
Malam harinya…
Butiran salju turun amat sedikit malam ini. Cuaca malam hari pun terasa mulai menghangat seperti akan segera terjadi pergantian musim. Dan tepat pukul delapan malam, sang pemuda bermata biru baru saja memarkirkan mobil hitamnya di halaman rumah. Ia baru pulang bersama ibunya dari rumah sakit. Sang ibu pun segera keluar dari dalam mobil.
“Sepertinya sebentar lagi akan musim semi, Nara.” Sang ibu melihat ke langit.
“Mungkin, Bu. Itu berarti aku akan sendiri lagi.” Nara berbicara sambil tertawa.
"Hei, kau ini bicara apa?” Shina membuka pintu rumahnya.
“Ibu akan kembali ke Hokkaido besok malam, bukan? Dan aku tetap di sini,” kata Nara lagi.
“Kau kan bisa ikut ibu, Nara.” Shina beranjak masuk ke dalam rumahnya.
“Aku masih punya urusan, Bu. Aku harus menemui manajer Hata besok pagi,” sahut Nara sambil mengikuti sang ibu.
__ADS_1
“Kan waktunya masih sempat, ibu berangkatnya malam ke Hokkaido." Shina menerangkan.
“Ah, Ibu seperti tidak tahu anak muda saja. Kami pastinya akan berkumpul terlebih dahulu, Bu. Rumah ini sudah menjadi basecamp bandku.” Nara tertawa seraya duduk di sofa ruang tamu.
“Dasar kau ini. Ya sudah, ibu berbenah sebentar. Habis itu kita makan malam bersama. Malam ini ibu akan memasak makanan spesial untukmu.” Shina semringah di depan anaknya.
“Baiklah. Aku tunggu, Bu.” Nara pun tersenyum.
Sang ibu bergegas berganti pakaian lalu menuju dapur untuk membuatkan makan malam. Ia biarkan Nara beristirahat sejenak di sofa tamu sedang dirinya sibuk memasak di dapur. Nara pun sambil menunggu makan malam, iseng membuka sosial medianya. Dan ia mendapati status Gabril yang membuat hatinya terenyuh.
Sontak hal itu membuat Nara segera menghubungi Gabril. Namun sayangnya, Gabril tidak menjawab panggilan telepon darinya.
Gadis itu memang manja sekali padaku. Semoga dia baik-baik saja selepas kepergianku dari manajemen. Mungkin ada baiknya jika aku menerima takdir daripada menyesali ataupun memberontaknya.
Tidak ada gunanya juga aku melawan, semua ini sudah dituliskan untukku. Dan mungkin ini adalah nasib yang harus kuterima dari perbuatanku dahulu. Semoga setelahnya Tuhan bisa memaafkanku dan memberikan kehidupan yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Nara menyadari jika tidak ada gunanya melawan kehendak Sang Maha Kuasa. Ia juga menyadari terlalu banyak kesalahan yang telah diperbuatnya dahulu. Sebelum kematian Yudo di tangannya pun, pria itu sempat berkata jika Shena telah menggugurkan kandungannya. Yang tak lain adalah anak Nara sendiri. Dan tak lama Rose pun ikut mengakhiri hidupnya, yang mana ia juga tengah mengandung anak dari Nara. Tapi, Nara belum mengetahui jika Shena meninggal kemarin juga sedang mengandung anaknya. Tiga janin harus berakhir begitu saja karena ulahnya.
“Nara!”
“Ya, Bu?”
Sang ibu memanggilnya dari dapur. “Kemari, Nak. Bantu ibu melepas cangkang kerang ini.” Shina kesulitan membuka cangkang kerang.
“Baik, Bu.” Nara segera bergegas ke dapur untuk menolong ibunya.
Malam ini keduanya menghabiskan waktu bersama setelah dua tahun lamanya hilang begitu saja diterpa musibah. Shina amat menyayangi putra semata wayangnya. Ia menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu kepada Nara. Tak ayal, sikap Nara menjadi manja ke ibunya. Sedang Shina tidak keberatan dengan kemanjaan putranya itu.
Nara, ibu berharap kau bisa ikut ke Hokkaido. Tapi jika masih tetap bersikeras untuk di Tokyo, ibu bisa apa? Semoga di sini kau bisa menemukan jalan hidupmu. Ibu akan selalu mendoakanmu, Anakku.
Malam ini dilalui keduanya dengan canda tawa. Nara dengan senang hati membantu ibunya memasak di dapur. Keceriaan itu sayangnya tidak dapat dirasakan oleh sang ayah, Shimura. Karena ternyata Shimura sedang terkena stroke ringan sementara. Dan mungkin hal itu adalah balasan yang setimpal baginya.
__ADS_1