Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Sarapan Pagi


__ADS_3

Esok harinya...


Nara berhasil memenangkan mediasi persidangan. Ia akhirnya dibebaskan dari sel tahanan. Bahkan ia juga tidak perlu membayar sepeserpun atas gugatan pihak Yudo. Hakim menilai jika Nara hanya membela diri sehingga ia tidak bersalah dalam kasus ini.


Shina, ibu Nara tentunya amat senang dengan keputusan hasil mediasi. Ia pun memasak sarapan pagi spesial untuk putra semata wayangnya. Pekerjaannya di Hokkaido harus ditinggalkan sementara demi memberi dukungan moril kepada sang putra. Alhasil, Nara kini lebih bersemangat setelah berbagai macam cobaan menderanya.


Pagi-pagi Nara sudah membantu ibunya ke pasar. Dan kini ia sedang menjemur pakaian yang baru saja selesai dicuci. Ia juga membantu ibunya membereskan rumah. Tak ayal sikap Nara yang sekarang membuat Shina terharu.


"Sarapan sudah siap!"


Shina segera menghidangkan sarapan ke atas meja yang ada di depan TV. Mereka sarapan di atas karpet merah yang dihamparkan. Nara pun lekas-lekas menyelesaikan pekerjaannya. Ia menjemur semua pakaian yang tersisa.


"Akhirnya selesai juga." Nara membawa ember cuciannya ke dalam rumah.


"Wah, anak ibu semakin rajin ya." Shina menghidangkan sarapan paginya ke atas meja.


"Ah, Ibu bisa saja. Selagi sempat kenapa tidak, Bu? Jadwal juga sekarang tidak menentu." Nara mulai duduk di depan meja makan.

__ADS_1


"Hm, ya. Anak ibu memang sudah pintar mencari uang sekarang. Kamu luar biasa, Nara." Sang ibu memuji putranya.


Sontak Nara tertegun mendengar pujian dari ibunya.


Ibu, andai ibu tahu apa yang telah kulakukan, pastinya ibu tidak akan memujiku seperti ini.


Nara terdiam saat mengingat semua perbuatan buruknya. Ia merasa malu mendapatkan pujian itu. Ia merasa tak pantas mendapatkan pujian, terlebih dari ibunya sendiri.


"Nara?" Shina pun menegur anaknya yang terdiam.


Keduanya mulai bersantap pagi bersama. Setelah melewati tahun-tahun kesendirian, akhirnya Nara bisa sarapan pagi bersama ibunya lagi. Hal ini tentunya amat berarti di mata Nara. Ia tidak percaya jika masih bisa bersantap pagi bersama sang ibu.


"Ibu sekarang tinggal di Hokkaido. Di sana ada perusahaan cabang tempat ibu bekerja. Dan di sana mungkin ibu bakal menetap lama. Apakah kau ingin ikut ibu, Nara?" tanya ibunya sambil menyantap sarapan.


"Hokkaido?"


"He-em. Jauh sih dari Tokyo. Tapi di sana benar-benar tenang, tidak seperti di Tokyo yang padat. Pemandangan pantainya juga bagus sekali." Sang ibu menuturkan.

__ADS_1


"Hm, bagaimana ya. Aku masih punya pekerjaan di sini, Bu. Lagipula kuliahku juga belum selesai." Nara sambil mengunyah sarapannya.


"Iya juga, ya. Kalau begitu ibu tidak bisa lama di sini. Pekerjaan ibu masih banyak di sana. Apa tidak apa ibu tinggalkan?" tanya Shina lagi.


"Tak apa, Bu. Lagipula aku sudah besar. Ibu tidak perlu khawatir." Nara tersenyum kepada ibunya.


"Em, baiklah. Besok malam ibu akan berangkat ke Hokkaido. Jaga dirimu, Nara." Ibunya berpesan.


"Siap, Bu!" Nara pun berlagak bak tentara di hadapan ibunya.


Shina menyadari jika kini putranya telah dewasa. Seharusnya ia tidak perlu lagi mencemaskan keadaan Nara. Namun, naluri seorang ibu tidak bisa ditepiskan olehnya. Walau Nara sudah besar, tapi tetap saja sang putra pasti masih membutuhkannya. Dan Shina ingin putranya selalu terjaga dari bahaya.


Kau memang sudah besar, Anakku. Tapi tetap saja ibu adalah ibu. Ibu tidak bisa membiarkanmu dalam kesulitan atau penderitaan. Tapi, semoga setelah ini kehidupan akan menjadi lebih baik lagi.


Shina berdoa dalam hatinya.


Angin pagi berembus pelan memasuki rumah Nara yang berlantai dua. Keduanya pun meneruskan sarapan paginya hingga selesai. Nara dan Shina amat menikmati momen kebersamaan ini. Namun sayang, sang ayah tidak bisa ikut serta di sana.

__ADS_1


__ADS_2