
Sementara itu…
D’Justice baru saja tiba di Osaka, Jepang. Kedatangannya disambut oleh pihak penanggung jawab konser. Band asuhan Hata menjadi sorotan utama para awak media, mengalahkan Black Pepper yang menjadi juara pertama.
Nara dan kawan-kawan memakai kaca mata hitam untuk menutupi mata sembab karena kurang tidur. Mereka didampingi Hata menuju lobi bandara untuk mengadakan sesi wawancara sejenak. Walaupun mengantuk, mau tak mau harus melayani wawancara tersebut.
Selama wawancara berlangsung, ponsel Hata terus bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ia akhirnya melihat siapa yang memanggilnya. Dan ternyata, Hisei dan Michael lah yang menelepon.
Astaga, ada apa ya?
Hata segera menjauh dari tempat wawancara dan mencari ruang sepi untuk menelepon balik Michael dan Hisei. Namun, pertama kali yang ia telepon adalah Michael, owner Sony Music tempatnya bekerja.
“Hata!” Suara dari seberang memanggil namanya.
“Tuan Michael, maaf kami baru sampai di bandara.” Hata menjelaskan.
__ADS_1
“Manajer Hata, tuan Hisei meneleponku dan menanyakan perihal Nara. Bagaimana ini?"
tanya Michael dari seberang.
Astaga, Hisei sepertinya tidak dapat bersabar menunggu kepulangan Nara ke Tokyo.
“Tuan Michael, aku akan meneleponnya. Anda tidak perlu khawatir.” Hata menenangkan.
“Baiklah. Aku serahkan urusan ini padamu. Jangan sampai nama baik Sony Music tercoreng karena gitaris itu.” Michael berpesan.
“Baik.” Hata pun segera mematikan teleponnya.
Hisei adalah ayah dari Yudo. Ia menuntut pihak Sony Music untuk mengeluarkan Nara dari manajemen karena telah membunuh putranya. Hata sendiri sudah menemuinya dan membicarakan hal ini baik-baik. Namun, Hisei tetap bersikeras untuk meminta pertanggungjawaban Nara atas kematian putranya.
Aku harus cepat meneleponnya.
__ADS_1
Hata sebagai manajer D’justice pun mau tak mau turun tangan menghadapi masalah ini. Ia bertanggung jawab atas sesuatu yang berkaitan dengan personil band asuhannya. Ia kemudian menelepon Hisei, yang mana terdengar suara dari seberang seperti sedang marah kepadanya.
“Mohon maaf, Tuan Hisei. Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Kami baru tiba di Tokyo sekitar empat hari lagi. Mohon jangan gegabah bertindak sehingga kedua nama baik tercoreng.” Hata mengingatkan.
Balasan suara dari seberang semakin meninggi. Hata pun kesal dengan hal yang dituturkan oleh sosok bernama Hisei.
"Ya, aku mengerti. Kita akan membicarakan hal ini setelah kami tiba di Tokyo. Tolong menunggu. Jika Anda tidak bisa menunggu, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi nantinya. Jadi, tolong jangan gegabah bertindak." Hata segera mematikan telepon setelah menegaskan perkataannya.
Hata merasa kesal dengan Hisei. Tapi karena pekerjaan, ia harus bersikap seprofesional mungkin. Dan akhirnya, ia membuat janji temu saat sudah tiba di Tokyo.
Astaga … haruskah aku mengatakan hal ini kepada D’Justice? Hata dilanda kebimbangan.
Sang manajer segera kembali ke tempat band asuhannya yang sedang melakukan sesi wawancara. Setelah wawancara selesai, barulah ia mengajak seluruh personil band untuk sarapan pagi bersama. Ia berusaha melupakan sejenak masalah yang sedang melanda.
Kak Hata terlihat gundah. Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
Terlihat Hata yang sedari tadi diperhatikan oleh Gabril. Adik dari atasannya ini tidak melepas pandangannya dari Hata. Sementara yang lain meneruskan sarapan paginya di restoran terdekat.
Selain wajahnya rupawan, Hata juga memiliki kepribadian yang tenang. Namun, siapa sangka jika kepribadiannya mulai membuat Gabril tertarik. Adik dari bosnya ini tanpa segan terus memperhatikannya.