Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Menyebalkan


__ADS_3

"Shena, aku tahu kau menyimpan duka yang tidak pernah diceritakan kepada orang lain. Jika kau ingin, kau bisa berbaginya kepadaku." Asia menawarkan diri.


Shena terenyuh, di saat keadaan dirinya tidak stabil seperti sekarang, masih ada teman yang berbaik hati kepadanya. Tetapi walaupun begitu, Shena tetap berhati-hati karena masih trauma dengan kejadian di masa lalu. Di mana teman atau sahabatnya sendiri tega menikung dan merebut apa yang ia punya.


"Terima kasih, Asia." Shena lalu memeluk Asia sebagai ucapan terima kasih.


Yamada merupakan dosen seni Shena. Ia memang sudah sejak lama menginginkan dara bersurai hitam ini. Terlebih statusnya yang menduda cukup lama, membuat Yamada membutuhkan tempat untuk melabuhkan hasrat terpendamnya. Namun sayang, Shena tidak dapat menerimanya.


Yamada lalu mencari cara agar bisa mendapatkan Shena sekalipun dengan cara yang kurang baik. Ambisinya begitu besar, karena menurutnya Shena adalah seorang gadis yang sempurna. Ia berulang kali memaksa Shena untuk menuruti kemauannya, tetapi selalu saja gadis itu lolos darinya.


Shena, apa yang harus kulakukan agar mendapatkanmu?


Yamada tertegun di dalam kelas, sendirian. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing karena tidak kunjung mendapatkan apa yang ia mau. Di pikirannya hanya ada Shena seorang. Gadis yang membuat Yamada tergila-gila padanya.


Sementara di kampus Nara…


"Hahahaha..." Nara tertawa terbahak-bahak tanpa peduli dengan perasaan temannya yang sehabis terkena hukuman.


"Kali ini kau menertawakanku, Nara. Tapi lihat saja aku akan lebih menertawakanmu suatu hari nanti!" ancam Kazuo, teman satu fakultas Nara.

__ADS_1


"Ya, ya, ya. Maafkan aku, Kazuo. Tapi sayangnya, aku sedang berbahagia hari ini." Nara merangkul Kazuo dengan bahagianya.


"Pasti baru saja dikirim uang oleh ayahmu, kan?” selidik Kazuo sambil berjalan ke luar kelas.


"Tidak, tidak. Lebih dari itu. Tapi sayang, aku tidak dapat menceritakannya," sambung Nara seraya berjalan bersama Kazuo.


"Hah, kau ini." Kazuo tampak lelah sehabis terkena hukuman salah satu dosen di kampusnya.


"Sudahlah, semua mahasiswa pasti pernah merasakan apa yang kau rasa. Menyapu halaman kampus. Hahaha," ejek Nara lagi.


"Hei! Jangan tertawa terlalu keras karena setelahnya kau akan menangis," celetuk Kazuo, menghentikan tawa Nara.


"Bukan, tapi itu sudah menjadi hukum alam. Hahahaha." Kazuo bergantian tertawa.


"Hufft!"


Nara memasang wajah kesalnya lalu melepaskan rangkulannya. Ia pundung karena mendengar ucapan Kazuo yang seperti mendoakannya tidak baik.


Nara dan Kazuo merupakan teman akrab sejak masuk di fakultas yang sama. Walaupun sering bertengkar, mereka tidak pernah mengambil hati akan perkataan temannya yang mengejek ataupun mencela. Karena menurut mereka, persahabatan tanpa bumbu-bumbu kekesalan itu tiadalah berwarna sama sekali.

__ADS_1


Terlihat keduanya yang terus melangkahkan kaki menuju gerbang utama kampus. Sang pemuda bermata biru itu tampak membuang pandangannya dari Kazuo. Sedang Kazuo, masih berusaha merayu temannya.


"Nanti kau mau ke rumahku lagi, tidak?" tanya Kazuo.


"Buat apa?"


"Menemui mantan."


"Malas!"


"Jangan begitu, kalau berbohong dipikir dahulu."


"Kau!"


"Hahahaha." Keduanya lalu tertawa bersama.


Sepertinya Nara tidak dapat berbohong di hadapan Kazuo kali ini. Karena Kazuo tahu persis jika waktu itu Nara ingin menemui mantannya, yang mana bekerja tidak jauh dari rumahnya.


Begitulah persahabatan, kadang ada suka kadang ada duka. Tapi yang namanya sahabat sejati, hanya bisa dilihat saat berada dalam duka. Dan Nara memilikinya.

__ADS_1


__ADS_2