
Menjelang siang…
Sehabis beristirahat, D’Justice kembali disibukkan dengan berbagai jadwal kegiatannya. Tapi di sela-sela kesibukannya, sang gitaris ini menyempatkan diri untuk melakukan video call dengan tunangannya. Ya, siapa lagi kalau bukan Shena.
“Nara.”
Shena melambaikan tangannya ke arah kamera ponsel. Di sisi Shena pun ada Hima yang ikut melambaikan tangan. Sang gitaris D’Justice tampak senang karena bisa melihat Shena secara langsung.
“Sayang, maaf. Jadwalku begitu sibuk. Baru sekarang bisa melakukan video call denganmu. Apa kau rindu?” tanya Nara yang tampak sedang tiduran di kasur kamar hotelnya.
“Jelas saja rindu. Haruskah pertanyaan itu dijawab?” Hima menyeletuk dari samping dan terdengar oleh Nara.
“Sai! Istrimu ini ikut-ikutan saja!” Nara berteriak kepada Sai karena Hima mengejeknya.
“Sudah-sudah. Jangan buatku tertawa.” Shena pun tertawa sendiri.
__ADS_1
“Sayang, tunggu aku ya. Tak lama lagi aku akan kembali. Baik-baik di sana,” kata Nara dengan mesra.
“He-em.” Shena mengangguk.
"Jangan telat makan dan jangan lupa minum obatnya. Jika habis minta tolong Hima belikan di apotek, ya." Nara berpesan.
"Iya, bawel." Shena pun gemas kepada tunangannya.
"Hahahaha." Nara tertawa melihat raut wajah Shena.
Lain Nara, lain pula dengan Ken. Sang kapten band ini tampak mengernyitkan dahinya, sesaat setelah menerima telepon dari sang ayah. Ia seperti mencemaskan sesuatu.
“Ken, ada apa?” Cherry yang sedang bersamanya pun menanyakan hal apa yang membuatnya cemas, namun Ken tidak menceritakannya.
“Tidak apa. Baiknya kita bersiap menuju gedung konser.” Ken mengalihkan.
__ADS_1
Malam ini D’Justice akan melakukan konser di Osaka Jo Hall, sebuah gedung auditorium yang dapat memuat belasan ribu penonton. Konsernya sendiri akan dimulai pada pukul delapan malam. Namun, D’Justice kebagian di sesi terakhir. Sehingga mereka bisa beristirahat sejenak, tidak terburu-buru seperti saat di kota lainnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Nara dan kawan-kawan pun bergegas membersihkan diri sebelum berangkat menuju tempat pertunjukan. Keempat personil D’Justice ini tampak kompak dan selalu menjaga staminanya. Tapi, hari ini Ken gelisah tidak seperti biasanya.
Nara, apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi. Haruskah aku memberitahukannya padamu sekarang?
Ken merasa cemas sendiri. Ia tidak menyangka akan mendengar kabar yang tidak diinginkan. Sang ayah, Zain menelepon Ken yang mana membuat Ken mencemaskan keadaan sahabatnya, Nara Shimura. Tapi karena jadwal konser yang masih ada, ia pun harus menyingkirkan rasa cemas itu dari pikirannya.
Sore harinya…
Tepat pukul empat sore, Shena harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami muntah darah. Hima pun dengan sigap menemani Shena sampai ke depan pintu ruang UGD. Ia segera menelepon Ryuuto akan keadaan Shena yang sekarang.
“Ryuuto, Shena muntah darah. Dan dia sekarang di rumah sakit Tokyo.” Hima memberi kabar kepada Ryuuto.
“Ya, baik. Aku tunggu kedatanganmu.” Hima kemudian menutup teleponnya.
__ADS_1
Hima cemas bukan main saat melihat Shena memuntahkan darah dari perutnya. Iapun segera memesan taksi online untuk membawa Shena ke rumah sakit. Hampir-hampir saja ia berteriak karena rasa panik yang melanda tiba-tiba. Dan kini ia sedang bolak-balik di depan ruang UGD rumah sakit. Sambil memegangi ponselnya, ia berharap keadaan Shena baik-baik saja.