
"Maaf, Nek. Maaf. Ini sudah kubereskan."
Nara segera menyerahkan barang bawaan si nenek yang sudah tersusun rapi di dalam sebuah kotak tanpa penutup.
"Lain kali kalau jalan pakai mata, Anak Muda!" seru si nenek lalu bergegas pergi meninggalkan Nara, tentunya setelah barang bawaannya kembali dengan lengkap.
"Maafkan aku." Nara membungkukkan badannya sampai si nenek benar-benar berpaling dan meninggalkannya.
"Hah, nenek itu." Ia bertolak pinggang sebagai pelampiasan rasa lelahnya, sehabis membangunkan tubuh si nenek yang berat.
"Shena?!"
Nara kemudian teringat lagi kepada Shena. Ia segera berbalik mencari sang mantan. Berjalan cepat sambil mencari-cari ke luar pintu stasiun. Langkahnya begitu terburu-buru, menerobos khalayak ramai yang berlawanan arah dengannya.
Shena di mana dirimu?
Ia kemudian menuju halaman parkir yang ada di stasiun. Pandangannya pun menatap lurus dan tajam sambil tetap mencari-cari, di manakah gerangan sang mantan yang pernah menghujami hatinya dengan penuh perasaan cinta dan kasih sayang?
"Shena!"
__ADS_1
Nara berteriak, mencoba berlari ke luar area stasiun. Berharap menemukan sang mantan yang telah ia abaikan. Tapi sayang, sang mantan tak kunjung ditemukan.
"Hah, hah, hah ....”
Napasnya terengah-engah. Rasa lelah menimpanya setelah menghabiskan waktu seharian di kampus ditambah berlari untuk mengejar sang mantan. Namun akhirnya, tak kunjung pula ia temukan.
"Sial!"
Ia menendang kosong ke sembarang arah. Ia kesal kepada dirinya karena tidak berhasil menemui seorang wanita yang dahulu amat dicintainya. Seorang wanita dengan tutur kata lembut dan dapat menjadi penjaga hatinya. Tapi, semua itu sebelum sebuah fitnah besar tertelan mentah-mentah olehnya. Sebuah fitnah yang menghancurkan jalinan kasih di antara keduanya yang sudah berniat untuk naik ke jenjang pernikahan.
Sementara itu...
Sesampainya di kantor, ia berjalan cepat menuju ruangannya. Budaya malu datang terlambat pada masyarakat Jepang, sudah tertanam pada dirinya sejak kecil. Sehingga bagaimanapun ia harus datang tepat pada waktunya.
Untung saja Shena tidak datang terlambat. Ia tiba di kantor bertepatan dengan jam masuk kerjanya. Shena kemudian membuka pintu ruang kerjanya dan ternyata ada Hima dan Ryuuto di sana.
"Selamat sore." Shena menyapa, membungkukkan badannya ke arah Ryuuto dan Hima yang sedang melihat komputer bersama.
"Shena," sapa Hima yang mengenakan seragam yang sama seperti Shena.
__ADS_1
"Maaf, apakah aku mengganggu?" Shena mulai meletakkan tasnya dan duduk di depan Hima.
"Ti-tidak. Kami sedang—mmmm."
Hima berusaha meneruskan kata-katanya. Tapi, lagi-lagi Ryuuto membungkam mulutnya itu.
"Maaf, Shena. Sepertinya aku harus pulang."
Ryuuto yang tengah berdiri di samping Hima, tiba-tiba saja berpamitan kala Shena datang. Ia tersenyum kepada Shena sambil melepaskan bungkaman tangannya pada Hima. Ia pun bergegas meninggalkan ruangan.
"Hem, baiklah. Hati-hati," sahut Shena sambil membalas senyuman Ryuuto.
Sementara Hima tampak terengah-engah. "Hah, hah."
Hima selalu saja diperlakukan seperti ini oleh Ryuuto, sebagai bantalan karena tidak mampu mengendalikan diri di hadapan Shena.
"Kau tak apa, Hima?" tanya Shena, melihat keadaan Hima yang seperti kehabisan napas.
"Shena ... hah, hah …," Hima masih berusaha mengatur ulang napasnya.
__ADS_1
"Sepertinya ... sepertinya kalian harus segera berbicara empat mata. Daripada ... daripada aku yang selalu menjadi bantalan," ungkap Hima sambil memegang dadanya karena terasa sesak.