Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Mengejar Mimpi


__ADS_3

Akhirnya, setelah ia berhasil mengunci pintu rumahnya, Nara ikut masuk ke dalam mobil Cherry untuk menuju gedung pentas kesenian Jepang. Dan perjuangan mereka pun dimulai dari sini.


Ini saatnya meraih impian yang sudah lama aku idam-idamkan.


Nara menyemangati dirinya, berusaha fokus meraih cita. Besar harapannya jika festival musik yang diadakan setiap dua tahun sekali ini dapat membawanya menuju kesuksesan. Ia ingin membuktikan kepada dunia jika mampu meraih sukses di usia muda. Nara adalah tipekal pejuang sejati.


"Hah, kalian ini lama sekali," gerutu Cherry saat semuanya sudah masuk ke dalam mobil. Ia kemudian melajukan mobilnya.


"Maaf, Cher. Kadang ada kendala yang terduga." Sai menyahuti.


Di perjalanan...


Cherry menyetir mobilnya. Di sampingnya duduk sang kekasih, Ken. Di belakang Ken ada Nara dan juga Sai. Mereka kompak mengenakan kaus putih berlambang timbangan hitam.


Ken dan Sai sama-sama mengenakan jeans berwarna biru, sedang Nara mengikuti Cherry mengenakan jeans berwarna hitam. Mereka juga mengenakan sepatu sport berwarna putih, sangat kompak terlihat.

__ADS_1


"Baiklah, lagu ciptaan ini jangan sampai salah nada ya, Nara."


Cherry melihat Nara dari kaca depan mobil. Ia terus mengemudikan laju mobilnya.


"Ya, ya. Kau tenang saja," jawab Nara yang masih melafalkan nada.


Lagu ciptaan mereka sendiri akan dinyanyikan secara berduet, oleh Cherry dan juga Nara. Menceritakan tentang penyesalan atas kesalahan yang telah diperbuat.


"Aku pikir lagu ciptaan Ken ini terinspirasi dari kisah Nara," celetuk Sai tiba-tiba.


Sai nyengir tidak karuan. Sesungguhnya ia hanya sedang bergurau. "Tidak, tidak. Hanya saja ...." Sai berusaha meneruskan perkataannya.


"Sepertinya kalian sudah semakin akrab ya, Nara. Atau kau yang telah berselingkuh?" canda Ken sambil menoleh ke arah belakang, tempat Nara duduk.


"Ya baguslah kalau begitu, Ken. Kau menduakanku dengan bocah batangan sepertinya." Cherry tidak mau kalah, ia ikut bicara.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu!" Nara membenarkan sikap duduknya. "Apa maksud dari perkataan kalian ini? Kalian berusaha mengejekku yang baru saja putus apa?!" Nara berapi-api.


"Hahahaha ... itu benar." Sai menjawab dengan jujur.


"Bisa juga kau menjomblo, Nara," kata Cherry sambil membelokkan stir mobilnya ke kiri.


Ken tertawa kecil menanggapi pertanyaan untuk Nara. Ia mencoba menghibur sang teman dengan cara mengejeknya. Untung saja, Nara dapat menyeimbangi sikap teman-temannya. Karena persahabatan tanpa bumbu pertengkaran bagai sayur tanpa garam. Hambar terasa.


Satu jam kemudian...


Satu jam perjalanan mereka tempuh dengan mengambil jalur cepat. Maklum saja, acara seleksi band kampus seantero Jepang itu dimulai pada pukul sembilan pagi. Dan Cherry adalah tipe wanita yang disiplin, sehingga menurutnya lebih baik datang di awal daripada terlambat. Ya, walau terkadang ia tidak dapat memprediksikan waktu.


Nara, Ken, Sai dan Cherry tiba di gedung pentas kesenian Jepang pada pukul 8.30 pagi. Mereka lalu duduk di area tunggu, sebelum acara dimulai. Tampak lalu-lalang para peserta yang akan segera beradu di depan juri. Ken dan teman-temannya pun tidak mau kalah.


"Kita harus masuk semifinal hari ini. Kita pasti bisa!" Ken meyakinkan anggota band-nya.

__ADS_1


Semangat perjuangan itu tidak pernah padam. Karena di saat kita menyerah, di saat itulah cerita akan berakhir. Jadi teruslah berjuang menggapai mimpi. Semangat!


__ADS_2