
Hari kedua, pukul tiga sore waktu Tokyo dan sekitarnya...
Nuansa sore mulai terlihat di musim salju ini. Daun-daun hijau tiada henti dijatuhi butiran salju yang mendamaikan hati. Dinginnya cuaca membuat para penduduk harus mengenakan mantel untuk menghangatkan tubuh. Begitu juga dengan Ken yang datang ke rumah sakit, tempat Shena dirawat. Ia mengenakan mantel birunya.
Di dalam ruang rawat, terlihat Hana yang sedang duduk bersama Nara di sofa sudut ruangan. Ditemani secangkir teh hangat, Hana banyak menceritakan masa kecil Shena kepada Nara. Saat itu juga ada rasa keterkejutan melanda hati saat Nara mengetahui jika Shena dan Rie ternyata saudara satu ayah.
Nara merasa amat malu. Bukan malu kepada Hana yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya, tapi ia sangat malu kepada dirinya sendiri. Dalam benaknya, ada rasa ingin segera mengakhiri hidup karena rasa malu yang begitu besar. Tapi ia berpikir ulang, jika bukan saatnya melakukan hal bodoh seperti itu.
Astaga ... betapa besar kesalahan yang telah kuperbuat.
Saat ini Nara hanya ingin membalas semua kebaikan yang telah Shena berikan kepadanya. Dan menebus semua kesalahan di masa lalu terhadap sang mantan yang begitu mencintainya.
"Nara."
Tiba-tiba pintu ruangan dibuka dari luar, terlihat Ken yang datang seorang diri mengenakan mantel birunya. Ia berdiri di depan pintu sambil memberikan kode kepada Nara agar segera keluar ruangan.
"Sebentar ya, Hana." Nara meminta izin di sela-sela perbincangannya bersama Hana.
__ADS_1
Hana pun mengiyakan. Ia lalu berjalan mendekati Shena dan kembali mengusap dahi Shena yang berkeringat.
Di luar ruangan...
"Ken?" sapa Nara sambil menutup pintu ruangan.
Keduanya menyandarkan tubuh pada dinding pintu ruangan tempat Shena dirawat. Sepertinya ada suatu kabar yang harus segera Ken sampaikan kepada sang sahabat, Nara Shimura.
"Hn, entah aku harus memulainya darimana, tapi hal ini harus kau ketahui, Nara." Ken menyandarkan diri di dinding kiri pintu ruangan.
Jarak mereka hanya dipisahkan oleh pintu ruangan. Tampak Nara yang mengenakan sweter hitam lengan panjangnya.
"Nara, Shena masih dalam keadaan koma begitupun dengan ayahmu," lanjut Ken segera.
"Ayahku?!" Nara terkejut atas kabar yang disampaikan Ken.
"Iya, ayahmu terkena enam tusukan di perut dan di bagian dadanya saat mencoba melindungi Rie dari gerombolan bandit," tutur Ken lagi.
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu?" Nara antusias melihat Ken.
Ken menyilangkan kedua tangan dan kakinya. Ia menunduk sambil berpikir sebelum melanjutkan perkataannya kepada Nara.
"Ayahmu ditemukan berlumuran darah di depan apartemen yang cukup jauh dari sini. Di saat orang-orang menemukan ayahmu, terdapat tas beridentitas Rie yang tergeletak di sampingnya," tutur Ken kemudian.
"Apa?!" Nara terkejut, ia tidak menyangka jika ayahnya benar-benar melindungi Rie.
"Jika kejadiannya diselidiki lebih lanjut, maka hal ini terjadi sebelum malam itu tiba. Kemungkinan Yudo yang mengirim bandit itu untuk menculik Rie, namun ayahmu melawan." Ken menghela napasnya.
"Astaga ...."
Entah apa yang ada di batin Nara saat ini, ia terlihat amat terpukul dengan hal yang dikabarkan oleh Ken, sahabatnya. Nara tidak menyangka jika sang ayah sampai rela mengorbankan diri demi melindungi Rie.
"Maaf, Nara. Aku harus menyampaikannya padamu. Kau harus mengetahuinya sebelum masalah lain terjadi. Kau sudah seperti saudaraku, aku tidak bisa jika harus menyimpannya sendiri," lanjut Ken seraya menepuk bahu Nara.
Ada rasa malu pada diri Nara saat mendengar penuturan Ken. Ken adalah satu-satunya saksi hidup atas masalah yang menimpa keluarganya. Dan kini Ken pulalah yang mengabarkan berita ini kepadanya.
__ADS_1