
Esok harinya…
Seorang gadis bermantel cokelat tampak memasuki halaman rumah Nara. Ia menjinjing tas hitamnya sambil menuju ke pintu masuk. Sesampainya ia pun segera mengetuk pintu.
“Permisi. Shena!”
Ia memanggil Shena dari luar. Seorang gadis berdaster kuning pun membukakan pintu untuknya.
“Siapa, ya?” Gadis berdaster kuning itu tidak mengenali sosok yang datang.
“Hima, kah? Aku Hana, sepupu Shena.” Gadis bermantel cokelat itu memperkenalkan dirinya.
Hana? Jadi dia ini sepupu Shena? Hima bertanya sendiri.
“Maaf aku menganggu. Shena memintaku untuk datang menemuinya. Apakah aku boleh masuk?” tanya gadis yang memang benar adalah Hana.
“Oh, ya. Silakan.” Hima pun mempersilakan Hana masuk.
Hana kemudian duduk di ruang tamu. Ia menunggu kemunculan Shena. Sedang Shena baru saja mandi. Hima pun segera memberi kabar jika Hana datang.
“Oh, baiklah. Tunggu sebentar.” Shena segera masuk ke kamar lalu mengenakan pakaian.
Selama menunggu Shena, Hima menghidangkan secangkir teh hangat kepada Hana. Mereka pun berbincang-bincang sebentar.
“Silakan diminum, Hana.” Hima mempersilakan.
__ADS_1
“Terima kasih.” Hana pun meneguk teh yang dihidangkan untuknya. “Apakah kau teman kerja Shena?” Hana mulai membuka percakapannya.
Eh? Hima terkejut. Apakah Ryuuto menceritakannya? Hima bertanya sendiri.
“Em, ya. Aku teman sekantor Shena dulu.” Hima menjawabnya seraya tersenyum.
“Berarti kau teman kerja Ryuuto juga?” tanya Hana kembali.
“Em, Ryuuto adalah bosku,” jawab Hima lagi.
“Oh.” Hana pun mengangguk.
Tak lama, Shena pun datang lalu menyapa Hana.
“Hana, kau berangkat pagi-pagi dari kedai?” Shena segera duduk di tengah-tengah Hima dan Hana.
“Aku baik, Hana.” Shena tersenyum. “Eh, ya. Kenalkan ini Hima. Hima adalah teman sekantorku dulu." Shena teringat jika belum memperkenalkan keduanya. "Dan Hima ini adalah Hana, sepupuku," kata Shena lagi.
Keduanya pun berkenalan.
“Hima.”
“Hana.”
“Hima, bisakah kau buatkan bubur untukku. Aku ingin makan bubur buatanmu. Rasanya lapar sekali.” Shena tertawa sendiri.
__ADS_1
“Em, baiklah. Kalau begitu aku tinggal dulu." Hima tersenyum kepada keduanya.
Hima beranjak dari duduk. Ia mengerti jika Shena ingin membicarakan sesuatu kepada Hana tanpa perlu diketahuinya. Hima pun undur diri ke dapur. Ia biarkan Shena berbicara empat mata dengan Hana.
Jadi itu yang namanya Hana. Dia yang menyukai Ryuuto. Apakah Shena sudah tahu kedekatan keduanya?
Dalam diam Hima begitu memedulikan Shena. Ia tidak ingin Shena merasa sedih jika tiba-tiba mengetahui kedekatan Ryuuto dengan sepupunya. Walaupun Shena sudah bersama Nara, Hima tetap saja khawatir akan kerapuhan hati Shena.
Lain Hima lain juga dengan Hana. Sepupu Shena ini tampak sedang mencatat apa saja yang Shena pesankan kepadanya. Tampak Hana yang mengangguk pertanda mengerti. Shena pun merasa lega karena telah memberi tahu pekerjaan apa saja yang harus Hana lakukan di kedai selama ia tidak ada.
“Shena, banyak sekali pesanmu. Lihat! Catatanku banyak sekali.” Hana tertawa sendiri.
Shena tersenyum, ia lalu berkata, “Hana, aku titip kedai padamu. Tolong kembangkan usaha ini hingga bisa membuka lapangan pekerjaaan untuk yang lain. Jika ada keuntungan bersih, berikan sebagian keuntungannya untuk panti asuhan, ya.” Shena berpesan kepada Hana.
“Shena?” Dalam sekejap Hana merasa sesuatu tak beres sedang terjadi. “Shena, kau baik-baik saja, bukan?” Seketika Hana cemas.
“Em, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir,” balas Shena segera.
“Tapi perkataanmu ….”
“Sudah jangan dipikirkan. Anggap saja jika pagi ini sedang dilakukan penyerahan kepercayaan padamu. Aku tidak punya saudara lagi selain dirimu, Hana.” Shena menuturkan.
“Iya, tapi,"
“Sudahlah. Aku baik-baik saja. Sekarang kita sarapan bersama, ya.” Shena beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Dengan lemas Shena berjalan ke dapur. Ia berniat menemui Hima yang sedang memasak bubur untuknya. Tak lama tiga mangkuk bubur pun sudah siap disantap pagi ini. Ketiganya lalu sarapan pagi bersama. Shena juga tak lupa untuk mengakrabkan Hima dan sepupunya. Mereka bercengkrama ria pagi ini.