Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Pengakuan Kesalahan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Hari terus berganti, waktu pun terus berlalu. Namun, duka di dalam jiwa Nara belum mampu terobati. Sudah dua hari ia mengurung diri di dalam kamar. Jadwal manggung pun tidak diambil beberapa hari ke depan. Nara depresi.


"Aku begitu bejat! Aku tidak pantas hidup!"


Nara menarik rambutnya sendiri dengan kasar. Ia duduk menghadap ke meja belajar. Ken dan Sai tampak setia menemani Nara yang sedang depresi. Mereka telah mencoba untuk menghibur. Tapi nyatanya, belum juga membuahkan hasil.


"Ini semua salahku, karena aku terhasut olehnya. Keluargaku hancur, masa depanku berantakan dan cintaku harus berakhir. Apakah masih ada tempat untuk orang hina sepertiku ini?!"


Nara berapi-api menyalahkan dirinya sendiri. Ia terus mabuk-mabukan. Tidak peduli lagi dengan dirinya.


"Nara ...."


Sapaan lembut seseorang kemudian terdengar di depan pintu kamarnya. Ternyata gadis itu datang bersama Cherry yang ingin menjenguk keadaan Nara.


Saat ini Cherry tidak dapat berbuat apa-apa saat melihat keadaan temannya yang sedang depresi. Ia bersama Ken dan juga Sai hanya bisa menunggu di depan pintu kamar Nara.

__ADS_1


"Nara ...."


Shena kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar. Dalam balutan baju terusan setinggi lututnya, ia mendekati pemuda yang terus meminum minuman memabukkan itu. Ia mengambil kursi kecil lalu duduk di samping mantannya.


"Maaf, jika kedatanganku kali ini mengganggu," ucapnya pelan.


Shena berusaha bijak setelah mengetahui kabar yang sesungguhnya. Walaupun hatinya terasa sakit sekali, ia tetap menunjukkan sisi kewanitaannya yang lembut.


"Nara, tidak baik jika kau berlama-lama seperti ini. Kasihanilah dirimu dan juga orang-orang yang menyayangimu. Manusia memang tidak pernah lepas dari salah dan lupa. Tapi, selalu ada jalan untuk berubah menjadi lebih baik." Shena mencoba menguatkan sambil menatap Nara dari samping.


"Oh, iya." Shena kemudian memberikan Nara sesuatu. "Ini kubawakan bubur ayam yang kumasak sendiri. Makanlah selagi hangat. Semoga dapat menenangkan pikiranmu."


"Shena ...."


Sebelum benar-benar pergi, Nara menahan kepergian Shena dengan memegang tangannya. Seketika itu juga Shena menoleh, melihat ke arah sang mantan.


"Apakah ... apakah masih pantas untukku bersamamu, setelah kesalahan yang kubuat ini?"

__ADS_1


"Nara ...."


Pertanyaan itu begitu memukul hati Shena. Perempuan mana yang bisa menerima hal ini?


Nara menghadap ke arah Shena. Ia kemudian berdiri dan menatap gadis itu. "Shena, masih adakah kesempatan bagiku?" tanya Nara lagi.


Ingin rasanya Shena menangis. Jujur saja hatinya tidak dapat menerima kabar ini. Tapi di lain sisi ia juga tidak ingin melihat Nara terlalu lama tenggelam dalam duka.


"Aku akan selalu menunggu perubahan baik pada dirimu, Nara," sahut Shena sambil melepaskan pegangan tangan Nara, ia bergegas keluar dari kamar.


Nara pun melihat kepergian Shena. Ingin rasanya ia mengucapkan terima kasih kepada Shena karena telah dengan lapang dada menerima keadaannya. Kehadiran Shena pun mampu membuat api kehidupan Nara berkobar kembali.


Nara, jangan kau lukai lagi hati wanita yang mencintaimu dengan tulus.


Ken bergumam sendiri saat mendengar penuturan Shena. Ia berharap dapat melihat perubahan dalam diri temannya setelah kedatangan gadis itu.


Ken tahu benar siapa Shena. Gadis yang selalu memberikan dukungan kepada Nara. Bahkan di situasi sulit sekalipun.

__ADS_1


Sejak saat itu Nara mulai berubah. Ia kembali ke jati dirinya dan melepaskan semua aktivitas yang sia-sia. Tapi, haruskah musibah besar datang dahulu agar membuat perubahan yang lebih baik?


__ADS_2