Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kepikiran


__ADS_3

Di dalam bus…


Nara dikejutkan dengan kehadiran Gabril yang sudah menunggunya duduk di dekat jendela. Tapi Nara hanya sebatas tersenyum kepadanya dan tidak menegur sama sekali. Hata pun segera menyadari apa yang terjadi, ternyata Gabril ingin kut tur dikarenakan ada Nara.


Jadi Nara yang telah menarik perhatian gadis itu. Sekarang aku mengerti mengapa Michael turun langsung menemuiku. Rupanya karena Nara.


Hata pun segera meminta Sai agar duduk bersamanya, sedang Ken dan Cherry sudah memilih duduk bersama. Sehingga mau tak mau Nara duduk bersama Gabril di tengah-tengah mereka. Perjalanan menuju kota tujuan pun diteruskan. Rencana mereka akan mampir ke bandara Tokyo agar perjalanan dapat cepat sampai.


Astaga. Ternyata dia juga ada di sini. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dia jadi ikut bersama kami? Nara bertanya-tanya sendiri.


Nara duduk di samping Gabril. Ia pun terlihat kikuk di depan sang gadis, seperti baru pertama kalinya bertemu. Sedang Gabril terlihat tersenyum-senyum sendiri.


Nara, maaf. Aku hanya ingin dekat denganmu. Aku tidak tahu perasaan apa yang kurasa. Tapi, aku merasa tertarik dengan kehangatanmu. Aku janji akan lebih menjaga sikap selama tur ini. Izinkan aku ikut, ya.


Gabril melihat ke arah Nara yang hanya terdiam sedari tadi. Pemuda berjaket cokelat itu tampak kikuk saat Gabril menawarkan sebotol soft drink kepadanya. Nara malu-malu untuk mengambilnya. Ia tetap menjaga sikap walaupun tak ada Shena di sisinya.

__ADS_1


Sementara di kediaman Nara…


Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Terlihat Shena yang sedang mencoba mengeluarkan sesuatu dari perutnya. Ia berdiri di depan tempat cuci piring sambil terus menekan perutnya agar sesuatu yang tak enak itu keluar. Namun, yang keluar dari perutnya bukanlah muntahan makanan, melainkan darah.


“Astaga!”


Shena terkejut saat melihat darah keluar dari perutnya. Ia pun lekas-lekas menghidupkan keran air untuk membasuh wajahnya. Seketika wajahnya terlihat pucat sekali.


“Shena, aku pulang.”


Tak lama Hima datang membawa sayuran dan makanan kaleng untuk dimasak hari ini. Shena pun lekas-lekas membersihkan sisaan muntah darahnya, menyiramnya dengan banyak air.


“Em, aku … baik-baik saja. Hanya terlalu banyak minum,” kata Shena menutupi.


Hima segera meletakkan barang belanjaannya. Ia kemudian memperhatikan wajah Shena yang pucat.

__ADS_1


“Shena, wajahmu pucat sekali. Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Hima sambil memegang kedua pipi Shena.


“Aku baik-baik saja, Hima.” Shena melepaskan tangan Hima.


Shena ….


Seketika Hima curiga saat melihat Shena bergegas pergi darinya. Tunangan Nara ini seolah ingin menutupi sesuatu darinya.


Apa dia sedang hamil? Hima menduga-duga sendiri.


Hima enggan untuk menanyakan lagi kepada Shena karena sang teman seperti menghindarinya. Ia pun tidak ingin menambah beban pikiran Shena dengan pertanyaannya, sehingga Hima membiarkan Shena beristirahat terlebih dahulu di kamar. Sedang dirinya mulai mempersiapkan bahan makanan untuk segera dimasak.


Lain Hima lain juga Shena. Ia tampak kepikiran dengan hal yang baru saja terjadi. Pikirannya tiba-tiba kalut dan rasa takut itu pun muncul menghantui. Firasat buruk akan dirinya mulai terasa di hati.


Apakah sakitku kambuh lagi?

__ADS_1


Shena bertanya dalam hati. Ia merebahkan diri di atas kasur berbahan busa tebal dengan bantal empuk yang menyanggah kepalanya.


Shena khawatir jika efek dari sakitnya kambuh dan membuatnya tidak lagi bisa menikmati hidup. Bagaimanapun ia sempat koma beberapa hari setelah pukulan keras mengenai tubuh bagian belakangnya. Walaupun tidak sengaja mengenainya, tetapi tetap saja Shena mengalami luka serius di bagian kepala dan tulang punggungnya. Namun, ia berharap hal ini hanya bawaan lelahnya saja.


__ADS_2