
"Jika kau ingin menghinaku, hinalah aku sepuasnya! Tapi tidak ibuku!" ancam Nara kepada Ken. Ia mulai emosi saat nama ibunya disangkutpautkan oleh Ken.
"Semua yang kuucapkan itu adalah benar, Nara! Rie yang menghasut ayahmu agar membuat ibumu seolah-olah sudah gila!" Ken berucap dengan nada sedikit berteriak.
Sontak saja hal itu membuat Nara terkejut bukan main. Ia tidak menyangka akan mendengar hal ini.
"Darimana kau tahu akan hal itu? Dari mana?!" tanya Nara yang amarahnya mulai memuncak sambil mengguncang tubuh Ken.
"Karena ayahku lah yang menangani kasus kedua orang tuamu," jawab Ken kemudian.
Mendengar hal itu, Nara melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Ken. Ia kemudian duduk termenung di atas sofa.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan? Kau masih ingin liar seperti ini?" Ken bertanya dengan nada yang lebih pelan.
Nara terdiam sejenak...
"Di mana Rose?" Iapun teringat dengan Rose.
"Jasadnya sedang diotopsi oleh pihak rumah sakit. Dan hanya ini yang ayahku temukan saat olah TKP."
Ken memberikan secarik kertas berisi tulisan Rose yang terakhir.
__ADS_1
Nara kemudian mengambilnya, membaca dan mencoba memahami akan maksud tulisan tersebut. Dan tanpa banyak bicara, ia kemudian meminta Ken untuk mengantarkannya menemui Rose.
"Bawa aku menemuinya!" pinta Nara, lalu keduanya berjalan keluar ruangan.
Satu jam kemudian...
Kabar mengenai kematian Rose ditutupi dari awak media. Ken meminta agar hanya Nara dan dirinya saja yang mengetahui hasil otopsi.
"Maaf, tapi hal ini harus aku katakan."
Shizu sebagai kepala tindakan proses otopsi, mulai mengutarakan hasil otopsi yang dilakukan oleh timnya. Di hadapan Ken dan Nara yang duduk serius, Shizu menuturkan.
Apa?!!!
Bak disambar petir, bukan main terkejutnya Nara mendengar perihal tentang Rose.
"Nona Rose depresi, ia sengaja bunuh diri dengan menghirup zat karbon dari bricket yang dilemparkan ke perapian. Selain itu, tidak kami temukan bekas luka, memar atau yang lainnya," lanjut Shizu kepada keduanya.
Nara terpukul mendengar penuturan tentang Rose. Ia merasa menjadi lelaki bajingan yang tidak pantas hidup lagi. Rose telah mengakhiri hidup dan calon buah hati karena ulahnya.
"Ak-aku ini ... manusia atau iblis?" Nara bertanya sendiri.
__ADS_1
Di tempat itu juga, Nara menangis. Air matanya sudah tidak dapat terbendung lagi.
"Rose ... nona Rose ...." Nara memegangi kepalanya, ia depresi.
"Nara." Ken memegang pundak Nara.
Nara frustrasi, ia kembali mengulangi kesalahan yang sama. Pikirannya kini diselimuti penyesalan yang teramat dalam. Dan dengan segera ia berlari menuju tempat di mana jasad Rose berada.
"Nara!!!"
Ken berusaha menahan, tapi hal itu tidak dapat dilakukannya. Nara dengan segera berlari, mencari di mana ruangan tempat jasad Rose berada.
Malam itu pun menjadi duka teramat dalam baginya. Ia dirundung perasaan bersalah yang bertubi-tubi. Namun, apalah daya semua sudah terjadi.
Dia mengandung anakku. Nona Rose, maafkan aku ....
Nara terus saja berlari dengan air mata yang jatuh. Ia menyesali perbuatannya. Merasa tak layak hidup karena telah membiarkan Rose dan janinnya mati. Nara depresi.
Ken sendiri menahan kesedihannya. Ia tidak menyangka jika hal ini akan terjadi pada temannya. Seandainya saja bisa mencegah, tentunya Ken akan mencegahnya. Tapi, semua sudah terlambat.
Semoga arwah nona Rose diterima di sisi-NYA. Doa Ken dalam hati.
__ADS_1