
Keesokan paginya...
Pagi ini tampak tenang, suasana begitu asri dan juga menenangkan. Tapi sayangnya, hati Hima tidak setenang keadaan pagi ini. Ia gupek sendiri seperti dikejar-kejar sesuatu. Ia juga sengaja mematikan ponsel agar Sai tidak dapat menghubunginya. Ponsel Shena pun dibawa dan dimatikannya agar Nara tidak bisa menghubungi.
Hatinya cemas bukan main . Ia dikejar-kejar ketakutannya sendiri. Terlebih katanya Sai akan meneleponnya pagi ini. Ia pun bergegas keluar rumah setelah membersihkan diri dan siap menjalani rutinitas hariannya. Namun...
Gadis bermantel krim itu dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis bermantel hitam. Hima tahu persis siapa gadis yang ada di hadapannya kini.
"Hana?" Dialah Hana yang datang pagi-pagi ke rumah Nara.
"Selamat pagi, Hima. Senang bisa bertemu kembali." Hana membungkukkan badannya.
"Selamat pagi. Kau ingin bertemu dengan Shena?" tanya Hima ragu.
"Benar. Kedatanganku ke sini untuk menemui Shena. Apakah dia ada di rumah?" Hana menoleh ke rumah.
__ADS_1
"Em, maaf. Shena sedang pergi berbelanja. Dia baru saja berangkat dan kemungkinan akan pulang lama." Hima terpaksa berbohong.
"Oh, begitu ya." Hana pun tampak sedih. "Apakah aku boleh menunggunya?" tanya Hana kembali.
Sontak Hima tersentak. Astaga, bagaimana ini?! "Em, maaf. Aku akan pergi bekerja dan rumah sudah kukunci. Baiknya tinggalkan pesan saja. Aku khawatir dia akan lama kembali." Hima beralasan.
"Oh, begitu." Hana pun mengerti. "Kau ingin pergi bekerja?" tanya Hana lagi.
"Em, iya. Aku akan berangkat ke kantor sekarang. Kutinggal tak apa, ya?" Hima beranjak pergi.
Ya Tuhan ... mengapa aku harus berada di situasi seperti ini? Hima bingung sendiri. "Kau ingin bertemu dengan Ryuuto?" tanya Hima lagi.
"Benar. Beberapa hari ini dia tidak mengangkat telepon dariku, aku tidak tahu mengapa. Jadi aku ingin menemuinya." Hana menjelaskan.
"Em, begini Hana. Maafkan aku, aku tidak ada maksud untuk mencampuri urusan kalian. Tapi, Ryuuto sedang sibuk-sibuknya di kantor. Pekerjaannya sangat banyak. Jadi, tolong mengerti ya." Hima tersenyum palsu, menutupi kegugupan di dalam hatinya.
__ADS_1
Terlihat kekecewaan dari raut wajah Hana yang cantik. Ia akhirnya merelakan kedatangan tanpa hasil. Padahal ia harus menempuh satu jam perjalanan untuk bisa sampai ke sini.
"Baik. Terima kasih, Hima." Hana akhirnya berpamitan.
Hima sebenarnya tidak enak hati melihat Hana pulang dengan tangan hampa. Tapi, ia pun mau tak mau menutupi demi menjaga semuanya. Hima tidak ingin terjadi sesuatu kepada orang-orang terdekatnya.
Lain Hima, lain juga dengan kekasihnya. Sai tampak cemas saat ponsel Hima belum juga aktif dari semalam. Pikiran buruk mulai menghantuinya.
Tumben ponselnya belum juga aktif? Sai bertanya sendiri.
Sai sedang menunggu teman-temannya berkumpul untuk sarapan pagi bersama sebelum berangkat ke tur terakhir di Yokohama, Jepang. Namun, pagi ini perasaannya tiba-tiba tak enak karena ponsel sang kekasih belum juga aktif. Sai lalu memutuskan untuk mengirim pesan kepada kekasihnya.
Semoga dia membaca pesanku nanti. Sang keyboardist D'Justice pun mulai gundah akan keadaan sang kekasih.
D'Justice akan berangkat menuju kota terakhir. Mereka menaiki bus karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Sang manajer pun tak lama datang bersama Nara. Mereka kemudian sarapan pagi bersama di restoran hotel.
__ADS_1
Pagi ini sang kapten band tampak cemas, entah mengapa. Sejak semalam ia seperti gelisah hingga sarapan pagi selesai. Hal ini juga disadari oleh Nara, tapi Ken berusaha menutupinya. Dan kini keduanya tengah berjalan bersama menuju bus yang telah menunggu.