
Beberapa jam kemudian...
Angin siang berembus pelan. Udara juga terasa panas. Sinar matahari seakan membakar bumi, seperti akan terjadi pergantian musim.
Di dalam kamar, Nara duduk menekuk kedua lututnya. Ia memandangi pemukiman penduduk dengan tatapan kosong. Ia juga meminta keempat temannya agar tidak berlama-lama datang. Hari ini ia ingin mencari ketenangan sendiri.
Kabar perihal pemutusan kontrak terpaksa Ken sampaikan karena ia tidak ingin Nara lebih terkejut jika tahu belakangan. Ken dan kawan-kawan sebenarnya segan untuk menyampaikan hal ini. Tapi, karena situasi tidak memungkinkan, Ken terpaksa harus memberi tahu Nara. Apalagi D'Justice akan kembali manggung di berbagai acara. Ken tidak ingin membuat hati Nara lebih terluka saat datang ke tempat latihan dan melihat gitaris penggantinya.
Nara sendiri frustrasi. Ia merasa habis jatuh tertimpa tangga. Pepatah itulah yang tepat untuk menggambarkan keadaannya saat ini. Sejak memutuskan hubungan sepihak dengan Shena, hidupnya mulai berantakan dan hampir saja berakhir dengan tragis.
Nara menyadari kesalahannya karena telah menghadirkan Rie. Ia tidak menyangka jika Rie akan menjadikannya alat untuk balas dendam. Dan bahkan Rie juga telah merebut suami ibunya sendiri. Nara merasa gila dengan semua yang terjadi. Ia seperti keledai bodoh yang berlari ke sana kemari.
Kenapa hidupku bisa seperti ini? Semuanya hancur berantakan. Apa ini karma buruk untukku karena telah membuat hati Shena terluka? Tapi kenapa bisa sampai seperti ini? Ayah ibuku bercerai, keluargaku berantakan. Shena meninggal dan aku mendekam di sel tahanan. Dan kini aku harus menerima kabar pemutusan kontrak sepihak. Apa Tuhan sedang membalas semua perbuatanku?
Nara frustrasi, ia kehilangan arah hidupnya. Beberapa tahun belakangan ia berjuang habis-habisan untuk menggapai mimpi. Dan hari ini ia harus merelakan mimpi itu pergi.
__ADS_1
"Nara ...."
Sang ibu datang menghampirinya. Ia tidak tega membiarkan putranya diselimuti kesedihan yang bertubi-tubi. Masalah seakan tidak pernah selesai dihadapi.
"Ibu ...." Nara pun melihat ibunya datang.
"Sudahlah, Nak. Ikut ibu saja ke Hokaido. Kita mulai kehidupan yang baru di sana." Sang ibu mengajaknya.
"Tapi, Bu. Apa aku harus menyerah begitu saja? Perjalananku masih panjang. Aku tidak ingin merelakan mimpi yang telah kubangun dengan susah payah. Aku yakin masih mempunyai kesempatan untuk bangkit." Nara berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Nara tertegun. "Aku tidak mengerti mengapa kesialan ini selalu menimpaku. Aku merasa seperti dikutuk oleh Tuhan. Aku—"
"Ssst. Sudah. Semua sudah digariskan. Jangan mengeluh dengan keadaan. Contohlah ibu, dikhianati ayahmu dan dibuat seolah-olah gila, tapi ibu bisa menerimanya." Sang ibu membandingkan.
Seketika Nara merasa amat bersalah. Ia segera memeluk ibunya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bu. Semua ini salahku. Aku telah menghancurkan rumah tangga yang telah ibu bangun. Maafkan aku. Andai saja aku tidak menghadirkan Rie, tentu semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku." Nara mulai menangis di pelukan ibunya.
"Sudah-sudah. Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Apa yang terjadi biarlah jadi pelajaran. Sekarang bangkitlah! Yakin kau akan menemukan jalanmu sendiri." Shina menguatkan.
"Ibu ...."
"Mungkin di Tokyo tidak, tapi semoga di tempat lain kau menemukannya, Anakku." Sang ibu memegang lembut wajah putranya.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih." Nara memeluk ibunya lagi.
Sebagai seorang ibu tentunya Shina merasa sedih dengan hal yang menimpa anaknya. Ia tidak tega membiarkan Nara terus-terusan dilanda nasib buruk seperti ini. Baru saja ditinggalkan tunangannya, Nara harus berhadapan dengan kepolisian. Dan kini harus mendapat kabar pahit dari pihak manajemen band-nya. Sungguh tidak dapat Shina bayangkan jika berada di posisi Nara.
Nara, bersabarlah, Nak. Semua ada waktunya. Dan mungkin waktumu hanya sampai di sini. Tapi yakinlah akan datang waktu-waktu lain yang akan membuatmu bahagia. Roda kehidupan akan terus berputar, tidak peduli dengan keadaan. Ibu yakin kau akan menemukan jalanmu sendiri.
Siang ini menjadi saksi doa sang ibu kepada putra semata wayangnya. Ia berharap Sang Pencipta mendengar dan mengabulkan doanya. Ia ingin Nara mendapatkan kebahagiaan.
__ADS_1