Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Tidak Akan Terlupa


__ADS_3

Jam makan siang...


Hisei mendengar kabar jika Nara telah dikeluarkan dari pihak label rekaman. Tentunya hal ini merupakan kabar gembira untuknya. Pria yang berusia hampir lima puluh tahun itu tersenyum penuh kemenangan saat mendengar kabar ini langsung dari Michael. Ia kemudian lekas-lekas menutup teleponnya.


"Baiklah. Saatnya kita mulai permainan utama ini, Nara." Hisei menyeringai bak iblis kehausan darah.


"Tuan, apakah sudah bisa dipersiapkan sajiannya?" tanya seorang pengawal pribadi yang datang menghadap Hisei.


"Kau sudah tahu jadwal selanjutnya?" tanya Hisei kepada pengawal itu.


"Saat ini mata-mata masih membuntutinya. Dan kabar terakhir yang kami dengar, ibunya akan pulang ke Hokkaido malam ini. Jadi kita bisa melancarkan aksi balas dendam untuknya." Pengawal itu menuturkan.


"Em, baiklah. Kalau begitu terus buntuti dia. Jika ada kesempatan, segera bereskan. Aku tidak sabar mendengar kematiannya." Hisei tersenyum picik.


"Baik, Tuan." Pengawal itupun mengiyakan.


Hisei membuat rencana inti dari pembalasan dendam atas kematian putranya, Yudo. Ia ingin Nara merasakan apa yang putranya rasakan. Hisei bahkan ingin mendengar kabar kematian Nara. Baginya nyawa harus dibayar dengan nyawa.

__ADS_1


Apakah malam ini kau bisa selamat, Nara? Kita lihat saja nanti, bagaimana kabarmu selanjutnya.


Hisei beranjak pergi, meninggalkan ruangannya. Ia bergegas menuju studio pemotretan model majalah dewasa karena ingin bersenang-senang di sana.


Lain Hisei, lain juga dengan targetnya. Nara sedang makan siang bersama teman-temannya di kedai yang biasa menjadi tempat berkumpul mereka sehabis melakukan latihan.


Di kedai...


"Wah! Ramen ini memang tidak ada duanya, Paman. Terima kasih." Nara menyambut semangkuk ramen khas kedai ini.


"Kalau bisa kekompakan ini sampai ke anak cucu kami, Paman." Cherry menuturkan seraya tersenyum.


"Benar. Bagaimanapun kami keluarga." Sai ikut menambahkan.


"Hahahaha."


Nara, Sai dan Cherry tertawa bersama lalu mulai menyantap ramen khas kedai itu. Sementara Ken terlihat diam saja, ia seperti memendam kesakitan.

__ADS_1


"Hei, Ken. Apa kau sedang sakit perut atau sariawan?" canda Nara sambil merangkul temannya.


"Tidak, hanya saja ... sedari tadi sepatumu menginjak kakiku," sahut Ken segera.


"Hah?!" Sontak Nara terkejut lalu melihat ke bawah. "Astaga ... hahahaha." Ia pun tertawa tanpa memedulikan pengunjung kedai lainnya.


Ken segera menggeser kakinya. Nara benar-benar baru menyadari jika sedari tadi ia menginjak kaki Ken. Nara pun segera meminta maaf kepada temannya.


"Maafkan aku, Kawan. Kakimu memang enak sekali untuk diinjak. Sampai-sampai aku tidak lagi menyadarinya. Hahahaha." Nara tertawa lepas.


"Dasar pecundang!" Ken menggerutu.


Cherry dan Sai pun ikut menertawakan ulah Nara yang tanpa sengaja menginjak kaki Ken. Keduanya hampir tersedak makanannya sendiri kala melihat roman wajah sang kapten yang tiba-tiba berubah masam. Namun anehnya, Ken tidak berteriak kesakitan ataupun mencerca Nara. Ia malah membiarkan Nara sampai puas menginjak kakinya.


Entah kenapa aku merasa khawatir jika kebersamaan ini akan segera berakhir. Nara, semoga gelak tawamu bisa menghapuskan kesedihan yang melanda. Berjuanglah, Kawan. Kami selalu mendoakanmu.


Semilir angin siang menjadi saksi kebersamaan keempat personil D'Justice. Pemilik kedai pun tersenyum melihat begitu akrabnya cikal bakal penerus negeri sakura yang sedang mencari jati diri. Mereka pun akhirnya meneruskan makan siang sebelum berpisah karena urusan masing-masing. Tak lupa keempatnya juga berfoto bersama, menandakan persahabatan yang sudah terjalin solid sampai detik ini. Mereka adalah keluarga.

__ADS_1


__ADS_2