
"Hai, Shena. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, ya?" Rie membuka pembicaraan.
Shena hanya diam, ia tidak melakukan apapun. Sebisa mungkin ia ingin menghindari Rie. Tapi, Rie menahannya.
"Hei, kau terlihat terburu-buru. Santailah sedikit." Tersirat kedengkian di wajah Rie. "Oh, iya. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau sudah mempunyai pengganti Nara?" Rie bertanya blak-blakan.
Shena menarik napas panjang. Ingin rasanya sebuah tamparan mendarat di wajah Rie yang tak tahu malu.
"Maaf, aku rasa kita tidak mempunyai urusan untuk hal ini. Ada baiknya jika kau mengurusi urusanmu sendiri." Shena beranjak pergi meninggalkan Rie.
"Hei, tunggu-tunggu! Aku belum selesai bicara!" Lagi-lagi Rie menarik tangan Shena dengan kasar.
"Cukup!"
Tiba-tiba datang seorang pemuda memisahkan keduanya. Pemuda itu cukup dikenal baik oleh Shena.
"Ken?!" Shena terkejut saat melihat kedatangan Ken dan menarik tangan Rie dari tangannya.
"Tolong jangan ganggu Shena!" pinta seorang pemuda yang memang benar adalah Ken, sahabat Nara.
__ADS_1
"Hmm." Rie menatap Ken lebih dekat. "Jadi, kau pacar terbaru Shena?" Rie mendekati Ken sambil meraba pelan dada bidang pemuda berambut emo itu.
"Singkirkan tangan kotormu!"
Ken menghempaskan tangan Rie dari dadanya. Rie pun terkejut mendapat perlakuan kasar dari Ken. Baru kali ini ada seorang pria yang berani menolak sentuhannya.
"Jangan ganggu Shena!" Ken berucap tegas kepada Rie. "Ayo, Shena!" Ken kemudian menarik tangan Shena agar segera pergi dari hadapan Rie.
"Uhmm."
Dalam senyumannya, Rie mulai berpikir untuk melakukan hal yang sama. Merebut apa yang Shena punya.
Tanpa sepengetahuan Nara, Ken berusaha menjaga Shena dari gangguan orang lain. Karena sahabat yang baik adalah yang saling menjaga, bukan malah menjatuhkan. Dan Ken telah melakukan hal itu untuk Nara.
Malam hari pukul 01.00 dini hari...
Malam ini Ken, Cherry, Sai dan juga Shena menginap di rumah Nara, karena esok pagi mereka harus mengisi acara di salah satu stasiun televisi. Cherry bersama Shena tidur di kamar lantai satu. Sedang Nara, Ken dan juga Sai, seperti biasa tidur di kamar yang berada di lantai dua.
Tanpa terasa, hari semakin pagi. Keduanya tidak dapat tertidur dengan pulas, baik Shena maupun Nara. Sejak kejadian itu baru kali ini Shena menginjakkan kaki di rumah sang mantan.
__ADS_1
Dalam balutan baju tidur bermotif panda, Shena berusaha memejamkan kedua matanya yang enggan menutup. Rasa resah dan gelisah menghantui alam pikirannya. Begitu pun dengan Nara, ia merasa saat ini adalah waktu yang pas untuk mengembalikan sang mantan ke dalam pelukannya.
Jam demi jam pun mereka lalui tanpa tertidur. Akhirnya, tepat pada pukul tiga pagi, Shena keluar dari kamar menuju ke dapur. Ia berniat memasak mie untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Dan tanpa Shena sadari, Nara ikut turun dari lantai dua, memperhatikan Shena memasak di dapur.
Kau tidak berubah sama sekali, Shena. Kau seorang wanita yang bersikap keibuan. Aku tidak akan melepaskanmu kali ini.
Nara bergumam dalam hati. Ia lalu berjalan mendekati Shena secara perlahan.
"Shena ...." Ia kemudian memeluk Shena dari belakang.
Shena pun menoleh, melihat sang pemuda bermata biru yang sedang bertelanjang dada dengan hanya mengenakan celana pendeknya.
"Nara, lepaskan aku!' Shena segera mematikan kompor lalu berusaha melepaskan kedua tangan Nara yang melingkar di perutnya.
"Tidak. Aku tidak akan melepaskannya." Nara malah semakin erat memeluk dara bersurai hitam panjang ini.
"Nara, kita sudah tidak mempunyai hubungan lagi. Tolong hargai itu." Shena masih berusaha melepaskan pelukan Nara.
Mendengar hal itu, Nara segera membalikkan badan Shena agar menghadap kepadanya. "Shena, katakan jika semua yang kau bicarakan itu adalah bohong. Katakan jika kau masih mencintaiku, Shena!"
__ADS_1
Jarak kedua wajah mereka terlalu dekat, membuat Shena risih sendiri. Sedang ia tidak dapat bergerak, kedua tangannya dipegang erat oleh Nara. Tubuhnya pun disandarkan Nara ke dinding dapur.