Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Aku Menyerah


__ADS_3

"Apa? Kau menyuruh aku pulang di malam selarut ini? Apa kau tidak punya hati?!" balas Gabril sambil menatap Nara tepat di mata.


"Bukannya aku tidak mempunyai hati, tapi aku merasa risih ada seorang perempuan yang baru kukenal berada di dalam rumahku," sahut Nara sedikit ketus sambil menutup pintu kamarnya dari luar.


"Jadi kau keberatan jika aku menumpang di sini untuk semalam?" tanya Gabril kemudian.


Nara berpikir sejenak mengenai permohonan Gabril yang meminta izin untuk menginap semalam di rumahnya.


"Hei, Nara! Aku bukanlah seorang penjahat. Aku benar-benar butuh tempat menginap untuk malam ini. Lihat! Jam di dinding sudah hampir pukul sebelas malam. Di mana hati nuranimu yang menyuruhku pulang di malam selarut ini?! Ditambah di luar hujan!" gerutu Gabril seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.


Keduanya bercakap tepat di depan pintu luar kamar Nara.


Hem, benar juga apa katanya. Jika aku membiarkannya pulang, malah nanti akan lebih merepotkan, gumam Nara. "Ya, baiklah. Kau tidur saja di kamar yang berada di lantai satu. Jangan lupa kunci pintu. Toh, tidak ada barang mewah juga di rumahku ini. Sudah, ya. Aku mau beristirahat!" ucapnya lalu segera masuk ke dalam kamar.


"Tapi, Nara—" Gabril berusaha menolak.

__ADS_1


"Tidak ada tapi!"


Nara kemudian mengunci pintu kamarnya dari dalam, ia lalu membaringkan tubuh di atas kasur berbahan busa tersebut. Meninggalkan Gabril sendirian di luar.


"Hufft, menyebalkan anak itu!" Gabril terlihat kesal karena tingkah Nara yang acuh tak acuh padanya.


Sementara di dalam kamar tampak Nara yang sedang membuka celananya. Ia melihat ular kasurnya yang telah meneteskan bisa.


"Gawat! Semakin lama berada di dekatnya, semakin aku menginginkannya," gumamnya sambil menormalkan kondisi si ular kasur.


Beberapa jam kemudian...


Di dalam kamar, terlihat Nara yang begitu terlelap dalam tidurnya. Sampai-sampai saliva itu berceceran ke mana-mana. Baik di bantal maupun di guling.


Dari balik pintu, sang gadis bersurai pirang panjang itu berusaha membuka kunci pintu kamar Nara dengan kunci kamar di lantai satu. Ternyata kunci kamar itu cocok dengan kunci kamar yang berada di lantai dua. Segera saja ia berjalan mengendap-endap mendekati Nara. Gabril kemudian membuka kancing kemeja putih panjang yang dipinjamkan kepadanya.

__ADS_1


Satu kancing dari bagian atas, dua, tiga dan kemudian semua kancing kemeja itu terlepas dari kaitnya. Kemeja itu kemudian dijatuhkan Gabril ke lantai kamar lalu ia segera merebahkan dirinya di samping Nara.


"Hmmm."


Nara mengusap wajahnya dengan guling yang sedang ia peluk. Terdengar dirinya mengeluarkan gumaman-gumaman aneh.


Gabril membelai wajah Nara dengan jemarinya yang lentik, lalu turun ke bibir sang pemuda bermata biru ini. Sesekali ia mengusap lembut bibir itu, tangannya pun meraba-raba tubuh Nara yang sekarang sudah mulai gelisah. Nara kemudian membuka kedua matanya untuk melihat apa yang terjadi.


"Gabril?!"


Nara melihat Gabril tengah memakai bikini putih, tertidur di sampingnya. Ia mencoba bangun tapi gadis itu menahannya.


"Nara, aku tidak akan mengganggumu. Tidurlah," pinta Gabril dengan tatapan mata yang memaksa.


"Gabril?!" Nara terkejut dengan ucapan Gabril.

__ADS_1


"Tak apa." Gabril kemudian memegang tangan kiri pemuda bermata biru yang sedang memeluk gulingnya.


"Gabril ini—" Pikiran Nara menjadi tidak terfokus saat Gabril mengarahkan tangannya untuk hinggap di pertengahan kedua bukit yang besar.


__ADS_2