
Shena men-scroll ke bawah dan terus ke bawah, melihat-lihat semua isi beranda Nara sejak sebulan yang lalu. Ia kini tidak lagi menggunakan akun lamanya, melainkan sudah berganti dengan akun yang baru. Karena akun lamanya tidak lagi dapat melihat beranda Nara.
"Tak ada foto Rie di sini," gumam Shena, saat ia tidak melihat foto Rie di beranda Nara sejak sebulan yang lalu.
"Apa mereka sudah putus, ya?" tanyanya, sambil terus berusaha mencari informasi.
Shena lalu membuka unggahan foto Nara dan betapa kecewa dirinya di saat melihat Nara tampak sedang berpelukan bersama Rie di tepi pantai.
"Nara …,” desirnya lirih, ia lalu segera meng-log out akun facebook-nya.
"Sedang apa kau di sana, Nara? Apa kabarmu?" tanyanya sambil melihat kendaraan yang lalu-lalang dari balik kaca jendela kedai.
Shena belum juga berhenti mengingat sang mantan, pemuda bermata biru yang tak lain adalah Nara. Cinta mereka terlahir karena ketidaksengajaan, dan akhirnya membuahkan ujung penyesalan yang amat menyakitkan. Namun, rasa rindu itu terus membelenggu, memaksa hatinya untuk segera menemui masa lalu.
Nara ... sedang apa kau di sana?
Tiba-tiba saja ia teringat dengan kenangan terakhirnya bersama Nara. Kenangan yang membuat hubungannya harus berakhir walau sudah terjalin lama. Begitu memilukan dan memupuskan harapan yang diimpikan.
__ADS_1
Satu tahun yang lalu, di kamar Nara…
"Shena! Apa yang kau lakukan?!"
Nara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah piringan berisi rekaman lagu yang ia ciptakan terpecah belah menjadi tiga bagian.
"Nara, bukan aku pelakunya." Shena membela diri saat Nara mulai menyalahkan dirinya.
"Shena, aku butuh lima bulan untuk membuat album ini dan mengaransemennya. Tapi kau hanya butuh beberapa detik untuk menghancurkannya!" seru Nara menuduh Shena.
"Nara, bukan aku. Tadi aku kemari dan melihat piringan ini sudah terpecah." Shena berusaha menerangkan.
"Tapi, Nara, aku tidak—"
"Cepat pergi!" teriak Nara yang sudah di ambang amarahnya.
"Nara ...,"
__ADS_1
Shena mulai menangis, ia tidak terima jika disalahkan oleh Nara. Terlebih ia benar-benar tidak tahu kenapa piring rekaman itu bisa terbelah. Tapi, Nara tetap saja tidak mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
"Pergi kau, Shena!"
Nara mendorong paksa Shena agar keluar dari kamarnya. Pintu kamar itu kemudian ia tutup dari dalam dan membiarkan Shena berada sendirian di luar kamarnya.
"Nara ...,"
Shena menangis, hatinya terasa pilu mendapat tuduhan akan hal yang tidak ia lakukan. Ia lalu pergi dari kediaman Nara dengan rasa penuh kecewa dan pilu yang mendalam. Sejak saat itulah keduanya tidak pernah bertemu sama sekali. Sampai sebuah pesan putus Shena terima dari Nara. Pemutusan hubungan sebelah pihak membuat Shena jatuh ke jurang kekecewaan.
...
"Kenapa kau tidak mau mendengar penjelasanku dulu, Nara?"
Shena tersenyum tipis, menyayangkan sikap Nara waktu itu kepadanya. Ia pun memegangi dadanya, seolah perih masih terasa di dalam hatinya. Dan tak lama, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Bukan hal yang mudah bagiku untuk melupakanmu. Semua janji telah terukir indah di antara kita. Tapi mengapa, mengapa semuanya harus menjadi debu yang tak bersisa?
__ADS_1
Tak ingin terlarut dalam kesedihan, Shena segera membayar minuman lalu bergegas kembali ke kampusnya. Ia kemudian berlalu bersama dengan kerinduan yang menggebu.