Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Salam Perpisahan


__ADS_3

Sore harinya...


Nara baru saja tiba di kediamannya. Ia pun segera memarkirkan mobil lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


"Aku pulang!"


Nara masuk ke dalam rumahnya yang tidak terkunci. Ia pun mencari di mana keberadaan ibunya. "Ibu, ibu di mana? Aku sudah pulang!"


Ia kemudian mencari di kamar lantai satu, tapi sang ibu tidak ada di sana. Ia pun melangkahkan kaki menuju halaman belakang rumahnya. Namun, hanya ada jemuran saja. Sang ibu tidak ditemukan keberadaannya.


"Mungkin ibu di lantai atas."


Ia pun segera melangkahkan kaki menuju lantai atas rumahnya. Setiap ruangan ia telusuri sampai masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tapi sayang, sang ibu juga tidak berada di sana.


"Ibu ke mana, ya?"


Nara lalu melangkahkan kaki menuju teras lantai dua. Dan ternyata sang ibu sedang menangis sambil menelepon seseorang. Nara kemudian bersembunyi di balik dinding untuk mendengarkan percakapan ibunya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, Bu. Terlalu sakit untuk menerima Shimura kembali." Sang ibu ternyata sedang menelepon neneknya.


Ibu menelepon nenek? Nara bertanya-tanya.


"Aku juga bekerja untuk masa depan Nara, Bu. Ibu jangan menyalahkanku karena hal ini. Istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya membawa wanita lain? Dan wanita itu adalah pacar anaknya sendiri!" Sang ibu terdengar menahan gemuruh tangisnya.


Astaga, ibu ....


Mendengarnya Nara menjadi amat bersalah. Walaupun kejadian itu sudah lama berlalu, tetapi tetap saja perasaan bersalah masih ada. Terlebih yang dimaksud sebagai wanita itu adalah Rie, mantan kekasihnya sendiri.


Nara pun menelan ludahnya. Ia segera pergi dari tempat persembunyian sebelum Shina menyadari kehadirannya di sana. Ia tidak ingin menambah beban pikiran ibunya. Menurutnya semua kehancuran yang terjadi di keluarganya bukanlah salah ibunya, melainkan salah dirinya sendiri. Nara pun lekas-lekas masuk kembali ke dalam mobilnya, seolah-olah ia baru datang.


Nara! Kau telah menghancurkan semuanya. Kau telah menghancurkan perasaan ibumu! Kau juga telah membuat Shena menderita. Kau telah membunuh Rose dan kau juga telah membuat Rose membunuh bayinya. Kau tidak lain adalah iblis berbadan manusia! Dosamu amat besar dan tidak dapat terampuni!


Nara memukul-mukul stir mobilnya. Ia amat kesal kepada dirinya. Semuanya hancur berantakan karena ulahnya sendiri.Tak ayal keinginan untuk bunuh diri pun terlintas di benaknya.


Apakah ... apakah jika aku mengakhiri hidup semua kesialan ini akan berakhir? Apakah jika mati aku bisa tenang? Apakah kematian bisa membawaku menuju kedamaian? Apakah ... apakah ....

__ADS_1


Dering ponsel pun membuyarkan pikiran buruknya. Ia dengan segera melihat siapa gerangan yang meneleponnya. Dan ternyata...


"Halo?" Nara mengangkat telepon itu.


"Nara, maaf mengganggu. Aku hanya ingin mengabarkan jika akan berangkat malam ini ke Amerika. Maaf jika selama ini telah banyak merepotkanmu." Terdengar suara dari seberang.


Gabril ...?!!


Nara tersentak kaget saat Gabril mengabarkan akan berangkat ke Amerika malam ini juga. Ia pun ingin menjawab perkataan Gabril, tapi ternyata telepon sudah terputus.


Gabril?!!


Seketika Nara berniat untuk menemui Gabril. Ia tidak ingin meninggalkan luka bagi gadis itu. Namun, sang ibu berteriak memanggil-manggil namanya.


"Nara! Sudah pulang, Nak?!"


Sontak Nara kebingungan. Ia akhirnya tidak jadi menghidupkan mesin mobilnya. Ia kemudian turun dari mobil lalu mendekati sang ibu yang menunggu.

__ADS_1


__ADS_2