
"Kedatanganku kemari hanya ingin menyampaikan jika ...," Sesaat ucapan Nara terputus.
Rie masih menunggu perkataan Nara tanpa berani menyelanya.
"Hubungan kita cukup sampai di sini," lanjut Nara, kemudian berbalik ke arah Rie.
“Ap-apa?!”
Rie terkejut. Bukan perkataan putuslah yang ingin ia dengar dari Nara, melainkan permintaan maaf karena Nara telah mengacuhkannya beberapa minggu ini. Rie sakit hati, sakit karena cintanya harus berakhir.
"Jadi ... kau mengakhiri hubungan kita karena wanita itu?" tanya Rie pelan.
"Sudah cukup beralibi, Rie. Memang lebih baik menjadi orang yang berpura-pura tidak tahu saja." Nara mulai mengeluarkan amarahnya.
"Maksudmu?" Rie tidak mengerti.
Nara menghela napasnya, berusaha menormalkan detak jantung yang tidak stabil karena emosinya mulai naik.
__ADS_1
"Kau salah menilaiku. Kau hanya seorang pemain cinta, penikmat nafsu dunia yang tidak mempunyai hati. Kau tidak pantas untukku, Rie." Nara menahan kesal.
"Nara, aku ...."
"Keputusanku sudah bulat. Semoga saja nanti kau akan menemukan seseorang yang benar-benar mencintaimu. Tapi itu bukan aku."
Nara lalu berjalan melewati Rie yang sedang terdiam. Ia terus berlalu pergi tanpa peduli lagi dengan perasaan Rie. Namun, sebelum sampai langkah kakinya membuka pintu menuju lantai utama, Rie segera mengejarnya.
"Nara!"
Tangisannya mulai pecah karena ia tidak ingin kehilangan Nara, sosok pemuda yang mulai ia cintai. Rie kemudian menahan kepergian Nara dengan memeluknya dari belakang.
Nara tidak menjawab, ia malah melepas kedua tangan Rie yang melingkar di perutnya. Dan kemudian ia pergi begitu saja.
"Nara!" teriak Rie memecah keheningan malam.
Rie benar-benar terluka. Baru kali ini ada seorang pemuda yang pergi meninggalkannya begitu saja, seolah ia tidak memiliki arti apa-apa. Tetesan air matanya ternyata tidak berguna saat Nara telah membuat keputusan pahit untuknya.
__ADS_1
Nara ....
Rie menangis, ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai teras. Ia duduk sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Isakannya begitu menyentuh bagi siapa saja yang melihatnya saat itu. Sementara Nara, terus berlalu. Ia menarik Kazuo agar segera keluar dari klub malam.
"Hei, kawan! Aku baru saja mendekati para gadis di sini, kau sudah menarik kerah baju belakangku." Kazuo tidak terima dengan sikap Nara yang tiba-tiba mengajaknya pulang.
Nara hanya diam seribu bahasa. Ia bergegas kembali ke rumahnya bersama Kazuo dengan menaiki motor sport merah. Nara tidak ingin masalahnya diketahui oleh siapapun, termasuk Kazuo sekalipun. Baginya ini adalah tanggung jawabnya sendiri.
Andai saja aku tahu bagaimana Rie, mungkin aku tidak akan meninggalkan Shena. Shena ... maafkan aku.
Nara akhirnya memutuskan untuk membuka lembar kehidupan yang baru, ia tidak ingin lagi terbelenggu dengan semua permintaan Rie. Ia menginginkan kebebasan untuk dirinya sendiri.
Sementara Rie berjalan lemas ke meja bar. Ia memesan banyak botol minuman. Malam ini ia tidak lagi peduli atas apa yang akan terjadi.
"Nara, kau tega meninggalkanku. Kau harus bertanggung jawab atas perasaan yang hancur ini. Kau tega, Nara! Kau tega!"
Rie mulai mabuk di depan meja bar klub. Ia memegang gelas minumannya sambil meracau tak karuan. Tak lama Via dan Nana datang menghampiri. Keduanya segera membawa Rie keluar dari klub.
__ADS_1
"Hei, kalian! Sedang apa di sini, hah?!"
Semakin lama Rie semakin mabuk. Ia hampir saja terjatuh saat keluar dari dalam klub. Via dan Nana pun segera membawa Rie masuk ke dalam mobilnya.