Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kabar Buruk


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi telah datang. Cuaca pun mulai menghangat saat sang mentari menampakkan sinarnya. Sang gadis kepunyaan Sai ini baru saja selesai mencuci pakaian kotor dan menjemurnya. Pagi ini ia sibuk beres-beres rumah seorang diri.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Hima pun bergegas mandi dan bersiap untuk ke rumah sakit. Rencana hari ini ia akan bergantian menjaga Shena. Tak lupa untuk membawa cemilan sambil menunggu keadaan Shena tersadar.


Semoga pagi ini Shena sudah siuman. Hima berharap besar.


Selepas mandi ia kenakan mantel birunya lalu mengenakan pelembab di wajah. Ia juga menyemprotkan sedikit parfum lalu mengambil tasnya yang sudah berisi pakaian ganti dan cemilan. Hima bersiap pergi menuju rumah sakit.


Untung Hana meminjamkan skuter. Kalau tidak, aku tidak akan bisa kembali ke rumah dan beristirahat sejenak semalam.


Hima segera mengunci semua pintu dan jendela rumahnya. Ia kemudian mengendarai motor menuju rumah sakit. Tak lupa mengenakan helm dan juga masker. Gadis itu akhirnya melaju dari kediaman rumah Nara.


...

__ADS_1


Pemandangan kota hari ini tampak dipadati penduduk. Hima pun segera mengendarai motornya menuju rumah sakit, melewati perkotaan yang mulai padat.


Semoga kabar baik kudengar.


Menempuh tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Hima tiba di rumah sakit. Ia pun segera memarkirkan motornya lalu bergegas masuk ke dalam. Ia menuju ruangan tempat Shena dirawat.


Sesampainya di ruangan, Hima segera masuk ke dalam. Tapi ternyata keadaan di dalam ruangan sudah kosong.


"Eh, apakah aku salah masuk ruangan?"


Hima bingung saat melihat ruangan yang biasa ia kunjungi telah kosong. Iapun segera menelepon Hana untuk menanyakan keberadaan Shena. Tapi, teleponnya itu tidak kunjung dijawab oleh Hana.


Gadis bermantel biru itu segera melangkahkan kakinya menuju ruang daftar pasien. Ia pun menanyakan keberadaan Shena. Namun tak lama, sebuah kabar mengejutkan diterima olehnya.


"Apa?!!" Hima terkejut. Ia segera berlari ke ruang ICU.

__ADS_1


Astaga, Shena. Kenapa bisa begini?


Keadaan Shena ternyata sedang kritis dan kini ditangani para dokter di ruang ICU. Hima pun berlari sekuat tenaga menuju ruang ICU. Ia tidak lagi memedulikan laju napasnya yang tersengal. Ia hanya ingin melihat keadaan Shena.


Shena, tunggu aku.


Ia berbelok menyusuri setiap koridor rumah sakit. Dan akhirnya ia sampai di pertigaan ruang ICU. Namun, sesampainya di sana ia melihat Hana tengah menangis. Dan tak lama kemudian Hima pun melihat pasien dikeluarkan dari dalam ruang ICU. Yang mana Hana membuka penutup wajah pasien tersebut.


Shena?!!!


Jantungnya melambat seketika saat menyaksikan pemandangan itu. Hima pun ingin segera berlari ke sana. Tapi entah mengapa kedua kakinya terasa lemas, seperti tidak ada tenaga. Dan akhirnya, pasien tersebut dibawa ke ruangan lain. Sedang ia melihat Hana jatuh berlutut di atas lantai rumah sakit. Hima pun menggeser kakinya agar bisa melangkah untuk menemui Hana.


Shena, apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja, bukan? Hima terus berusaha mendekati Hana untuk menanyakan keadaan Shena.


Pagi ini Hima terlihat lemas. Ia mendekati Hana yang sedang menangis dengan harap-harap cemas di hatinya. Ia pun menanyakan keadaan Shena kepada Hana. Namun, sebuah kabar buruk harus didengar olehnya. Ternyata Shena telah meninggal dunia.

__ADS_1


"Tidak. Ini tidak mungkin terjadi." Hima tak percaya.


Kristal bening pun tak mampu lagi ia bendung. Air mata itu jatuh bercucuran membasahi pipinya. Hima terduduk lemas di lantai rumah sakit. Ia tidak percaya dengan kabar yang harus diterimanya pagi ini.


__ADS_2