
"Haah, mereka mengganggu pestaku saja. Tapi, siapa pria yang dimaksud?" Yudo bertanya sendiri tentang seorang pria yang bersama Rie.
"Apa yang kau lakukan, Yudo?!" Shena mencoba bertanya kepada Yudo dalam kesakitan.
Yudo pun menoleh. "Aku ingin kau mengetahui kebenaran langsung darinya, Shena," jawab Yudo sambil melihat ke arah Shena.
"Yudo, perbuatanmu ini sungguh gila. Kau gila, Yudo! Kau gila!" Shena berteriak ke arah Yudo.
"Hei, Sayang. Jangan bicara terlalu keras di hadapanku. Atau kau ingin mengalami nasib yang sama seperti bonekaku?" tanya Yudo dalam amarah terpendamnya. Ia mencengkram wajah Shena dengan kuat.
"Ap-apa mak-maksudmu?" Shena kesulitan berucap karena tangan Yudo mencengkram kedua pipinya.
Yudo kemudian melepaskan cengkramannya. Ia merasa hanya membuang-buang waktunya jika meladeni Shena bicara.
"Mungkin sudah saatnya. Basuhlah tubuhmu dan pakailah ini."
Yudo kemudian memberikan baju terusan lengan panjang kepada Shena. Shena pun hanya diam karena kedua tangannya terikat. Ia tidak dapat menerima dengan kedua tangannya.
"Sebentar lagi kita akan berangkat menuju titik temu, Shena. Jangan mengulur waktu," pesan Yudo lalu segera pergi meninggalkan Shena.
__ADS_1
Tak lama, datang seorang pelayan wanita ke kamar yang Yudo sewa. Ia dipinta oleh Yudo untuk membersihkan tubuh Shena dan mendandaninya ala putri kerajaan. Dengan baju terusan berwarna putih yang telah ia persiapkan.
"Nara, aku akan menunggu kedatanganmu," ucapnya pelan sambil berjalan menuju suatu tempat.
Yudo juga sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Nara. Ia ingin sekali mengakhiri siapapun yang menghalanginya mendapatkan Shena. Tanpa berpikir dampak yang akan terjadi nantinya.
Sementara itu di depan rumah Nara...
"Nara, apa yang kau lakukan?!" Ken mencoba menahan kepergian temannya.
"Ken, tolong. Ini urusanku. Jadi jangan ikut campur," pinta Nara kepada Ken.
Ken tiba-tiba merasa geram karena ucapan Nara kepadanya. Ia ingin sekali meninju temannya ini.
"Ken, jangan lakukan hal itu!" Sai berusaha melerai.
Ketiganya beradu mulut di depan pintu rumah. Nara ketahuan pergi diam-diam, meninggalkan Ken dan juga Sai yang sedang tidur.
"Ken, aku tahu niat baikmu. Tapi hal ini tidak dapat dibiarkan. Aku tidak sanggup berdiam diri sementara Shena sedang ditawan oleh mantannya!" ujar Nara yang masih berusaha mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Nara, tolong jangan gegabah. Aku takut lokasi yang kau terima ini bukanlah lokasi di mana dia berada. Aku takut ini hanya jebakan. Tolong tenang sebentar." Sai ikut berusaha menenangkan temannya.
Benar apa yang dikatakan oleh Sai, menghadapi masalah memang perlu dengan sikap yang tenang, bukan terburu-buru.
"Bagaimana Ken?" Sai melirik ke arah Ken.
"Baiklah. Aku menurut saja kali ini," sahut Ken yang menerima.
"Oke. Aku punya rencana." Sai akhirnya ikut bicara.
Baik Sai ataupun Ken bersepakat untuk membantu Nara setelah Nara menceritakan keadaan yang sebenarnya. Karena hal ini menyangkut kinerja D'Justice ke depannya. Satu personil hilang, maka performa band akan berantakan, walaupun dapat mencari pengganti secepatnya.
Ketiganya lalu bersepakat menuju titik lokasi yang muncul di peta ponsel Nara. Mereka akan menyelidiki apa sebenarnya yang ada di sana.
Sungguh tidak mudah melupakan kebiasaan yang sudah sering terjadi. Ken juga tidak mau kehilangan temannya. Ia akan mencoba membantu setiap permasalahan yang melanda Nara. Dengan harapan, ia juga akan mendapatkan bantuan saat masalah menerpanya, suatu saat nanti.
Shena, tunggulah sebentar lagi. Aku akan datang.
Nara berjanji dalam hati. Ia bertekad untuk menemukan dan menyelamatkan Shena malam ini juga.
__ADS_1