Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Rokok Maut


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Di suatu malam saat rintik hujan turun, seorang gadis berkaus putih dengan rok mini biru terlihat sedang tersudut di kamarnya. Rumahnya kosong, tidak ada siapapun di sana. Hanya ada dirinya dan seorang pria yang tengah memegang sebilah pisau tajam.


"Yudo, sungguh aku tidak tahu di mana Rie sekarang." Gadis itu memundurkan langkah kakinya ke belakang saat seorang pria berjubah hitam siap menusukkan pisau ke arah tubuhnya.


"Nana, jangan main-main denganku." Pria itu mempertebal nada suaranya.


Pria di balik jubah hitam itu adalah Yudo, yang entah bagaimana ia dapat masuk ke dalam rumah Nana, teman dari Rie. Nana pun amat ketakutan saat Yudo mencoba menusuknya.


"Pergi kau Yudo!"


Gadis itu melempar semua benda yang dapat ia raih ke arah Yudo. Ia mencoba mengambil ponselnya yang tergeletak di kasur. Tapi, Yudo segera mengejarnya lalu menancapkan pisau itu ke tangan Nana.


"Aaaaaaaaaa!!!"


Nana menjerit kesakitan, ia lalu menendang Yudo sampai pisau itu tercabut. Ia segera melarikan diri sambil memegangi tangannya yang berlumuran darah.


"Kurang ajar!"


Yudo pun tidak tinggal diam. Ia segera berdiri lalu kembali mengejar Nana. Nana yang begitu takut, terus saja berlari, menyeberangi jalanan yang ada di depan rumahnya tanpa melihat ke kanan dan kiri lagi. Namun kemudian...


Benturan keras terdengar di malam ini. Nana tertabrak mini sedan yang melaju cepat ke arahnya. Sontak tubuhnya terlempar jauh lalu jatuh ke atas sebuah batu taman. Darah segar pun mengalir deras dari kepalanya.


"Sakit sekali ...." Nana tidak sanggup untuk bertahan.


Si pengemudi sedan yang ternyata mabuk itu segera melarikan diri, melepas tanggung jawabnya. Sedang Nana mulai kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


"Rupanya malam ini aku tidak perlu terlalu lelah."


Yudo melihat kejadian itu dari kejauhan. Tak lama ia pun melihat seorang pengendara motor melintasi jalan tersebut. Pengendara itu melihat Nana tengah tergeletak di atas batu taman.


"Astaga, Nona!"


Pengendara itu segera menelepon ambulan untuk memberikan pertolongan. Tapi sayang, saat ambulan datang, nyawa Nana sudah tidak dapat terselamatkan.


"Hahahahahaha."


Tawa Yudo menggema dari balik kegelapan malam. Ia merasa senang karena telah berhasil membuat seorang gadis terbunuh karena ulahnya.


"Hm, baiklah. Selanjutnya." Ia menjilat badan pisau yang dipegang.


Yudo kemudian pergi dari lokasi perkara tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Ia telah merencanakan matang perbuatannya ini. Sindrom psiko telah merasuki jiwanya.


Pria berjaket hitam mendatangi klub malam, tempat di mana Rie bekerja sebagai disc joki. Sayangnya, Rie tidak berada di tempat alias tengah melakukan tur ke sepuluh kota di Jepang. Pria itu malah bertemu dengan Via yang sedang meminum segelas wisky di depan meja bar.


"Hai!"


Pria bernama Yudo itu menyapa lembut gadis yang mencuri perhatiannya. Via pun menoleh ke asal suara dan menjumpai seorang pria tampan tengah tersenyum manis kepadanya.


"Ehm, hai."


Via membalas sapaan Yudo. Ia tampak terpukau dengan kedatangan pria yang mendekatinya.


"Boleh aku duduk di sini, Nona?" tanya Yudo sambil menunjuk kursi di samping Via.

__ADS_1


"Umm, boleh. Silakan."


Via salah tingkah sendiri, dres hitam ketatnya hampir saja turun tanpa ia sadari. Dadanya yang besar nan ranum membuat libido Yudo naik hingga ke ubun-ubun.


"Kau sendirian, di mana pacarmu?" Yudo mulai mengeluarkan rayuan mautnya.


"Pacar?" Via tampak terkejut.


"Iya, jangan bilang gadis secantikmu tidak mempunyai pacar," rayu Yudo.


Via yang hampir mabuk seketika tersipu kala mendengar penuturan Yudo tentang dirinya. "Emm, aku ...." Via tambah gugup.


"Aku punya rokok yang sangat enak. Apa kau mau mencobanya?"


Yudo kemudian mengeluarkan sekotak rokok dari saku jaketnya. Gadis itu pun berpikir untuk menerima tawaran dari Yudo.


"Tenang saja. Ini aman untukmu," bujuk Yudo kembali.


"Em, baiklah. Aku coba satu."


Tanpa ada perasaan curiga, Via mencoba sebatang rokok itu, ia menghisapnya. Dan benar saja, rasa rokok tersebut sangat berbeda dari rokok-rokok yang ada di pasaran.


"Wow, darimana kau mendapatkannya?" Via kini lebih bugar, tidak seperti sebelumnya.


"Aku membelinya dari luar. Jika kau ingin, ambilah." Yudo tersenyum manis kepada Via.


Yudo menyerahkan sekotak rokok itu kepada Via. Sontak hati Via semakin berbunga-bunga terkena rayuan dari Yudo.

__ADS_1


__ADS_2