuda berjas putih itu sekarang. Tapi, ia meredam amarahnya demi menjamin keselamatan Shena terlebih dahulu. Karena ia belum juga melihat Shena sampai detik ini.


Alih-alih menunggu Shena, Nara malah dikejutkan dengan kedatangan sosok gadis berambut ikal panjang. Gadis itu terbalut mantel putihnya yang setinggi lutut.


"Rie?!"


"Kau terkejut, Nara?" tanya pemuda itu yang memang benar adalah Yudo.


Nara kesal bukan main, ia merasa dipermainkan. "Untuk apa kau membawakan Rie?! Aku hanya ingin Shena!" seru Nara yang kesal melihat Rie.


Yudo pun beranjak dari duduknya lalu menyuruh Rie untuk duduk. "Nara, kita sama-sama menjadi korban wanita ini. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu kepadamu," ucapnya kemudian.


Yudo lalu mengambil sebuah pistol dari salah satu pengawalnya.

__ADS_1


"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Nara tidak ingin terjadi pembunuhan di hadapan kedua matanya.


Yudo kemudian menodongkan pistolnya ke arah Nara. "Kau tetap diam di sana atau pistol ini akan segera menembus jantungmu!" ancam Yudo sambil membuang sebatang rokok yang dihisapnya.


"Kau!" Nara geram bukan main.


Yudo kemudian beralih kepada Rie yang duduk lemas tak berdaya. Sepertinya ia telah melakukan sesuatu sehingga Rie terlihat tidak bertenaga sama sekali.


"Rieku, Sayang. Cepat katakan hal yang sebenarnya kepada Nara." Yudo membelai rambut Rie lalu menjambaknya dengan kasar.


"Argh!"


Rie pun kesakitan, ia tidak berdaya untuk melawan. Dan kini ia hanya dapat menuruti apa yang Yudo pintakan kepadanya.


"Cepat katakan, Rie!" pinta Yudo dengan geram kepadanya.


Rie pun akhirnya mengatakan hal yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2