
"Kalau kalian tidak ingin memberi tahu, aku sendiri yang akan mencarinya." Nara lalu mencabut selang infus dari tangan kirinya.
"Nara!" Cherry berusaha mencegah Nara mencabut jarum infus itu.
"Nara, Shena sedang bersama Hima. Dia baik-baik saja." Sai berusaha menenangkan.
"Di mana dia?! Itu yang aku tanyakan! Aku tidak bertanya dia sedang bersama dengan siapa sekarang!" seru Nara lalu turun dari pembaringannya.
"Nara, kau masih sakit. Shena baik-baik saja." Cherry pun ikut menenangkan.
"Semakin kalian mengatakan dia baik-baik saja, semakin aku curiga." Ia berjalan tertatih menuju pintu keluar.
"Ken, bagaimana ini?" tanya Sai kepada Ken, khawatir jika Nara mengetahui hal yang sebenarnya.
Nara keluar dari ruangan tempat ia dirawat. Sai dan Ken pun segera mengejarnya. Sementara Cherry terlihat meneteskan air mata karena tidak dapat berbuat apa-apa selain menutupi keadaan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Nara, tunggu!" Sai mengejar dan juga diikuti oleh Ken.
Nara berjalan tertatih-tatih menuju ruang data pasien. Di dalam benaknya tidak mungkin jika Shena baik-baik saja. Ia masih ingat jelas bagaimana keadaan Shena setelah terkena hantaman keras balok itu. Yang mana Shena memuntahkan banyak darah dari mulutnya, dan sebagian darah itu mengenai wajah Nara.
"Shena ... tunggu aku. Aku akan datang," ucapnya sambil terus berjalan dan menahan rasa sakit.
Melihat hal itu, baik Sai maupun Ken tidak dapat mencegah ataupun menahan kepergian temannya. Mereka hanya bisa membiarkan Nara untuk terus mencari Shena seorang diri. Mereka tidak sampai hati jika harus mengatakan hal yang sejujurnya perihal Shena.
Nara, sekarang kau menyadari siapa wanita yang benar-benar mencintaimu. Ken menatap kepergian Nara dari hadapannya.
Nara tiba di depan sebuah ruang ICU setelah berjalan tertatih-tatih. Firasatnya mengatakan jika Shena tidak jauh-jauh dari tempat di mana ia berada. Ia memakai seragam pasien berwarna biru langit yang berlengan pendek, sehingga para perawat pun menyadari jika ia adalah pasien rumah sakit tersebut.
Nara kemudian masuk ke dalam ruangan ICU yang ditunjukkan salah satu perawat kepadanya. Dan benar saja, saat ia memasuki ruangan itu, ia melihat Hima sedang duduk sambil menangisi sang mantan, Shena.
Pintu ruangan dibuka olehnya. Menyadari ada yang masuk ke dalam ruangan, Hima pun menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Nara??"
Hima terkejut saat melihat Nara masuk ke dalam ruangan tempat di mana ia berada. Dalam balutan mantel cokelat setinggi lututnya, ia mencoba menyapa Nara yang terlihat tengah kesakitan karena luka tusukan di bagian perutnya.
"Nara, bagaimana kau dapat sampai kemari? Bukannya—"
Belum sempat Hima mengajukan pertanyaan, Nara menahan ucapan Hima dengan mengangkat tangan kirinya. Nara tidak ingin menghabiskan banyak tenaga untuk menjawab pertanyaan Hima. Ia hanya ingin melihat keadaan Shena secara langsung.
"Tolong tinggalkan aku bersama Shena," pinta Nara pada Hima.
Hima pun mengerti akan maksud Nara. Ia juga tidak dapat berbuat banyak untuk mencegahnya. Terlihat jelas jika sang pemuda tengah menahan kesedihan yang mendalam, saat melihat Shena terbujur tak berdaya di atas pembaringan.
"Baiklah."
Hima akhirnya memenuhi permintaan Nara. Ia mengambil tasnya lalu segera berjalan menuju pintu keluar. Sementara Nara, duduk di sisi kanan pembaringan dengan menggunakan kursi yang tadi dipakai oleh Hima. Ia kemudian mencoba untuk memegang tangan Shena.
__ADS_1