
Malam harinya di rumah Nara, basecamp D'Justice...
Malam ini cuaca tampak cerah. Tak ada hujan ataupun awan mendung yang berarak. Keempat personil D'Justice pun tengah duduk melingkar sambil memegangi tiga buah kado di tangannya. Rupanya mereka mengadakan tukar kado setelah mendapatkan gaji pertama.
"Baiklah, sekarang giliran Cherry." Pemuda berkaus orange dan celana pendek hitam itu memberi kado kepada Cherry yang sedang duduk santai di hadapannya.
"Kau jangan menjebakku, Nara!" Cherry takut jika kado yang diberikan Nara adalah jebakan untuknya.
"Hahahaha." Nara tertawa, bagaimanapun sikap usilnya akan selalu diingat oleh Cherry.
"Ini dariku, Sayang."
Ken ikut memberi. Pemuda bersweter putih lengan panjang itu tampak semringah saat memberikan kado kepada kekasihnya.
"Ini juga dariku."
Sai juga ikut menyerahkan kado mini kepada Cherry. Ia tampak kalem dengan kaus putih dibalut kardigan hitamnya.
Cherry lalu membuka satu per satu kado yang ia terima. Gadis berkaus merah itu harap-harap cemas saat membuka kadonya. Dan betapa terkejutnya saat ia mengetahui isi dari kado ketiga personil D'Justice untuknya.
"Eh, mengapa semuanya memberiku perhiasan?" Cherry bingung, ia menoleh ke arah ketiganya.
"Bukannya wanita memang menyukai perhiasan, ya?" Nara balik bertanya.
__ADS_1
"Hima juga kuberi kado seperti ini. Dia senang bukan main, Cher." Sai menambahkan.
"Sini kupakaikan." Ken kemudian mengambil kado berupa kalung darinya untuk dipakaikan kepada Cherry.
"Sai, peluk aku. Aku tidak sanggup melihat kemesraan kedua orang ini." Nara melirik ke arah Ken yang mulai memakaikan kalung perak kepada Cherry.
"Hih, kau mengerikan sekali, Nara!"
Sai menolak, ia menjauh. Apalagi saat kardigan hitamnya ditarik oleh Nara. Seperti terjadi pemaksaan yang tidak diinginkannya.
"Lepaskan aku!" Sai merasa jijik dengan ulah usil Nara.
"Hei, kalian ini! Berisik!" Cherry kesal melihat kebodohan kedua temannya.
"Itu deritamu, Nara. Hahahaha." Sai menertawakan Nara.
"Sai!" Nara kesal lalu bangkit mendekati Sai.
"Oh, tidak!" Sai bangun dari duduknya lalu segera kabur.
"Sai, kemari kau!" Nara kemudian mengejar Sai.
"Ti-dak! To-tolong!"
__ADS_1
Sai dan Nara berkejaran layaknya bocah SD di hadapan Ken dan juga Cherry. Cherry pun hanya bisa menghela napas melihat tingkah kedua temannya itu. Ingin rasanya ia melempar keduanya dengan kado yang ia pegang. Tapi ia sudah berjanji kepada Ken untuk menjaga sikapnya. Tidak lagi asal seperti dulu.
"Huuft!" Cherry mengembuskan napas sambil menutup kedua matanya.
"Kau tampak cantik memakai liontin ini, Sayang." Ken memuji kecantikan Cherry saat melihat kekasihnya dari arah depan.
"Em, benarkah?" Cherry tersipu.
"He-em."
Ken mengangguk lalu mengusap kepala Cherry dengan lembut. Seketika Cherry merasa tenang dan juga damai.
Untung saja ada Ken yang meredam amarahku, kalau tidak ... kedua anak itu!
Cherry kesal sendiri melihat kelakuan Nara dan Sai yang masih berkejaran di hadapannya. Ia tidak henti-hentinya mengelus dada. Untung saja Ken selalu dapat bisa menenangkan hatinya. Kalau tidak, pastilah kedua temannya itu sudah dilempari bom waktu olehnya.
"Nara, lepaskan!" Akhirnya Sai tertangkap juga oleh Nara.
"Kena kau ya, Sai! Sini kucium dulu!" Nara mulai berulah.
"Jijik! Ken, tolong aku!"
Sai meminta bantuan Ken agar bisa terlepas dari Nara. Ken pun tertawa melihat tingkah kedua temannya itu. Sedang Cherry, menepuk dahinya sendiri.
__ADS_1
Hah ... mereka itu. Cherry tak habis pikir dengan ulah keduanya.