Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Tidak Terima


__ADS_3

Di persidangan...


Gugatan demi gugatan diajukan oleh pihak penggugat kepada Nara melalui jaksa penuntut umum. Nara pun hanya bisa terdiam saat mendengar banyaknya gugatan yang diajukan kepadanya. Ia berusaha tenang menghadapi masalah ini.


“Saudara Nara, apa pembelaan diri Anda terhadap gugatan yang diajukan?”


Hakim mediasi persidangan meminta Nara untuk membela dirinya. Ia tidak mungkin hanya mendengar masalah dari satu sudut pandang. Ia juga ingin mendengar dari sudut pandang pihak tergugat. Sementara pengacara Nara masih menunggu waktu yang tepat untuk bicara.


“Saya tidak ada niat sebelumnya untuk membunuh Yudo. Saya juga sudah berusaha menghindari hal ini. Tapi Yudo sendiri tidak berhenti, dia terus saja ingin membunuh saya. Jadi apakah saya salah membela diri?” tanya Nara dengan tatapan nanar ke arah jaksa penuntut umum, pihak Yudo.


Hakim pun terdiam sejenak.

__ADS_1


“Yang Mulia, seharusnya saudara Nara tidak sampai membunuh Yudo. Dia bisa saja membuat Yudo pingsan tanpa harus menembakkan peluru ke dada mendiang. Ini seperti sebuah kesengajaan.” Jaksa penuntut umum berdalih.


Seketika Ken kesal bukan main mendengarnya. Ia berdiri dari duduk lalu menatap tajam ke arah jaksa penuntut umum tersebut. Ia ingin menjadi saksi kunci atas permasalahan ini. Jaksa penuntut umum itupun melihat ke arah Ken, namun ia mengabaikannya.


“Ken, sudahlah. Biarkan mediasi ini berjalan dengan lancar.” Shina, ibu Nara meminta Ken agar tetap tenang.


Ken akhirnya bisa meredam kekesalannya setelah ibu Nara sendiri yang meminta. Mediasi persidangan inipun dilanjutkan.


“Yang Mulia, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya hanya membela diri. Karena jika hal itu tidak saya lakukan, maka saya yang akan terbunuh oleh Yudo. Berulang kali saya menahan tindakan ini, tapi Yudo malah menikam perut saya dengan pisau. Dua pendarahan hebat pun harus saya terima. Saya juga harus melakukan operasi penjahitan. Apakah hal itu tidak cukup membuktikan jika sebenarnya saya lah yang telah menjadi korban?!” Nara mulai kesal.


“Yang Mulia, izin menambahkan.” Pengacara Nara meminta izin.

__ADS_1


“Baik, silakan.” Hakim pun mempersilakannya.


“Pihak penggugat terlalu melebih-lebihkan. Pihak tergugat adalah korban sebenarnya, tapi pihak penggugat bersikap seolah-olah menjadi korban. Hal ini amat lucu bagi penegak hukum. Di saat terdesak pastinya semua orang akan melakukan hal yang sama seperti saudara Nara. Mohon Yang Mulia pertimbangkan masak-masak. Jangan sampai timbangan keadilan berat sebelah.”


Pengacara Nara begitu berani menuturkan kata-katanya di depan hakim dan juga jaksa penuntut umum. Tak ayal keadaan mediasi persidangan ini semakin memanas.


...


Menit demi menit pun berlalu hingga akhirnya mengantarkan proses mediasi persidangan ini sampai di titik akhirnya. Setelah dua jam lamanya akhirnya sang hakim memutuskan...


“Setelah saya menimbang, apa yang dikatakan oleh saudara Nara benar adanya. Pengadilan menolak semua gugatan dari pihak penggugat dan memutuskan untuk mengakhiri kasus ini. Adapun jika pihak penggugat masih keberatan, bisa mengajuan banding ke pengadilan tinggi. Namun, saya berharap terjadi kesepakatan d antara kedua belah pihak. Amat disayangkan jika hal ini harus berlanjut ke pangadilan tinggi. Lebih baik diselesaikan dengan sistim kekeluargaan.”

__ADS_1


Sang hakim mediasi mengetuk palunya tiga kali. Ia menutup kasus ini. Betapa gembira hati Shina mendengar keputusan hakim. Akhirnya ia bisa bernaps lega setelah berjam-jam menunggu keputusan pengadilan tentang putranya. Namun, pihak penggugat begitu kesal dengan keputusan mediasi hari ini. Jaksa penuntut umum segera menghubungi Hisei, ayah dari Yudo setelah mediasi berakhir.


__ADS_2