
"Rie?!" Nara begitu terkejut saat melihat kedatangan Rie tanpa ada kabar sebelumnya.
"Hei! Seharusnya aku yang bertanya siapa kau!" seru sang gadis bersurai ikal panjang.
"Rie, bagaimana kau bisa masuk?" tanya Nara kepada sang tamu yang tak lain adalah Rie, kekasihnya sendiri.
"Bangun kau! Bangun! Wanita murahan!" Rie menarik Gabril dengan sekuat tenaga. "Kau benar-benar tidak tahu malu merebut kekasihku!" Rie marah, wajahnya merah padam.
"Kau ini sebenarnya siapa, sih? Datang-datang marah-marah padaku?" tanya Gabril yang polos.
"Kurang ajar!"
Rie berusaha menjambak rambut Gabril tapi Nara segera menghalanginya. "Rie, tenangkan dirimu," pinta Nara sambil memegangi kedua tangan Rie.
"Nara, kau sungguh tega padaku. Jadi ini alasannya mengapa selama ini tidak membalas pesan dan mengangkat teleponku? Jadi karena dia!" Rie menunjuk Gabril dengan telunjuk kanannya.
"Rie, aku mohon tenangkan dirimu. Ini salah paham, Rie." Nara berusaha menenangkan.
"Nara, kau jahat! Kau jahat, Nara!" Rie mulai menitikkan air mata.
__ADS_1
Rie kemudian menghempaskan kedua tangan Nara yang memegangi lengannya. Ia segera berbalik lalu keluar dari kamar.
"Rie!" Nara berusaha mengejar Rie tapi Gabril menahannya.
"Nara."
"Gabril, aku ingin mengejarnya," ucap Nara kepada Gabril.
"Sudah jangan dikejar, dia tidak baik untukmu," kata Gabril kepada Nara.
"Tapi—"
Entah mengapa, seperti sebuah nada perintah yang Nara dengar. Nara hanya dapat menurut kepada Gabril. Sementara Rie keluar dari kediamannya sambil menangis pilu. Ia tidak menyangka jika akan melihat hal seperti ini. Terlihat dirinya yang berjalan cepat sambil menunduk dan mengusap air mata yang mulai berjatuhan, menuju sebuah halte bus untuk kembali ke kosannya.
Di dalam bus…
Rie duduk sendiri di kursi nomor tiga dari belakang. Ia duduk di dekat jendela sambil melihat pemandangan kendaraan yang lalu-lalang. Tak lama ia pun teringat dengan pesan sang ibu saat hatinya terasa sakit seperti ini.
Saat itu Rie berniat meninggalkan ibunya yang tinggal di desa, karena ia ingin menetap—tinggal di kota. Ia sama sekali tidak mengindahkan ucapan sang ibu dan tetap kukuh dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Rie, ibu mohon hentikan aksi balas dendammu, Nak."
Sang ibu bersurai cokelat memperingatkan anak gadis semata wayangnya. Tubuhnya terlihat masih berada di bilangan usia muda dengan rambut sebahu dan mengenakan daster hijau tanpa lengan setinggi lutut.
"Ibu, jangan karena kita orang tidak punya, keluarganya bisa menginjak-nginjak kita seperti ini!" seru Rie kepada ibunya.
"Tapi Shena tidak bersalah, Rie. Semua ini kesalahan kami, orang tua kalian. Ini tidak ada hubungannya dengan Shena." Sang ibu berbicara sambil berurai air mata.
"Tidak, Bu. Buah tidak akan jauh dari pohonnya. Begitu juga dengan Shena, tidak akan jauh berbeda dengan ibunya. Aku akan tetap membalaskan dendamku dan membuatnya menanggung penderitaan. Sama seperti yang aku rasakan!" Rie kemudian beranjak pergi meninggalkan ibunya.
"Rie, tunggu! Hukum karma itu akan selalu berlaku, Nak." Sang ibu berusaha mengejar anaknya.
"Tidak ada hukum karma bagiku, Bu. Yang ada hanya balas dendam."
Rie kemudian menutup pintu rumahnya dari luar. Ia segera pergi meninggalkan sang ibu, meninggalkan desanya dengan menaiki sebuah taksi.
"Rie ...." Sang ibu hanya bisa menangis, melihat kepergian anak semata wayangnya.
Rie benar-benar seorang anak yang kukuh untuk membalaskan dendamnya, tanpa memedulikan nasihat dari sang ibu yang telah berjuang—susah payah untuk melahirkan dan membesarkannya.
__ADS_1