Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Alternatif


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, di ruangan dokter…


Sang dokter menjelaskan alternatif lain untuk menyembuhkan Shena, yang mana Ryuuto tampak tertarik namun tidak terlalu percaya. Baginya hal yang dijabarkan sang dokter tidak dapat diterima logika.


Mereka terus melakukan sesi tanya jawab perihal keadaan Shena saat ini. Sampai pada akhirnya sang dokter menyemangati Ryuuto untuk melakukan alternatif lain demi kesembuhan Shena.


“Saya hanya sebatas menyarankan saja, Tuan Ryuuto. Mungkin waktu penyembuhannya memang akan lama, tapi semua tergantung pada keyakinan masing-masing. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini?” Sang dokter menyemangati.


“Ya, saya mengerti apa yang Dokter maksudkan. Tapi saya khawatir jika terapi hipnotis itu akan berdampak ke depannya.” Ryuuto ragu.


Keduanya duduk berhadapan di depan meja kerja sang dokter. Ryuuto diberi tahu tentang rahasia kekuatan alam bawah sadar yang bisa melakukan apapun, sekalipun hal yang tak mungkin. Tapi, Ryuuto belum bisa menerimanya dengan cepat. Ia takut dampak yang akan terjadi jika melakukan salah satu terapi yang dianjurkan oleh dokter tersebut.


“Kita tidak perlu langsung melakukan hipnotis kepada nona Shena. Kita bisa meminta nona Shena sendiri yang menyembuhkan dirinya. Karena bagaimanapun nona Shena lebih mengetahui dirinya. Tuan Ryuuto sudah mengetahuinya dari dokter Tan jika dilakukan tindakan operasi kemungkinan berhasilnya amatlah kecil. Jadi apa salahnya jika kita mencoba alternatif lain?” Sang dokter meyakinkan.


“Baiklah. Saya akan memikirkannya lagi, Dok. Saya akan membicarakan hal ini kepada Shena sendiri. Semoga dia berminat.” Ryuuto beranjak dari duduknya.

__ADS_1


“Baiklah. Tuan bisa menemui saya di jam kerja rumah sakit.” Sang dokter menuturkan.


“Baik, Dok. Terima kasih.” Ryuuto pun berpamitan.


Ryuuto memikirkan masak-masak tawaran dari dokter jaga hari ini. Ia tidak ingin sembarangan bertindak terlebih statusnya hanya sebatas teman bagi Shena. Ia harus membicarakan hal ini terlebih dulu kepada Shena sendiri. Jika Shena menyetujuinya, barulah ia akan mengurus semua prosedur terapi.


Lain Ryuuto, lain juga Nara. Sang pemuda bermata biru terlihat cemas saat melihat status terakhir dilihat Shena. Menjelang sore ini pikirannya terpecah karena Shena tidak membalas pesannya, apalagi mengangkat teleponnya.


“Hei, Nara.” Ken datang sehabis melakukan gladi resik dengan sound drum-nya. “Kau tampak cemas.” Ken memberi Nara sebotol air mineral.


“Kita masih harus menyelesaikan tur ini sebelas hari ke depan. Bersabarlah, aku yakin Shena baik-baik saja. Hima pasti menjaganya dengan baik. Kami sebelumnya sudah membicarakan hal ini.” Ken menuturkan.


“Kau yang meminta Hima untuk menemani Shena?” tanya Nara seraya menoleh ke Ken yang duduk d sisi kirinya.


“Hm, tidak juga. Katakanlah jika ini adalah inisiatif dari kami,” kata Ken lagi.

__ADS_1


Nara mengangguk. “Ken.”


“Hm?”


“Aku banyak berutang padamu. Maaf aku belum bisa membalas semua kebaikanmu.” Nara tak enak hati sendiri.


“Hei, sudahlah. Kita ini kawan dan seharusnya memang saling membantu, kan?” Ken menepuk pundak Nara.


“Hm, ya. Terima kasih. Tetaplah jadi sahabatku ya, pantat ayam.” Nara meledek Ken.


“Dasar pecundang!” Ken pun membalasnya.


“Hahahaha…” Keduanya kemudian tertawa bersama.


Nara dan Ken seperti sahabat sejati yang langka ditemui di dunia ini. Ken begitu peduli, sedang Nara tahu berterima kasih. Membuat persahabatan mereka semakin terjalin dengan baik.

__ADS_1


Selama ini Ken lah yang banyak membantu Nara, sedang Nara hampir tidak mengetahui permasalahan yang mendera Ken. Saat ia ingin mencari tahunya, ia selalu terburu terkena masalah sehingga tidak sempat menggali lebih dalam sosok pemuda berambut emo ini. Tapi walaupun begitu, Ken sama sekali tidak merasa keberatan. Ia tulus memberikan perhatiannya kepada Nara yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.


__ADS_2