Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Karma Buruk


__ADS_3

Di kantor kepolisian Tokyo...


Ken mendatangi sang ayah setelah ayahnya meminta agar segera datang. Pria paruh baya berusia empat puluh lima tahun itu menuturkan hal apa saja yang didapatkannya. Dan kini sang putra tengah duduk di depan meja kerja ayahnya.


"Ayah tidak menyangka jika Nara harus mengalami hal seperti ini. Ayah pikir dia adalah pemuda yang beruntung." Zain memulai pembicaraannya.


"Ya, aku juga tidak menyangka jika dia harus banyak kehilangan orang yang disayanginya." Ken amat menyayangkan hal yang terjadi pada temannya itu.


"Ken, untung saja malam itu kau cepat menghubungi ayah. Kalau tidak, ayah tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."


"Maksud Ayah?" Ken serius.


"Pria itu benar-benar gila. Dia memasang banyak bom rakitan di gudang tua tersebut. Entah apa motifnya, tapi yang ayah tahu dia sudah membeli gudang itu."


"Apa?!" Ken terkejut bukan main.


"Dia adalah anak pemilik redaksi majalah dewasa kota ini. Ayahnya bukanlah orang sembarangan. Dan ada satu hal yang ayah khawatirkan pada Nara."


"Apa itu, Yah?" tanya Ken segera.

__ADS_1


"Hah ...." Zain, ayah Ken mengembuskan napasnya dengan berat.


"Ayah, jangan membuatku cemas." Ken berubah roman wajah.


"Ken, masalah ini bukanlah masalah kecil. Ayah khawatir ayah dari pria itu menuntut balik Nara karena telah membunuh anaknya." Zain menuturkan.


"Astaga ...." Ken merasa cemas.


"Walaupun Nara mengatakan untuk melindungi diri. Tapi bisa saja semua berbalik. Apa yang tidak bisa dilakukan uang saat ini?" Zain menjelaskan.


Ken terdiam.


"Ayah dari pria itu mempunyai banyak uang. Ini hanya sebatas perasaan ayah saja. Tapi jika benar terjadi, kau harus siap untuk kehilangan gitaris band-mu."


"Aku ... aku tidak tahu, Yah." Ken seperti tidak dapat berpikir.


"Ya, sudah. Jangan terlalu dipikirkan hal yang belum terjadi." Zain menenangkan putranya.


Ken hanya diam sambil memalingkan wajah.

__ADS_1


"Ken, kau kenal dengan wanita ini?" Zain kemudian menunjukkan selembar foto kepada putranya.


Ken melihat foto tersebut. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat siapa yang ada di dalam foto.


"Ini, kan?!!"


"Ya. Dia Rie." Zain membenarkan.


"Astaga! Bagaimana dia bisa seperti ini?" Ken tidak menyangka melihat posisi Rie di dalam foto.


"Mungkin sudah menjadi balasan untuknya, Ken. Jadikan pembelajaran kita." Zain berusaha bijak.


"Lalu bagaimana dengan ayah Nara, Yah?" tanya Ken lagi.


"Hah, dia sama parahnya. Sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit." Zain menuturkan lagi.


"Astaga. Pria itu memang benar-benar nekat. Dia seperti sudah merangkai jalan ceritanya sendiri untuk menyingkirkan siapa saja yang menghalanginya." Ken tak habis pikir.


"Kabarkan hal ini kepada Nara agar dia tahu apa yang terjadi setelah malam itu. Bicarakan baik-baik padanya agar dia lebih siap menerima apapun yang terjadi. Sebagai teman kau harus bisa menguatkannya di dalam kondisi seperti ini." Zain menepuk pundak putranya.

__ADS_1


"Baik, Yah. Terima kasih atas bantuannya." Ken akhirnya bisa menerima.


Ken benar-benar tak percaya dengan kabar yang ia terima siang ini. Jauh di dalam lubuk hatinya tersimpan kekhawatiran yang berimbas kepada band-nya. Ia khawatir karena masalah ini band-nya ikut terkena dampak dari apa yang terjadi. Namun, ia berharap ini hanya sebatas rasa cemasnya saja dan tidak menjadi nyata.


__ADS_2