Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Tenanglah Tenang


__ADS_3

Malam harinya di rumah sakit…


Hima kelabakan mencari keberadaan Shena di rumah. Ponsel Shena pun tertinggal sehingga ia tidak dapat mengetahui keberadaan temannya. Untung saja ia berinisiatif untuk menghubungi Ryuuto. Jika tidak, hal ini tentu saja akan membuat panik semua orang. Terutama Nara yang sedang melakukan konser di Hiroshima.


Hima datang ke rumah sakit satu jam setelah ia tiba di rumah dan tidak menemukan keberadaan Shena. Dan kini ia sedang menemani Shena makan malam. Dengan penuh kehangatan Hima menyuapi Shena makan.


“Hima.”


“Hm?”


“Tolong jangan beri tahu Nara tentang hal ini. Aku tidak ingin membuatnya cemas.” Shena meminta.


“Tapi, Shena. Apa dia tidak lebih marah jika mengetahuinya nanti?” Hima pun ragu.

__ADS_1


“Tidak.” Shena menggelengkan kepalanya. “Nanti aku yang akan menjelaskan padanya. Lagipula dia masih lama menyelesaikan turnya. Biarlah dia fokus terlebih dahulu.” Shena meminta.


“Hm, baiklah. Tapi bagaimana dengan dirimu sendiri? Aku temani saja, ya?” Hima menawarkan diri.


“Tidak perlu, Hima. Aku sudah merasa lebih baikan sekarang. Kau tetaplah bekerja, jangan cemaskan aku.”


“Tap-tapi,"


“Sudah, jangan membuatku marah. Nanti kalau aku marah, kau bisa terkena masalah,” ancam Shena seraya tersenyum.


Hima pun memeluk Shena. Keduanya semakin dekat layaknya saudara. Namun, tidak ada yang tahu kesedihan apa yang melanda hati tunangan Nara ini. Tanpa Hima sadari, Shena meneteskan air matanya. Ia pun segera mengusap air matanya sebelum Hima mengetahuinya.


Hima, terima kasih telah bersedia menemaniku. Tapi aku rasa ke depannya kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku bersyukur masih mempunyai teman hebat di sekelilingku, tanpa pamrih mau menjagaku yang tidak berdaya ini. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu, Hima.

__ADS_1


Shena membalas pelukan Hima dengan hangat. Keduanya pun tertawa bersama setelah melepas pelukan. Hima kemudian menghibur Shena dengan cerita lucu yang terjadi di kantornya tadi. Sontak Shena pun tertawa dan rindu ingin segera bekerja. Karena bagaimanapun Shena menemukan keluarganya di sana, di kantor redaksi majalah remaja milik ayah Ryuuto. Yang mana ia pun mempunyai kisah dengan anak pemilik kantor redaksi tersebut.


Lain Hima dan Shena yang sedang bercengkrama, lain pula dengan Ryuuto yang sedang menerima telepon dari Hana, di sela-sela kesibukannya. Hana yang sudah lepas bekerja tampak santai mengenakan pakaian tidurnya di dalam kamar mes. Sedang Ryuuto masih sibuk di dalam ruang kerjanya. Ia harus lembur malam ini karena sedari pagi sampai sore harus menjaga Shena di rumah sakit. Namun, Ryuuto merahasiakan keadaan Shena dari Hana.


Di kantor Ryuuto, di dalam ruang kerjanya…


“Aku baik-baik saja, Hana. Namun malam ini harus lembur lagi,” kata Ryuuto, menerima telepon dari Hana.


“Jangan telat makan, Ryuuto. Jangan sampai kesibukan membuatmu telat makan.” Hana begitu perhatian kepada Ryuuto.


Sejenak Ryuuto terdiam mendengar perkataan Hana. Ia merasa bersalah sendiri, seperti membohongi hati dan perasaannya, dan juga perasaan Hana.


Hana, maafkan aku. Aku tidak bisa jujur kepadamu. Aku harap kau mengerti kondisiku. Aku tahu jika salah, tapi sungguh tidak ada niat untuk menipumu. Aku sedang dalam proses melupakan Shena, tapi nyatanya takdir memintaku untuk dekat dengannya kembali. Maafkan aku.

__ADS_1


Tak dapat dipungkiri jika Ryuuto merasa bersalah kepada Hana. Namun, ia juga tidak mudah untuk melupakan Shena. Seorang gadis yang sudah setahun ia perjuangkan untuk didapatkan hatinya. Walaupun kini ia sudah mengetahui jika Shena bersama Nara, tetapi tetap saja hati dan pikirannya masih tertuju kepada Shena. Dan kembali cinta itu membutakan logika.


__ADS_2