Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Aku Pemujamu


__ADS_3

Di teras belakang kedai, dekat pesisir pantai...


Ryuuto keluar dari kedai lalu memutar arah jalannya. Tak lama ia pun tiba di teras belakang dan terlihatlah seorang gadis manis tengah mengetik pada laptopnya.


Gadis itu adalah Shena yang sedang duduk tegap mengenakan baju terusan berwarna putih dengan motif bunga mawar merah muda. Baju terusan itu terlihat menutupi kedua lututnya. Tampak ia juga memakai sepatu sandal berbahan dasar plastik yang berwarna putih dengan motif jaring ikan.


"Akhirnya aku menemukanmu, Shena," sapa Ryuuto yang berdiri di samping kanan Shena.


Pemuda berambut pendek itu berada sekitar tiga meter dari tempat Shena duduk. Shena yang sedang mengetik pun menoleh ke arah asal suara.


"Ryuuto?!"


Ia terkejut saat melihat keberadaan Ryuuto di teras belakang kedainya. Pemuda itupun berjalan mendekati Shena.


"Boleh aku duduk?" tanya Ryuuto meminta izin untuk duduk di sebelah kiri Shena.


Shena tersenyum ke arah Ryuuto sambil berkata, "Kenapa kau tidak mengabariku terlebih dahulu jika akan datang kemari, Ryuuto?" tanya Shena kepadanya.


Ryuuto kemudian menarik kursi yang terbuat dari besi. Ia duduk lalu menatap Shena lebih dekat.

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu untuk memberi kabar orang sesibuk dirimu, Shena," jawab Ryuuto seraya menatap gadis manis yang berada di dekatnya.


"Hemm..."


Shena mengembuskan napasnya sambil memejamkan kedua mata. Ia mengerti benar akan maksud kata sindiran yang Ryuuto ucapkan.


"Maafkan aku tidak mengabarimu beberapa hari ini." Shena menghentikan aktivitasnya, ia merasa bersalah atas sikapnya kepada Ryuuto.


"Sudah, tak apa."


Ryuuto berusaha mengerti keadaan Shena. Rasanya ia ingin sekali mengusap poni gadis itu, tapi ia tidak berani melakukannya. Percakapan akhirnya dilanjutkan setelah Shena menawarkan minuman kepada Ryuuto.


"Tidak usah, Shena. Terima kasih. Aku sudah minum tadi," jawab Ryuuto yang menolak halus tawaran minum Shena.


Shena kemudian menutup laptopnya. Ia sangat menghargai kedatangan Ryuuto yang sudah jauh-jauh kemari hanya untuk menemui dirinya.


"Maafkan aku, Ryuuto. Aku tidak memberi kabar kepadamu," ucap Shena lagi. Ia benar-benar diselimuti perasaan bersalahnya.


"Aku tidak mempersalahkan masalah pekerjaanmu di kantor redaksi ayahku. Aku hanya akan merasa bersalah jika karena ulahku, kau mengundurkan diri dari kantor redaksi." Ryuuto mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


"Ryuuto, kau jangan berpikir seperti itu. Ini tidak ada hubungannya denganmu."


Shena memegang tangan kanan Ryuuto yang ada di atas meja. Ia benar-benar tidak enak hati kepada Ryuuto yang sudah banyak membantunya dalam hal penulisan artikel.


Sesaat kedua tangan itu bersentuhan, Ryuuto merasa bahagia sekali. Karena akhirnya, Shena menyentuh dirinya yang satu tahun belakangan ini hanya bisa menjadi seorang pemuja rahasia.


"Shena ...,"


Ryuuto tidak berani membalas pegangan tangan Shena. Ia kemudian beranjak dari duduknya.


"Setidaknya jika kau tidak dapat membalas perasaanku, kau dapat menghargainya," ucap Ryuuto, kemudian ia berdiri membelakangi Shena.


"Ryuuto—“


"Sebenarnya aku …,”


Ryuuto ingin sekali mengungkapkan perasaannya. Terlebih beberapa hari ini ia tidak menjumpai Shena sama sekali. Seorang gadis yang telah berhasil membuatnya rindu setengah mati.


"Shena ... aku ...." Ryuuto menarik napas panjangnya.

__ADS_1


Shena masih menunggu akan kata-kata yang akan diucapkan oleh Ryuuto. Namun, pemuda itu tampak diam dan tidak melanjutkan kata-katanya.


"Ryuuto ...." Shena menegur pemuda yang ada di hadapannya.


__ADS_2