
Tokyo, 01.00 am.
D'Justice baru saja selesai mengisi acara di TV Tokyo. Mereka diundang dalam sebuah talk show yang membahas secara lengkap sejarah D'Justice. Band yang sedang meroket karena mini album pertamanya ini, akan segera menjalani hari-hari sibuk tanpa henti. Meraup pundi-pundi emas dari banyak acara TV dan menjelajahi berbagai tempat di Jepang.
Ya, impian Nara telah menjadi kenyataan. Hal itulah yang membuat Shimura semakin khawatir akan hubungannya bersama Rie. Tapi di lain sisi, ia ikut bangga dengan anaknya. Karena tanpa bantuannya sedikit pun, Nara berhasil mengejar impian.
"Shina, lihatlah Nara saat ini."
Shimura menatap jauh pemandangan laut Singapura dari balik jendela apartemennya. Ia tengah melakukan perjalanan dinas ke negeri ini.
"Maafkan Ayah, Nara."
Shimura menunduk sedih, ia merasa bersalah. Tapi sayang, semuanya telah terjadi. Ia hanya dapat meneruskan hidup tanpa sang istri yang telah memberinya buah hati.
Sementara itu...
__ADS_1
Nara diajak Rose ke sebuah pantai wisata. Keduanya masuk ke dalam sebuah vila kecil yang tidak jauh dari tepi pantai. Alasan cukup logis dapat diterima oleh Nara, Rose beralasan jika spot pantai akan menjadi tempat yang bagus untuk syuting video klip selanjutnya. Alih-alih urusan pekerjaan, ternyata Rose mempunyai tujuan lain.
Saat ini Nara tengah menunggu di ruang tamu vila yang ada di lantai dua. Di depan ruang tamu itu ada sebuah kamar tidur. Sedang lantai satunya merupakan tempat penyewaan alat-alat pantai.
Rose kemudian keluar dari kamar dengan memakai parfum beraroma lembut. "Nara ...."
Wanita itu berjalan mendekati Nara yang sedang membaca surat kabar hari ini. Pemuda itupun terkejut saat melihat Rose memakai lingeri hitam yang transparan.
"Nona Rose?!" Segera saja Nara meletakkan surat kabar itu ke atas meja dan mencoba memundurkan posisi duduknya, sedikit ke belakang.
Rose terus saja berjalan mendekati Nara, ia lalu duduk di atas pangkuan pemuda bermata biru. Terlihatlah bukit ranum dari balik renda lingeri yang Rose kenakan, membuat Nara harus berulang kali menelan ludahnya sendiri. Sebuah pemandangan indah kini ia lihat. Besar, putih, mulus dan juga bersih.
"Nona Rose ... ini."
"Ssst..." Rose menutup bibir Nara dengan jari telunjuknya, ia kemudian berbisik lembut di telinga pemuda itu. "Aku ingin seperti Gabril," bisik Rose yang membuat jantung Nara berdegup kencang.
__ADS_1
"Tapi Nona Rose, tadi kau bilang kita kemari untuk—"
Belum sempat Nara melanjutkan ucapannya, Rose dengan cepat mencium bibirnya. Ia tampak begitu menikmati cumbuannya ini. Rose membiarkan sensasi ciuman itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Memijat perlahan bibir Nara dengan sapuan yang lembut. Ia juga mulai menurunkan lingerinya sampai ke pertengahan dada.
Astaga, apa yang terjadi? Kenapa dia seperti ini?
Nara bingung bukan main menghadapi sikap Rose yang berubah drastis kepadanya. Ia hanya bisa diam saat Rose terus mencumbu bibirnya. Sedang Rose sendiri, mulai terbawa suasana yang ia ciptakan. Hasrat itu bergejolak di seluruh tubuhnya.
"Nara, balas aku." Rose sudah terhanyut dalam permainannya.
Nara tidak bisa bergerak. Jika ia bangun, Rose akan jatuh dan mengenai kaca meja.
Rose mengajak Nara beradu. Dan karena terbawa suasana malam dan angin pantai yang dingin, Nara kemudian menuruti ajakan Rose. Keduanya pun mengadu lidah sambil menikmati setiap inchi saliva yang tertukar.
"Mmmmh-ahh ...."
__ADS_1
Rose melepaskan cumbuannya, ia lalu meminta Nara untuk bermain di kedua bukitnya yang ranum.