
Beberapa jam kemudian...
Seseorang masuk ke dalam ruangan tempat Shena dirawat. Terbalut kemeja biru yang digulung sampai ke siku, pemuda itu tampak menggenggam sesuatu.
Raut wajahnya terlihat menahan kesedihan. Ia kemudian duduk di kursi, di sisi kanan pembaringan. Sesekali napasnya pun tersengal. Entah karena udara dingin atau memang rasa sedihnya yang begitu besar, saat melihat seorang gadis tengah tergeletak tak berdaya di hadapannya.
Ia meletakkan sesuatu ke atas perut Shena yang tertutup selimut. Ia kemudian menggenggam erat tangan kanan sang gadis.
"Shena ...." Tatapan sendu menyapa Shena yang masih dalam keadaan koma.
"Kau tahu, aku sangat terkejut mendengarmu dalam keadaan tak sadarkan diri." Ia memulai perkataannya.
"Entah mengapa hatiku terasa sakit sekali saat mendengarmu diperlakukan begitu kasar olehnya. Aku ... aku amat sedih, Shena." Ia mempererat genggaman tangannya pada Shena.
__ADS_1
"Aku datang kemari untuk melihat keadaanmu, walaupun sebenarnya aku tidak mampu untuk melihatnya langsung. Andai saja ada sesuatu yang dapat aku lakukan untuk membuatmu tersadar, pasti akan aku lakukan, Shena."
Suaranya mulai terisak, napasnya pun tidak beraturan. Pemuda itu terlihat meneteskan air matanya.
"Kau tahu ... selama satu tahun ini aku mengejarmu, berusaha mendapatkan hatimu. Tapi kau begitu kukuh mencintainya, sampai rela mengorbankan diri untuknya. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Shena? Selain membiarkanmu bahagia bersamanya."
Pemuda berambut pendek itu tampak begitu tulus mengucapkan kata per kata yang terlontar dari mulutnya. Hatinya begitu sakit melihat keadaan Shena saat ini. Namun, dirinya pun tidak mampu berbuat apa-apa.
Sambil berusaha mengusap air matanya, ia kemudian bangkit untuk lebih mendekat ke arah Shena. Tanpa ia sadari, Nara membuka pintu ruangan dari luar dan melihat apa yang terjadi.
Ia tidak menyangka jika akan melihat Ryuuto menangis di hadapan Shena. Ia pun kembali menutup pintu ruangan dan membiarkan Ryuuto berbicara kepada Shena. Ia akan mendengarkan baik-baik apa yang Ryuuto ucapkan kepada Shena.
Dalam balutan sweter panjangnya yang berwarna orange, ia menyandarkan diri di dinding luar ruangan sambil menunggu Ryuuto menyelesaikan pembicaraannya kepada Shena.
__ADS_1
"Shena, lihatlah!"
Ryuuto mengangkat sesuatu yang ia bawa agar Shena dapat melihatnya. Walaupun sebenarnya ia tahu persis jika Shena tidak dapat melihatnya.
"Ini adalah setangkai bunga mawar merah yang kubawakan untukmu. Dan ini yang terbesar dari hari-hari biasa yang kuletakkan di dalam pot bunga meja kerjamu. Indah, bukan?" Ryuuto tersenyum dalam kesedihan hatinya.
"Kulihat ada tujuh tangkai bunga matahari di sana, aku akan meletakkannya bersama."
Pemuda yang memang benar adalah Ryuuto itu berjalan memutari pembaringan Shena. Ia lalu menuju pot bunga yang berada di atas meja, dekat jendela ruangan.
Ryuuto lalu meletakkan bunga mawar merah itu di tengah-tengah bunga matahari yang Nara berikan kepada Shena. Perbedaan warna itu sangat kontras terlihat, merah darah dan kuning terang. Yang mana ternyata Ryuuto masih mencintai Shena, walaupun saat ini telah merelakannya bersama Nara.
Kedua bunga-bunga itu memiliki makna tersendiri. Dan hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat mengetahui makna dari kedua jenis bunga tersebut. Tentang cinta dan kesetiaan yang abadi.
__ADS_1
Ryuuto ... ternyata dia ...?!
Nara amat terkejut dengan hal yang dikatakan Ryuuto. Kini ia menyadari jika Ryuuto pun benar-benar mencintai Shena, mantan kekasihnya.