
"Namaku Gabril, senang berkenalan denganmu." Sang gadis mengulurkan tangan kanannya, mengajak berjabat tangan sambil tersenyum manis.
"Aku Nara," sahut Nara datar.
Gadis yang bernama Gabril itu merasa kesal dengan sikap acuh tak acuh pemuda bermata biru ini. Tapi, ia tidak henti-hentinya berusaha mendekati.
"Sudah ya marahnya. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Gabril yang mengikuti Nara sambil membawa barang belanjaannya.
Sepertinya, aku pernah melihat gadis ini. Rambutnya, wajahnya, tapi ... entah di mana? gumam Nara sambil memasang wajah aneh, melihat tingkah Gabril yang terus membujuknya.
Di antara rerintikkan hujan yang turun, kedua insan ini berjalan cepat menuju sebuah rumah berlantai dua. Nara tidak mengindahkan Gabril yang sedari tadi mengikutinya sampai ia tiba di teras depan rumahnya sendiri.
Di rumah Nara...
Nara segera mengambil kunci rumah yang ada di saku celananya, lalu membuka pintu rumahnya itu. Pintu rumah yang berwarna cokelat pun berhasil dibuka dari luar. Tak lama, Gabril datang menyusul Nara.
__ADS_1
"Huh! Dinginnya." Ia berjalan mendekat ke arah Nara. "Ja-jadi ini rumahmu, Nara?" tanya Gabril yang masih membawa barang belanjaannya.
Tubuh gadis berambut pirang panjang itu tampak kedinginan. Seluruh tubuhnya basah terkena hujan. Begitu pun dengan Nara yang tidak menyangka jika hujan deras akan tiba-tiba datang.
"Masuklah," ucap Nara kepada Gabril.
Gadis bersurai panjang itu kemudian masuk ke dalam rumah Nara. Saat ia masuk, terlihatlah ruang tamu mini yang terdapat tiga sofa kecil berwarna merah, disusun berbentuk huruf U miring ke kiri.
Di samping kursi-kursi itu, ada sebuah lantai kosong yang mana jika maju sedikit ada satu kamar berukuran 3x3 meter. Di dalamnya hanya berisi sebuah kasur dan lemari kayu yang berukuran sedang.
Tak lama kemudian, Gabril keluar dari kamar. Dengan penuh percaya diri, ia memberi tahu Nara jika dirinya sudah berganti pakaian.
"Sudah selesai, Nara. Terima kasih," ucap Gabril sambil tersenyum ramah.
Nara menoleh ke arah Gabril yang berada di depan pintu kamar. Tapi, suatu pemandangan mengejutkan terlihat di depan kedua matanya.
__ADS_1
"Ka-kau! Ap-apaan ini?!" Nara terbata, ia tidak tahu harus berkata apa saat melihat seorang gadis cantik berpakaian bikini putih di hadapannya.
"Hem, aku sudah berganti pakaian, Nara." Gabril berjalan mendekati Nara.
"Tu-tunggu! Kau di situ saja, jangan mendekat!"
Nara memundurkan badannya ke belakang saat Gabril mendekat ke arahnya. Iapun terpojok karena Gabril terus mendekatinya, tidak bisa lari ke mana pun. Melihat hal itu, Gabril membungkukkan tubuhnya lalu menatap dalam sang pemuda bermata biru.
"Apa ada yang aneh denganku, Nara?" tanya Gabril sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nara.
Nara seketika memalingkan pandangannya saat melihat tubuh mulus berbikini itu. Yang mendekatinya, menatapnya dan mengajaknya berbicara.
"Ta-tadi, tadi kau bilang hanya ingin berganti pakaian. Mengapa sekarang hanya berbikini seperti itu, Gabril?!"
Nara bertanya sambil memejamkan kedua matanya dan membuang pandangan, menghindari tatapan Gabril yang tertuju ke arahnya. Kedua bukit ranum yang tergantung itu pun terlihat jelas di kedua matanya, membuat sesuatu mulai terasa sesak di bawah sana. Ditambah dinginnya udara karena hujan. Lengkap sudah! Lengkap sudah penderitaan Nara.
__ADS_1