
"Ibu, bagaimana bisa ibu berada di sini?" Nara bertanya setelah melepaskan pelukannya.
Shina lalu mengajak Nara duduk bersama di kursi yang ada di dalam ruangan. Mereka duduk sejajar menghadap ke dinding yang terdapat sebuah lukisan pemandangan.
"Nara, maaf. Selama ini ibu harus menutupinya darimu." Shina, ibu Nara memulai pembicaraannya.
"Ibu ...."
"Mungkin sebagian telah Ken ceritakan padamu. Tapi, biarkan sisanya ibu yang menceritakan," lanjut sang ibu.
Ibu Nara mempunyai rambut pirang panjang dan bergelombang. Kedua bola matanya berwarna biru seperti Nara. Ia adalah gadis blasteran Asia-Eropa yang dipersunting Shimura saat berusia delapan belas tahun. Yang mana kini usia Shina masih amat muda. Ia bak malaikat jatuh dari langit. Kulitnya putih bersih, perawakannya juga ramah dan menyenangkan.
"He-em." Nara mengangguk, mengiyakan.
"Ayahmu memang sengaja membuat ibu seolah-olah mengidap penyakit kejiwaan. Tapi karena ibu tidak benar-benar sakit, ibu harus berpura-pura sakit hanya untuk menyenangkan hati ayahmu. Mungkin cukup lama ibu mendekam di sana, satu atau dua bulan. Tapi setelahnya, ibu kembali ke rumah nenek. Dan saat tiba di sana, ibu menemukan kakek Ken sedang berbincang serius dengan kakekmu. Singkat cerita, akhirnya ibu berada di sini."
__ADS_1
Shina berusaha menceritakan secara singkat mengapa Ken dapat mengetahui segala aib keluarganya.
"Nara ...." Shina menyapa anaknya yang duduk diam mendengarkan. "Dunia ini mungkin terlalu sempit, tapi itulah yang ibu alami. Setiap musibah pasti ada hikmahnya, bukan? Dan memang ini keinginan kakekmu yang ingin meneruskan persahabatan sampai ke anak cucunya," lanjut Shina lagi.
"Itu berarti ...?"
"Ya, kakekmu dan kakek Ken adalah sahabat lama. Hanya saja karena terpisah jarak, mereka jadi jarang bertemu. Tapi semenjak memasuki masa pensiun, mereka lebih banyak saling berkunjung satu sama lain," tukas Shina kemudian.
"Hm, begitu." Nara akhirnya mulai mengerti.
"Tapi Bu, apa Ibu tidak marah setelah mengetahui jika ayah berselingkuh dengan Rie?" Nara memberi tahu ibunya jika ayahnya berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Daripada menyalahkan orang lain, mungkin lebih baik kita mengintropeksi diri sendiri. Mungkin salah ibu yang terlalu mengejar karir. Pergi pagi buta dan pulang larut malam, sehingga ayahmu terabaikan. Mungkin karena jarang berkomunikasi itulah yang membuat pintu perselingkuhan terbuka lebar." Shina berusaha bijak.
"Tapi Bu, apa Ibu tidak sakit hati saat mengetahui ayah rela mengorbankan dirinya untuk wanita lain?" tanya Nara lagi.
__ADS_1
"Hmm ...."
Shina beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati Shimura yang tengah koma. Sambil mengusap kening Shimura, Shina berkata kepada anaknya, Nara.
"Kau tahu, Nara. Jika sebuah hubungan diawali dengan jatuh cintanya seorang wanita, maka akan membuat usia hubungan itu berjalan lebih lama, dibanding jika seorang pria yang mengawalinya." Shina berkata lagi.
"Jadi?"
"Jika ada seorang wanita yang jatuh cinta terlebih dahulu kepadamu, andai kau menjalin hubungan dengannya maka hubunganmu akan berlangsung lebih lama. Kau tahu mengapa itu bisa terjadi?" tanya Shina kepada putranya.
"Em, tidak." Nara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Karena wanita menggunakan sembilan puluh sembilan persen perasaannya dalam melakukan sesuatu. Dan dia akan berpikir ulang untuk mengkhianati perasaannya sendiri." Shina menuturkan.
Entah mengapa, tiba-tiba saja Nara teringat akan Shena, mantannya. Awalnya Nara hanya sebatas menolong Shena yang dijahili segerombolan bandit di tepi jalan. Tetapi, Shena malah membalas kebaikan Nara dengan menyerahkan segala yang ia punya. Dan lambat laun Nara mencintai Shena sebagaimana Shena mencintai Nara.
__ADS_1