
Keesokan harinya...
Pagi-pagi personil D'Justice bertemu kembali dengan Lusy. Sosok wanita yang akan selalu menyertai ke dalam setiap langkah band runner-up ajang festival dua tahunan ini.
Nara, Ken, Cherry dan Sai baru saja menandatangi kontrak kerja samanya dengan pihak Sony Music Entertainment Jepang, di atas selembar materai sebagai kesepakatan yang akan terjalin. Setelahnya, mereka diantar Lusy ke sebuah ruang latihan.
"Baiklah, Anak-anak. Aku ucapkan selamat bergabung dengan Sony Music Entertainment. Ini adalah ruangan pribadi untuk kalian. Ruangan yang berisi alat-alat musik sebagai tempat kalian berlatih." Lusy menunjukkan ruangan khusus untuk D'Justice.
"Kalian harus menjaga dengan baik ruangan ini. Karena jika ditemukan kerusakan pada salah satunya, kalian harus mengganti rugi sepenuhnya. Kunci ruangan akan aku serahkan kepada Ken." Lusy menyerahkan kunci kepada Ken sebagai lead band.
"Dalam dua minggu ke depan, kalian harus menyerahkan satu lagu berbahasa Inggris untukku, lengkap dengan aransemennya. Kita akan segera membuat vidio klip untuk single pertama kalian. Dan aku ingin formasi band berubah. Nara menjadi vokal satu dan Cherry vokal dua. Kau tidak keberatan kan, Cantik?" tanya Lusy kepada Cherry.
__ADS_1
Cherry pun menjawabnya, "Ti-tidak, Nona Lusy," jawab Cherry yang gugup.
"Baguslah kalau begitu. Kita akan pergi ke salon hari ini untuk menata penampilan kalian. Persiapkan diri, tiga puluh menit lagi aku akan menemui di parkiran," lanjut manajer bertubuh seksi, ia lalu beranjak meninggalkan ruangan.
Ruangan khusus D'Justice ini memiliki luas yang mumpuni sebagai tempat latihan Nara dan kawan-kawan. Sebuah ruangan yang hanya dikhususkan untuk D’Justice karena telah berhasil menjadi runner up di musim ke dua, festival musik band kampus seantero Jepang. Langsung diadakan oleh Kekaisaran untuk mendukung aktivitas seni di negerinya.
"Haaah, kenapa saat berada di dekatnya, aku gugup sekali." Cherry mengeluhkan perasaannya.
"Jangan pernah melihat seseorang hanya dari luarnya saja. Dia bersikap seperti itu karena menginginkan band kita sukses." Ken memberikan pendapatnya.
"Tapi ucapannya itu sangat menyakitkan hati, Ken. Apa setiap manajer bersikap sepertinya?" tanya Nara kepada Ken dan teman-temannya.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin seperti itu,” jawab Cherry yang tak mengerti.
"Sudah-sudah. Kita ikuti saja semua arahannya jika berkaitan dengan kemajuan band ini. Tugas kita hanya fokus dengan karya yang dihasilkan." Ken berusaha menengahi permasalahan yang ada.
"Sebenarnya tugas seorang manajer itu lebih berat. Mereka dituntut untuk membuat band-nya berhasil masuk ke industri musik dan diterima banyak orang. Aku rasa nona Lusy akan berjuang keras untuk band ini. Karena saingan kita Black Pepper sendiri." Sai ikut menuturkan.
"Ya, itu benar, Sai. Mari kita bersiap. Let's go!" Ken menepuk bahu teman-temannya agar segera bersiap.
D'Justice merubah formasi atas kesepakatan pihak label rekaman. Nara ditunjuk menjadi vokal pertama dan Cherry sebagai vokal ke dua. Backing vokal sendiri dipegang oleh Sai. Pihak Sony Music menginginkan D'Justice mempunyai dua vokalis untuk menunjang karir mereka.
Di hari itu, mereka menjalani perawatan tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki untuk menunjang penampilan. Dan semua itu dibiayai penuh oleh pihak label sendiri. Tentunya segala sesuatu pekerjaan membutuhkan modal yang mumpuni. Karena tidak ada yang gratis di dunia ini.
__ADS_1