Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Permintaan Maaf


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Nara sedang duduk berlutut di hadapan ibunya. Ia meminta maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat. Ia amat menyesal karena telah menghadirkan Rie di kehidupan rumah tangga ibunya. Sang pemuda pun menangis tersedu-sedu tak terkendali lagi.


"Nara, sudahlah. Semua sudah terjadi, jangan kau sesali."


Nara masih menangis. "Tapi, Bu. Aku merasa menjadi manusia paling keji di dunia ini. Aku telah menghancurkan hati ibuku sendiri." Nara terisak.


Shina menghela napasnya. "Nara, ini sudah menjadi pilihan ayahmu. Mungkin kami memang sudah tidak cocok lagi. Yang penting masa depanmu terjamin. Ibu sudah menyiapkan hal yang kau perlukan nanti." Shina tersenyum kepada putranya.


"Ibu ...."


Nara pun segera memeluk ibunya. Ia merasa amat bersalah. Hatinya tersayat saat ini. Terlintas di pikirannya ingin bunuh diri untuk menutupi rasa malu yang tengah menggerogoti hidupnya.


"Sudah-sudah. Sebentar lagi ibu akan berangkat ke bandara. Kau mandilah terlebih dahulu. Nanti antarkan ibu, ya?" Shina berusaha tegar menghadapi apa yang sudah terjadi.


"Ibu, masihkah ada kesempatan bagiku untuk menebus kesalahan di masa lalu?" tanya Nara seraya menatap ibunya.

__ADS_1


Shina tersenyum. "Pasti ada, Nak. Asal kau bersungguh-sungguh, Tuhan pasti akan memaafkan semua kesalahanmu. Sekarang bangkitlah dan terus berjuang, berusaha perbaiki semuanya. Nanti Tuhan yang akan menuntunmu untuk menemukan jalannya." Shina menguatkan.


Nara pun mengangguk tanpa suara.


"Ya, sudah. Ibu mau menyiapkan keberangkatan. Kau mandilah." Shina beranjak pergi.


Nara merasa hidupnya telah hancur sampai tidak bisa diperbaiki lagi. Ia amat menyesal dengan semua yang terjadi. Seolah telah kehilangan semuanya dalam hidup ini. Ia merasa ibunya hanya menutupi kesedihan darinya. Kesedihan karena ulahnya yang menghadirkan Rie.


Andai aku tidak termakan ucapan Rie, mungkin semuanya masih baik-baik saja. Tapi, kini semua sudah hancur. Aku kehilangan semuanya. Apa yang harus aku lakukan agar dapat bangkit dari keterpurukan ini?


Nara bertanya-tanya dalam hati.


Sang pemuda bermata biru merasa frustrasi dan depresi. Ia seperti tidak menemukan titik temu dari permasalahan hidupnya. Ia juga menyadari jika kenikmatan sesaat itu bisa menghancurkan segalanya. Namun, ia tidak mengerti mengapa semua bisa sampai seperti ini. Ia masih bertanya-tanya dalam hatinya.


Menjelang petang...


Tak terasa waktu terus saja berlalu tiada henti. Dan kini jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah enam sore. Tampak sang pemuda berambut emo sedang menyiram bunga di halaman depan rumahnya. Ialah Ken, yang mana tak lama datang seorang pemuda berkaca mata menghampirinya.

__ADS_1


"Sai?" Ken melihat Sai turun dari motornya.


"Kau rajin sekali." Sai menyapa temannya.


"Ya, ini memang sudah menjadi tugasku. Ada apa kau kemari? Bukannya tadi siang kita baru bertemu?" tanya Ken kepada pemuda berkaca mata itu.


Pemuda yang memang benar adalah Sai itu mengembuskan napasnya. "Hah ... aku habis dari tempat bibi. Ibu menyuruhku mengantarkan pesanan bibi. Jadi ya sudah. Aku lewat sini dan melihatmu sedang menyiram bunga." Sai menceritakan.


"Oh, begitu." Ken lalu mematikan keran airnya.


"Ken."


"Hm?"


"Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu." Sai duduk di teras depan rumah Ken.


"Tentang apa?" Ken juga ikut duduk di terasnya.

__ADS_1


"Tentang Nara," jawab Sai yang membuat Ken terkejut.


__ADS_2